• Home
  • 05 Januari 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Televisi
    • Gaya Hidup
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
    • Layar
    • Iqra
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 05 Januari 2004
    Meninggal

    Gendut Riyanto, 48 tahun

    Dunia seni rupa Indonesia kehilangan satu tokohnya, Gendut Riyanto. Ia meninggal Senin pagi pekan lalu setelah tiga hari terbaring sakit di rumah tinggalnya, di Jalan Wijaya Kusuma V, Cikunir, Bekasi, Jawa Barat. Jenazah Gendut dimakamkan di pe-makaman umum Kompleks BRI Cikunir, Senin siang. Gendut dikenal sebagai pelukis yang juga menekuni sastra. Ia paling banyak dikenang koleganya karena aktivitasnya dalam Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB), gerakan yang menggugat konvensionalisme seni rupa pada paruh kedua 1970-an. Semasa kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta-kini Institut Seni Indonesia (ISI)-Gendut pun aktif di Kelompok Kepribadian Apa (Pipa). Gendut tergolong perupa yang tak terpaku pada satu jenis karya. Ketika menekuni lukisan, Gendut menjadi satu dari sedikit seniman yang punya kecenderungan pada aspek grafis, terutama grafis yang dihasilkan komputer. "Waktu itu belum banyak perupa yang tertarik pada komputer," kata Jim Supangkat, yang beberapa kali menggelar pameran bersama Gendut. Bersama Nyoman Nuarta dan S. Malela, Gendut pernah menggelar pameran berjudul The Silent World di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 13-18 Oktober 1989. Pameran itu disebut sebagai "Pameran Seni Rupa Baru Proyek 2". Proyek pertama digelar pada 1987 di Pasaraya Dunia Fantasi, Jakarta. Dua pameran ini dianggap sebagai wujud keberadaan kelompok seni rupa baru itu. Bagi Gendut, itu baru pe-manasan. Karya Gendut yang dipamerkan di Jakarta kemu- dian disertakan pada Australia and Regions Artists Exchange (ARX), di Perth, Australia, 3-15 Oktober 1989. ARX merupakan arena per- tukaran pikiran dan pengalaman sambil mempertontonkan karya para perupa asal Australia, Selandia Baru, dan negara-negara Asia Tenggara. Hajatan di Australia itu mengambil tema metro-mania dengan tema masalah perkotaan. Selain menekuni lukisan, lelaki kelahiran Solo, 1 Desember 1955, itu juga menulis puisi. Seperti karya lukisnya, Gendut menawarkan puisi baru yang bermatra rupa-grafis. Karena itu, banyak yang menyebut puisinya sebagai karya rupa-grafis yang punya ekspresi puitis. Sebuah paduan antara seni rupa, sastra, dan grafis sekaligus. Kumpulan puisinya diterbitkan dalam buku kumpulan puisi ber- judul Habis Gelap Terbitlah Gelap. Buku setebal 96 halaman itu diterbitkan Yayasan Dialog Seni Rupa dan Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, pada 1994. Sejak itu, Gendut sempat menghilang dari ingar-bingar pameran lukisan. Namun, menurut Jim Supangkat, beberapa bulan lalu Gendut mengutarakan niatnya kembali melukis dan menggelar pameran. Niat Gendut untuk "kembali" tampaknya serius. Tak kurang dari 17 lukisan baru diselesaikannya. Kini, Gendut hanya bisa mewariskan karyanya itu untuk istri dan kedua anaknya.
    "Kami kehilangan udara sehat, tapi selalu tak bisa berbuat banyak." - Inung Syahbana, warga Ciketing Udik, Bantargebang, Bekasi, kepa- da Koran Tempo, Senin pekan lalu, tentang perpanjangan kerja sama tempat pembuangan akhir sampah Bantargebang antara pemerintah Bekasi dan DKI Jakarta. "Ada kesan tidak menyenangkan bahwa PPP hanya menjadi pelengkap penderita untuk PDIP." - Habil Marati, Bendahara Partai Persatuan Pembangunan (PPP), menanggapi gagasan tentang koalisi permanen antara partainya dan Partai Demokrasi Indonesia Per- juangan (PDIP) menjelang Pemilu 2004.
    Tempo Doeloe 5 Januari 1592 Shah Jahan, raja dari dinasti Mughal, lahir. Dialah pendiri Taj Mahal. 5 Januari 1947 Inggris menasionalisasikan perusahaan-perusahaan tambang batu bara. 6 Januari 1496 Benteng kaum Moor di Alhambra, dekat Granada, takluk pada pasukan Kristen. 6 Januari 1967 Gabungan 16 ribu tentara Amerika Serikat dan 14 ribu tentara Vietnam Selatan memulai serangan besar-besaran di Segitiga Besi, di sebelah barat daya Saigon. 7 Januari 1789 Untuk pertama kalinya diselenggarakan pemilihan presiden di Amerika Serikat. 7 Januari 1959 Amerika Serikat mengakui pemerintahan baru Fidel Castro di Kuba. 8 Januari 1958 Bobby Fisher menang dalam Ke- juaraan Catur Amerika Serikat untuk pertama kalinya pada usia 14 tahun. 8 Januari 1973 Perundingan damai rahasia antara Amerika Serikat dan Vietnam berlangsung di dekat Paris. 9 Januari 1792 Ottoman menandatangani pakta dengan Rusia untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung lima tahun. 9 Januari 1937 Rezim di Italia melarang perkawinan antara warga Italia dan Abyssinia. 10 Januari 1863 Metropolitan, kereta bawah tanah pertama di dunia, dibuka bagi publik di London. 10 Januari 1946 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa melangsungkan sidang pertamanya di London. 11 Januari 1913 Mobil jenis sedan yang pertama, sebuah Hudson, dipamerkan di New York. 11 Januari 1963 Whiskey-a-go-go, diskotek pertama di dunia, dibuka di Los Angeles.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Gendut Riyanto, 48 tahun

Buku

Sebuah Pamflet 260 Halaman

Catatan Pinggir

Jarak

Indonesiana

Bidan Beranak Kucing, Meong…

Negosiasi dengan Perampok

Sastra

Godam Beraksi Sampai Mati

Seni Rupa

Cerutu Tiarma, Ludah untuk Iwan

Surat Dari Redaksi

Napak Tilas Rommy ke Bagdad dan Tikrit

Ralat

Ralat

Agama

Atas Nama 'Bisikan Tuhan'

Fotografi

Jakarta-Peking dalam 'Kisah Dua Kota'

Layar

Bergerak Bersama Dunia Imajinasi Bernama Animasi

Tari

Hidup itu Singkat, Seni...

Televisi

Somad dan Cinta pun Bermetamorfosis

TEMPO|interaktif

Fadel: Saya Tak Niat Jadi Calon Gubernur DKI

Nasional

Tokoh FPI Rizieq Salahkan Gubernur Kalteng

Whitney Houston Harusnya Datang ke Grammy Awards

Penyebab Kematian Whitney Houston Belum Diketahui  

Sudah Lama Houston Melawan Candu

Whitney Houston Tutup Usia

Nasional

Tak Punya Ongkos, FPI Diturunkan di Banjarmasin

fpi.jpg[Front Pembela Islam / FPI]

Metro

Pemerintah Cabut Izin Operator Bus Maut

Sebelum Tabrakan Cisarua, Penumpang Ingatkan Sopir  

Izin Operasi Bus Maut di Cisarua Dicabut  

Nasional

Faisal-Biem Merasa Dijegal Aturan KPU DKI  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif