• Home
  • 08 Desember 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Buku
  • Selingan
    • Layar
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 08 Desember 2003
    Hayao Miyazaki

    Pergulatan Mencari Karakter

    Pada 1958, seorang siswa SMA di Jepang menangis menonton film kartun Hakujaden (Legenda Ular Putih). Tragedi siluman berparas cantik itu menyentuh emosinya. Sejak saat itu ia bertekad menjadi pencipta komik, membuat animasi yang tak bakal dilupakan anak-anak. Sempat ia menjadi penulis naskah drama absurd—sesuatu yang berkonotasi intelektual dan pada 1970-an sedang in di kalangan dramawan Jepang. Tapi ia merasa tak cocok. Itulah Hayao Miyazaki, yang filmnya, Spirited Away, meraih Oscar 2003. Lahir pada 5 Januari 1941 di Akebono-Cho, Tokyo, ayahnya adalah direktur perusahaan yang membuat kemudi bagi bomber-bomber Jepang, sehingga Miyazaki kecil pintar menggambar pesawat. Lulus Fakultas Ekonomi Universitas Gakushuin, pada 1963, ia lalu menjadi animator. Para jagoan animasi Hollywood seperti Rony Bancroft, sutradara Mulan, atau Kirk Wise, Beauty and the Beast, mengakui karya-karya Miyazaki memiliki kedalaman tersendiri dibanding animasi Jepang lain. Ramai-ramai aktris Gillian Anderson (X-Files), Minnie Deriver (Good Will Hunting) mengisi suara untuk filmnya: Princess Monokoke adalah bukti dari itu. Film yang DVD-nya sudah beredar di Jakarta ini berkisah tentang seorang gadis yang diasuh dua serigala putih. John Lasseter, su-tradara Toy Story, mengaku sangat "berutang" pada film-film Miyazaki. "Saat kami bekerja dan tiba-tiba ide macet, saya selalu mengambil salah satu film Miyazaki, menontonnya, dan pasti menemukan solusinya," demikian ia menulis. Satu di antara kekhasan Miyazaki, menurut para pengamat, adalah kemampuannya menjangkau dunia batin. Dalam istilah Paul Dini, sutradara dan produser seri Batman dan Superman, film Miyazaki mampu mentransendensi tindakan-tindakan lahiriah para tokohnya. Kini Miyazaki memimpin studio Ghibli—disebut-sebut sebagai studio animasi terbaik di Jepang. Lebih dari 80 animator, rata-rata anak muda 18-25 tahun, bekerja di bawah bimbingannya. Miyazaki gigih berpendapat, animasi Jepang mampu memiliki style berbeda dari Walt Disney. Hal-hal dasar seperti gerak, misalnya, mendapat perhatian seriusnya. Selama ini Walt Disney menganggap gerak-gerik tokoh kartun lebih cocok bila sedikit didramatisasi, seperti gerak-gerik pemain teater. Lihatlah Putri Salju, Cinderella, atau Peter Pan: gesturkulasinya seperti penari balet dan cenderung musikal. Sebaliknya, Miyazaki tertarik mengembangkan gerak-gerik natural, tak dilebih-lebihkan, realistis. Yang ingin ditonjolkan Miyazaki adalah karakter. Untuk melukiskan pesona seorang tokoh, animasi Walt Disney butuh banyak visualisasi ekspresi muka—mata, mulut, hidung, alis—atau tangan. Miyazaki lebih cenderung menampilkan satu gerakan, tapi yang mampu menyinarkan seluruh pesona itu. Baginya, Walt Disney terlalu ekspresionis, terlalu eksesif, dan cerewet. Kepada para animatornya, Miyazaki selalu menekankan, bahkan "figuran" yang muncul sekelebat pun harus tampil karakternya. Ada yang menuding sikap "irit" gerak itu siasat menekan biaya produksi. Mungkin benar. Tapi ingatlah seorang samurai dalam Seven Samurai Akira Kurosawa, yang perangainya diam, dingin, tenang, tapi terpancar kegaharannya. Miyazaki, agaknya, mencari ekspresi yang tumbuh dari irama tubuh manusia Jepang sendiri. "Mengapa lelaki berkulit putih di atas pohon, tidak berdiri di tanah saja?" ia bertanya, seperti diceritakan wartawan majalah Anime, ketika Miyazaki menonton satu film animasi Hollywood. Miyazaki berusaha sekeras mungkin menghindari nuansa rasisme, sesuatu yang menurut dia sering tak sadar ada dalam film. Kini industri animasi menjadi tulang pungung dunia permainan elektronik (game), sesuatu yang menurut dia wajar. Tapi ia prihatin, makin lama bahasa game cenderung ke tema kekerasan. "Salah satu bagian paling sulit saat membuat film adalah menentukan mengapa seorang tokoh menjadi bajingan," katanya. Sementara itu, dalam dunia game, gambarannya selalu hitam-putih. Ada satu adegan Legenda Ular Putih yang terekam terus di benaknya. "Mengapa kamu mencintai manusia?" tanya Raja Naga ke Siluman Ular Putih. "Manusia memiliki jiwa, itu yang tidak kita punyai." Jawaban siluman ayu itu, seperti dikatakan Miyazaki dalam pidatonya di Nagoya Cinema Festival 1988, tentu meleset. Kenyataannya, banyak manusia justru tak memiliki belas kasihan. Miyazaki masih sering ingat kejadian di malam buta Juli 1945, saat Utsonomiya, kotanya, dibombardir pesawat-pesawat Sekutu. Ia, beserta ibunya yang menggendong adik bayinya, tunggang-langgang. Itulah sebabnya filmnya sering menampilkan dunia makhluk halus lebih welas asih daripada dunia kita. Seno Joko Suyono

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Pelantikan

Herman Prayitno dan Djoko Sumaryono

Buku

Australia di Mata Kritikus (Australia)

Aku Berpikir Maka Aku Ada

Dari Rekreasi hingga Reli

Catatan Pinggir

Dhanu

Layar

Bergerak Bersama Dunia Imajinasi Bernama Animasi

Bertualang di Kota Para Roh

Hayao Miyazaki

Pergulatan Mencari Karakter

TEMPO|interaktif

KPU Tetapkan DPT Pekan Depan  

Kapolda Tetap Tolak Konser Lady Gaga

Olahraga

Martinez Kian Merapat ke Anfield

Teknologi

Tim Mobile Health ITB ke Final Kejuaraan Dunia

Teknologi

NetApp Indonesia Resmikan Kantor Baru

Inilah Para Calon Pengganti Paul Si Gurita

Olahraga

Robbie Fowler Hadapi Indonesia All-Stars Masters

Bisnis

Stop Ekspor Mineral, Indonesia Ditekan Asing

Olahraga

Mitra Kukar Cukur Gresik United 4-1

Teknologi

Penyebar Malware Angry Birds Didenda

Otomotif

Hambat Importir Umum, BMW Didenda Rp 1,5 Triliun

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif