• Home
  • 05 Januari 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Televisi
    • Gaya Hidup
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
    • Layar
    • Iqra
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 05 Januari 2004

    Jarak

    Dalam waktu satu-dua jam, 50 ribu orang mati di sudut Iran. Jumlah itu bisa lebih. Tapi kita sebaiknya tak bicara soal Tuhan dan manusia.

    Ketika 26 Januari 2001 Gujarat dihantam gempa, dan diperkirakan 30 ribu orang tewas, sekelompok anggota "Lashkar-i-Toiba" menyimpulkan: itulah hukuman Allah atas orang Hindu di negara bagian itu; mereka telah membunuh dan menganiaya minoritas muslim, Kristen, dan Sikh di India. Seorang menteri yang beragama Kristen di Negara Bagian Karnataka setuju. Bahkan ada orang Hindu yang mengangguk: "Ini memang hukuman Shiva kepada kami."

    Benarkah? Saya ragu. Sebab saya ragu benarkah semua orang yang tewas itu—termasuk anak-anak—berdosa kepada kaum minoritas. Saya ragu bila Tuhan ceroboh dan tak adil. Dan bagaimana kita akan mengaitkan bencana di Iran pekan lalu itu dengan laknat? Di pojok itu tak pernah terdengar ada minoritas yang dibantai, tak ada pesta mabuk, zina massal, dan pembobolan bank ramai-ramai.

    Pada akhirnya kita harus bicara soal manusia dengan manusia. Bahkan bukan soal manusia dengan alam. Gempa tektonik terjadi karena struktur bumi yang apa boleh buat. Hanya Superman, dalam film, yang bisa membereskan lempeng-lempeng San Andreas Fault di bawah bumi California. Berapa kali sudah wilayah ini terkena guncangan? Dan bukankah orang di sana masih menunggu gempa yang lebih besar—sambil terus me- nikmati tamasya Big Sur di tepi Pasifik, mengolah anggur, dan menjual film porno?

    Gempa seperti lotre dan kanker: ia tak bisa diantisipasi, tapi kita tahu ia bisa sewaktu-waktu datang, dan di sini berlaku nyanyian Rod Stewart: "Some guys got all the luck, some guys got all the pain." Bencana itu memukul Iran berkali-kali, dan bukan Monaco. Apa mau dikata. Sejak tahun 130, ketika ilmuwan Cina Chang Heng mencoba menebak gempa yang disangkanya gelombang angin di bawah tanah, sampai kini hanya sedikit yang dapat diprediksi, dan semuanya tak bisa dicegah. Kata para pakar, tiap tahun rata-rata terjadi 50 ribu getaran dengan skala 3 sampai 4 Richter, dan 800 kali dengan skala 5 sampai 6.

    Ya, kita harus bicara tentang manusia dan manusia. Terutama ketika gempa menyangkut hidup yang hancur dan anak-anak yang mati. Dalam The Theory of Moral Sentiment-nya yang agak kurang tersohor, di tahun 1759 Adam Smith telah menyebut bencana alam itu dalam perspektif itu.

    Misalkan, kata Smith, Kerajaan Cina dengan jumlah penduduknya yang besar itu tenggelam karena gempa. Orang di Eropa mungkin akan sedih, menyatakan belasungkawa, membayangkan beratnya kemalangan di negeri jauh itu. Mereka mungkin akan memperkirakan akibat malapetaka itu bagi perdagangan Eropa. Tapi setelah itu, hidup tak terguncang. Yang hendak main tenis akan terus ke lapangan, yang mau meminang akan tetap mengenakan baju terbaik dan membeli bunga.

    Tapi bandingkan, kata Smith, jika [si orang di Eropa] tahu bahwa ia akan kehilangan jari manisnya besok. "Ia tak akan bisa tidur malam ini." Dan tentang malapetaka di Asia itu, "ia akan mendengkur dengan rasa aman yang paling dalam di atas remuk-redamnya seratus juta jiwa saudara-saudaranya."

    Di tahun 1759 itu, Smith menggunakan kata "saudara-saudara" (brethren) untuk jadi kata ganti "orang Cina". Sepatah kata yang mengusik, yang membuka hati: bahwa jarak—yang di zaman itu membentuk perbedaan besar di bumi—bisa mengakibatkan ketak-pedulian.

    Smith mungkin tahu: empat tahun sebelumnya, beberapa hari setelah gempa besar menghajar Lisabon dan 100 ribu orang tewas, Voltaire menulis sebuah sajak yang marah, Poème sur le désastre de Lisbonne: "Lisabon dalam puing, orang berdansa di Paris."

    Tentu saja Voltaire berlebihan. Di zamannya, malapetaka di ibu kota Portugal itu baru diketahui orang di ibu kota Prancis 23 hari kemudian. Si pembawa berita mungkin tiba dengan kuda yang hampir pingsan.

    Kini "jarak" mengandung paradoks. Teknologi—khususnya satelit—telah mengubah hubungan manusia dengan pengertian itu. Kini yang terjadi di kota Bam bisa tiba tanpa tertunda di sebuah kamar di kota Bon. Guncangan itu tak mengenal lagi tapal batas dan jarak—hal yang sebenarnya dapat dikatakan tentang dolar Amerika, terorisme, Kitab Suci, dan Lord of the Rings.

    Atau "jarak" telah jadi sesuatu yang lain, yang tak dapat diukur dengan mil. "Jarak" kembali jadi ekspresi dunia subyektif: hati dan pikiranku dekat dengan korban di Iran atau tidak, imajinasiku akrab dengan si Frodo dalam fantasi Tolkien atau tidak.

    Dengan catatan: "jarak", seperti disebut dalam buku Adam Smith, sampai sekarang pun masih dipengaruhi oleh "melihat". Apalagi televisi kian pegang peran penting dalam dunia subyektif kita: hari ini, dunia di luar sana jadi mudah dibentuk dengan "zoom-in" dan dijauhi dengan "zoom-out". Masalahnya: ketika sang subyek makin mampu menentukan sang obyek, ketika aku makin mampu memandang dia dengan cara yang kupilih, tak selamanya "melihat" menimbulkan "rasa dekat".

    Memang, televisilah yang menyentuh orang Amerika menghimpun dana untuk para korban di Iran itu. Tapi di ruang kontrol markas tentara Amerika Serikat, opsir-opsir yang terlatih bisa "melihat" sasarannya yang bakal celaka nun di Bagdad, sebelum meluncurkan "bom cerdas", tanpa merasa perlu menyaksikan darah muncrat dan ubun-ubun hancur.

    Walhasil, dengan televisi dan "bom cerdas", dunia tak dengan sendirinya jadi bagus. Tapi hanya itukah, warna kelam, yang kita miliki? Pangloss, tokoh yang tak terlupakan dalam Candide, novel Voltaire, adalah seorang super-optimis. Ia percaya, "karena semua diciptakan untuk satu tujuan, maka semua diciptakan untuk tujuan yang terbaik." Voltaire membuat kita tertawa geli mendengar itu. Ia ingin agar kita ingat: pada suatu hari di Lisabon, "seratus ribu semut, sesama kita, mendadak tertimbun di busut kita."

    Semut? Setidaknya hari ini kita makin tahu: mereka bukan semut, kita bukan semut. Ada yang menangis karena seseorang menangis.

    Goenawan Mohamad


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Gendut Riyanto, 48 tahun

Buku

Sebuah Pamflet 260 Halaman

Catatan Pinggir

Jarak

Indonesiana

Bidan Beranak Kucing, Meong…

Negosiasi dengan Perampok

Sastra

Godam Beraksi Sampai Mati

Seni Rupa

Cerutu Tiarma, Ludah untuk Iwan

Surat Dari Redaksi

Napak Tilas Rommy ke Bagdad dan Tikrit

Ralat

Ralat

Agama

Atas Nama 'Bisikan Tuhan'

Fotografi

Jakarta-Peking dalam 'Kisah Dua Kota'

Layar

Bergerak Bersama Dunia Imajinasi Bernama Animasi

Tari

Hidup itu Singkat, Seni...

Televisi

Somad dan Cinta pun Bermetamorfosis

TEMPO|interaktif

Nasional

4 Ribu Reaktor Biogas Dibangun di Jawa Timur

Nasional

Raja Solo Pilih Tinggalkan Keraton

Nasional

'Kisruh' Gubernur Bengkulu Rugikan Masyarakat  

Olahraga

Moratti : Palacio Pemain yang Dibutuhkan Inter

Internasional

Bill Clinton Berpose dengan Bintang Film Porno

Olahraga

Patrich Wanggai Bela Indonesia Selection  

Oezil Ingin Bawa Jerman Juarai Euro 2012

Metro

Polisi Temukan Motor Perampok Penembak Satpam IPB  

KPU Tetapkan DPT Pekan Depan  

Kapolda Tetap Tolak Konser Lady Gaga

Olahraga

Martinez Kian Merapat ke Anfield  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif