• Home
  • 05 Januari 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Televisi
    • Gaya Hidup
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
    • Layar
    • Iqra
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 05 Januari 2004

    Godam Beraksi Sampai Mati

    SEPEKAN menjelang fajar tahun baru 2004, Rumah Budaya Tembi, di Bantul, Yogyakarta, menggelar pameran komik. Tak tanggung-tanggung, pameran berlangsung tiga minggu sampai 17 Januari 2004. Beberapa peminat komik masa kini mungkin masih ingat komikus Widodo Nur Slamet, yang lebih dikenal sebagai Wid N.S. Itu sebabnya karyanya digelar untuk mengingat kejayaan industri komik lokal di era 1970-an hingga 1980-an. Ketika itulah sejumlah nama komikus muncul: Yan Mintaraga, Teguh Santoso, Ganes T.H. (Si Buta dari Goa Hantu), Hans Jala-Jala (Panji Tengkorak), Hasmi (Gundala Putra Petir).

    Tragisnya, beberapa jam sebelum pameran dibuka, Wid N.S. meninggal pada usia 65 tahun. Tak salah jika disebut Almarhum merupakan sisa komikus di era itu yang masih berkarya-hingga akhir hayat-justru ketika komik lokal tersapu bersih oleh komik impor. Tak kurang dari 25 lembar karya Wid N.S. yang dilukis di kertas ukuran HVS dipamerkan, beberapa di antaranya karya asli. "Memang tak banyak karya asli Mas Wid yang masih tersisa," ujar Ons Untoro, koordinator Rumah Budaya Tembi. Hanya ada beberapa lembar karya seri Godam. Selebihnya karya pasca-1980-an yang umumnya komik strip untuk koran. Untung masih ada beberapa buku komik seri Godam-meski sudah kusam dan tak lengkap-yang dipa- merkan dalam kotak kaca, seperti Tirani Biru di Negeri Godam, Black Magic, Sang Kolektor, Bocah Atlantis, Mentjari Djedjak Majat, Doctor Setan, Mata Sinar X Godam.

    Almarhum dikenal terutama berkat seri si Godam. Bacalah, misalnya, gayanya dalam Godam, Doctor Setan: "He! Aku mendengar tembakan tiga kali! Berarti Profesor dan jang lainnja ada dalam bahaja. Aku harus menolongnja! Akan kupakai tjintjin adjaib ini!" Bimsalabim, ketika Awang menyorongkan cincin ke jari manis asap tebal segera menyelimuti tubuhnya. Saat asap lenyap, bukan Awang lagi jang berdiri disitu, melainkan djagoan kita jang cukup menggemparkan dunia: GODAM!

    Awang adalah pemuda sopir truk jarak jauh yang menjelma jadi pahlawan pemberantas kejahatan. Ia muncul dengan baju besi berlogo G berbentuk segitiga bersayap. Baju besi itu membuat Godam kebal peluru, tenaganya pun berlipat ganda. Tinju berbalut sarung tangan mengepal bertenaga godam, kaki kukuh ber- sepatu bot nyaris menyentuh dengkul, jubah licin kaku. Jubah yang terbuat dari bendera pusaka suku Zelu itu membuat tubuh Godam seringan kapas hingga mampu melesat mengejar pesawat jet.

    Ketika diciptakan pada 1969, Godam menjadi "bacaan wajib" para remaja saat itu. Ketika itu di Amerika Serikat orang sedang demam Superman. "Mas Wid menciptakan Godam, saya menciptakan Gundala Putra Petir," ujar komikus Hasmi, sobat Almarhum. Wid N.S. memang piawai melambungkan fantasi pembaca dengan memasukkan aspek ilmu dan teknologi. Godam, misalnya, dipertemukan dengan penduduk benua yang hilang Atlantis dalam seri Aquanus; meluncur dengan roket ke planet Thalezer; bentrok dengan Doctor Setan, si pencipta robot.

    Mula-mula Wid N.S. menciptakan tokoh Aquanus, si manusia air, pada 1969. Namun, sukses baru ia raih setelah si Godam lahir. Dengan judul berbeda, komik Godam yang diterbitkan beberapa seri laku keras. Meski terinspirasi oleh tokoh Superman, Godam adalah rekaan asli Wid N.S. Tokoh Awang mendapat kesaktian lewat "tjintjin adjaib" pemberian "roch sutji" berupa orang tua berpakaian serba putih. Sedjak dia mempunjai tjintjin adjaib itu, dia (Awang) sangat ditakuti pendjahat, karena dimana kedjahatan timbul Godam selalu menumpasnya, demikian ditulis Wid N.S. dalam seri Doctor Setan.

    Godam muncul dengan sosok tubuh berciri Asia. Rahangnya persegi, mulut agak lebar, ototnya tak menonjol berlebihan. Awalnya, Godam tak mengenakan celana pendek ketat, sarung tangan, dan sepatu bot. Dalam seri Tirani Biru di Negeri Godam, misalnya, tokoh populer itu hanya mengenakan cawat dan sepatu bertali tanpa sarung tangan. "Inilah Godam yang berciri Melayu," ujar Wid N.S. sebagaimana dituturkan oleh komikus Hasmi.

    Zaman berputar, selera konsumen komik pun berubah. Mereka tak lagi tertarik adegan baku silat yang pernah jadi pakem komik Indonesia. Juga tak bersemangat menikmati komik cerita sejarah karya Wid N.S. macam Perang Diponegoro. Semuanya dilibas komik impor. Maka, satu per satu komikus lokal tumbang. Atau beralih profesi. Tapi Wid N.S. bertahan. Bahkan hingga akhir hayatnya, beberapa jam sebelum pameran retrospeksinya dibuka.

    Raihul Fadjri


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Gendut Riyanto, 48 tahun

Buku

Sebuah Pamflet 260 Halaman

Catatan Pinggir

Jarak

Indonesiana

Bidan Beranak Kucing, Meong…

Negosiasi dengan Perampok

Sastra

Godam Beraksi Sampai Mati

Seni Rupa

Cerutu Tiarma, Ludah untuk Iwan

Surat Dari Redaksi

Napak Tilas Rommy ke Bagdad dan Tikrit

Ralat

Ralat

Agama

Atas Nama 'Bisikan Tuhan'

Fotografi

Jakarta-Peking dalam 'Kisah Dua Kota'

Layar

Bergerak Bersama Dunia Imajinasi Bernama Animasi

Tari

Hidup itu Singkat, Seni...

Televisi

Somad dan Cinta pun Bermetamorfosis

TEMPO|interaktif

Nasional

Soal Ani Yudhoyono Jadi Capres, Demokrat Diminta Hormati Putusan SBY

Chamberlain Akan Jadi Pemain Hebat, Kata Rosicky

Nasional

4 Ribu Reaktor Biogas Dibangun di Jawa Timur

Nasional

Raja Solo Pilih Tinggalkan Keraton

Nasional

'Kisruh' Gubernur Bengkulu Rugikan Masyarakat  

Olahraga

Moratti : Palacio Pemain yang Dibutuhkan Inter

Internasional

Bill Clinton Berpose dengan Bintang Film Porno

Olahraga

Patrich Wanggai Bela Indonesia Selection

Oezil Ingin Bawa Jerman Juarai Euro 2012

Metro

Polisi Temukan Motor Perampok Penembak Satpam IPB  

KPU Tetapkan DPT Pekan Depan  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif