Iblis dan Panggung untuk Chaidar
Ucapan Hendro saat mewakili Megawati memancangkan tiang pertama pembangunan Gedung Dr. Ahmad Soekarno itu, pertengahan Mei silam, tidak sekadar memantulkan gaung kosong di tembok-tembok pesantren megah di Desa Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat itu. Dikuatkan rekaman dalam cakram video (VCD) yang kini beredar terbatas, seruan dan amarah Hendro akhirnya sampai ke telinga Al-Chaidar, berbulan kemudian. Entah karena merasa tudingan soal iblis itu terarah ke dirinya atau faktor Hendro sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Al-Chaidar setelah itu mengaku diliputi rasa takut.
Puncaknya, awal pekan lalu penulis buku Sepak Terjang NII KW 9 Abu Toto ini melaporkan Hendro ke Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri, didampingi kuasa hukumnya, Hudi Yusuf. Chaidar datang berbekal bukti rekaman VCD, majalah dua mingguan Medium Edisi 17 tanggal 8-21 Oktober 2003, dan majalah bulanan internal Al-Zaytun Nomor 31, 2003, yang memuat artikel berjudul Pembelaan Seorang Kepala Mata-Mata. Menurut Chaidar, Hendro tidak hanya mengancam tapi juga telah menghinanya. Alasannya, dalam rekaman, Hendro jelas-jelas menyatakan buku-buku yang dianggapnya menghujat Al-Zaytun itu sebagai "buku iblis". Sebagaimana diketahui publik, Chaidar adalah penulis buku Sepak Terjang NII KW 9 Abu Toto, yang isinya sangat menentang keberadaan Al- Zaytun.
Persoalannya, benarkah Chaidar yang dibidik sang Kepala BIN. Bila ya, apa sebabnya. Pertanyaan itu patut mengemuka karena tidak hanya Chaidar seorang yang sangat giat menentang Al-Zaytun. Nama seperti Umar Abduh, Amin Djamaluddin, dan Forum Ulama Umat Islam juga telah menerbitkan buku yang menyerang keberadaan pesantren ini.
Umar Abduh, penulis buku Membongkar Gerakan Sesat NII di Balik Pesantren Mewah Al-Zaytun, yakin ucapan itu tidak secara khusus ditujukan kepada Chaidar. "Kata iblis itu buat kami semua, bukan cuma dia," katanya. Ia mengaku tidak memusingkan hujatan tersebut. "Ah, tidak ada ruginya disebut iblis oleh Hendro," katanya sambil tertawa lebar. Yang disesalkan Umar, dalam kapasitasnya sebagai Kepala BIN, bahkan mewakili Presiden Megawati Soekarnoputri, Hendro berbicara seolah tanpa kontrol. "Dengan pernyataan itu, terkesan ia tidak lagi menggunakan nalarnya sebagai Kepala BIN," kata Umar.
Khusus untuknya atau tidak, Chaidar juga tidak terlalu mempersoalkan. Ia mengaku, awalnya mencoba mengajak para penulis buku sejenis bergabung menghadapi Hendro. Tetapi, karena responsnya mengecewakan, ia memutuskan mengambil jalan sendiri. "Masa, ada yang menyebut saya dolanan (main-main)?" katanya.
Lalu apa tujuan Chaidar melaporkan Hendro, bahkan bertekad menindaklanjutinya dengan gugatan perdata? "Saya perlu panggung," katanya mengaku. Tepatnya, sebuah ruang wacana untuk mengangkat ide Negara Islam Indonesia, yang menurut dia belum selesai. "Sebagai pendukung NII, saya perlu itu semua," katanya. Chaidar menolak tudingan bahwa keuntungan materilah yang menjadi tujuannya. Baginya, makin lama Hendro tidak mengacuhkannya, makin lama pula panggung itu berdiri.
Hendro sendiri tampaknya tidak mengacuhkan pelaporan dirinya tersebut. Ketika ditanya saat acara peluncuran sebuah buku tentang intelijen, ia mengaku tak lagi mampu mengingat peristiwa itu. "Apa iya saya ngomong begitu?" ia balik bertanya. "Soal menggugat, silakan saja," ia menambahkan.
Darmawan Sepriyossa dan Ivansyah (Indramayu)
