• Home
  • 22 Desember 2003
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Televisi
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 22 Desember 2003
    Ulang Tahun

    Toeti Heraty Noerhadi Rooseno, 70 tahun

    Usia 70 tahun tampaknya menjadi titik waktu istimewa bagi Toeti Heraty Noerhadi Rooseno. Budayawan dan guru besar filsafat kelahiran Bandung itu merayakan hari ulang tahunnya dengan rangkaian acara khusus. Ada penanaman pohon, peluncuran buku, ada pula pergelaran konser.

    Puncak perayaan digelar di Ballroom Oktroi Plaza, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu pekan lalu. Untuk menandai acara puncak itu, putra-putri, kerabat, dan kolega Toeti meluncurkan buku Pawai Kehidupan. Buku setebal 348 halaman ini berisi tulisan yang dihadiahkan orang-orang yang mengenal Toeti, antara lain sosiolog Arief Budiman, praktisi hukum Adnan Buyung Nasution, profesor filsafat Kees Berten, dan Frans Magnis Suseno. Judul buku diambil dari salah satu puisi Toeti.

    Pada malam yang sama, wanita kelahiran Bandung, 27 November 1933 itu meluncurkan buku Pencarian Belum Selesai (fragmen otobiografi) dan A Time, A Season (kumpulan pilihan puisi). Toeti membagi-bagikan ketiga bukunya sebagai cendera mata untuk tamu undangan yang umumnya teman-teman Toeti dari kalangan akademis dari dalam dan luar negeri.

    Dalam kesempatan itu diputar rekaman video yang melukiskan kehidupan Toeti, serta komentar dari orang-orang dekatnya. Yang memberikan komentar antara lain bekas Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, pematung Dolorosa Sinaga, aktivis hak asasi manusia Munir, dan bekas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan.

    Selama ini, Toeti dikenal luas dengan berbagai predikat. Mulai dari pengelola galeri seni, guru besar fisafat, penulis puisi, penulis esai, hingga wanita pengusaha. Keragaman disiplin ilmu yang pernah dituntutnya di masa lalu—pernah mendalami ilmu kedokteran, meloncat ke psikologi, ke filsafat—hingga urusan hak paten yang menuntunnya ke dunia bisnis telah mematangkan Toeti untuk tampil sebagai sosok wanita sukses saat ini.

    Di dunia akademis, Toeti bisa disebut telah mencapai puncaknya. Meraih gelar doktor filsafat pada 1979, lalu pada 1994 ia didaulat menjadi guru besar luar biasa di Jurusan Filsafat, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Di samping menjadi Ketua Jurusan Filsafat UI, ia juga pernah menjadi Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

    Kiprah di dunia bisnis diawali jerih payah Toeti selama bertahun-tahun dalam mengurus paten temuan ayahnya, Prof. Dr. Ir. Rooseno Soerjohadikoesoemo, ke Inggris, Amerika Serikat, dan Jepang. Itu pula yang mendorongnya ikut berkiprah di Biro Oktroi Rooseno, perusahaan pertama yang mengurusi hak paten di Indonesia, tempat Toeti menjadi direktur utamanya sejak 1975.

    Dari pernikahannya dengan Eddi Noerhadi (almarhum), Toeti dikaruniai tiga putri dan satu putra. Di usianya yang memasuki senja, saat menyambut tamunya pekan lalu, Toeti tetap bugar dan ceria. Di tengah kesibukannya sehari-hari, Toeti pun selalu berupaya berbagi waktu dengan delapan cucunya.


    ”Saya merasa jadi rakyat nomor dua.”
    — Alex Komang, aktor, di Jakarta pada Rabu malam pekan lalu, setelah pemerintah memutuskan tak akan meminta tambahan kuota haji dari Arab Saudi dan menyebabkan dia gagal berangkat ke Mekah tahun depan.

    ”Ini mau membentuk panti jompo atau mau memberantas korupsi?”
    — Amien Sunaryadi, di DPR pada Senin pekan lalu, saat uji kelayakan untuk pencalonannya sebagai pemimpin Komisi Pemberantas Tindak Pidana Korupsi. Amien menyatakan akan mundur jika yang terpilih ada yang berusia di atas 60 tahun. Ia tak jadi mundur setelah mendapat masukan dari sejumlah kalangan.


    Tempo Doeloe

    22 Desember 1929
    Pasukan Uni Soviet meninggalkan Manchuria setelah tercapai gencatan senjata dengan Cina dalam perselisihan mengenai jaringan kereta api. 22 Desember 1972
    Gempa bumi berkekuatan 6,25 skala Richter mengguncang Managua, Nikaragua, dan lebih dari 12 ribu orang tewas. Presiden Somoza belakangan diduga menilap jutaan dolar bantuan asing.

    23 Desember 1688
    Raja James II dari Inggris melarikan diri ke Prancis.

    23 Desember 1919
    Inggris menyusun konstitusi baru bagi India.

    24 Desember 1818
    Lagu Silent Night (Malam Kudus) digubah oleh Franz Joseph Gruber.

    24 Desember 1906
    Dokter Reginald A. Fessenden dari Kanada menjadi orang pertama yang menyiarkan program musik di radio, dari Brant Rock, Massachusetts.

    24 Desember 1936
    Pengobatan dengan isotop radioaktif untuk pertama kalinya dilakukan di Berkeley, California.

    25 Desember 336
    Perayaan Natal pertama yang tercatat dalam sejarah berlangsung di Roma. Sejak hari ini, tanggal 25 Desember ditetapkan dalam Liturgi Gereja Roma sebagai hari lahir Yesus.

    25 Desember 1915
    Di medan perang dekat Laventie, tentara Prancis, Inggris, dan Jerman saling bertukar ucapan selamat, rokok, dan bermain bola.

    26 Desember 1941
    Winston Churchill menjadi Perdana Menteri Inggris pertama yang berpidato dalam sidang Kongres Amerika Serikat.

    27 Desember 1945
    Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank untuk Rekonstruksi dan Pembangunan dibentuk.

    28 Desember 1908
    Sebanyak 80 ribu orang tewas akibat gempa bumi di Messina, Sisilia. Pemerintah Italia menyewa sejumlah kapal uap untuk mengungsikan orang-orang yang selamat ke Amerika.

    28 Desember 1973
    Alexander Solzhenitsyn menerbitkan Gulag Archipelago, sebuah pendedahan mengenai sistem penjara di Soviet.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Ulang Tahun

Toeti Heraty Noerhadi Rooseno, 70 tahun

Buku

Kalau Politik Membaca Komik

Catatan Pinggir

Saddam

Televisi

Somad dan Cinta pun Bermetamorfosis

TEMPO|interaktif

Olahraga

Patrich Wanggai Bela Indonesia Selection  

Oezil Ingin Bawa Jerman Juarai Euro 2012

Metro

Polisi Temukan Motor Perampok Penembak Satpam IPB  

KPU Tetapkan DPT Pekan Depan

Kapolda Tetap Tolak Konser Lady Gaga

Olahraga

Martinez Kian Merapat ke Anfield

Teknologi

Tim Mobile Health ITB ke Final Kejuaraan Dunia

Teknologi

NetApp Indonesia Resmikan Kantor Baru

Inilah Para Calon Pengganti Paul Si Gurita

Olahraga

Robbie Fowler Hadapi Indonesia All-Stars Masters

Bisnis

Stop Ekspor Mineral, Indonesia Ditekan Asing

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif