• Home
  • 05 Januari 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Televisi
    • Gaya Hidup
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
    • Layar
    • Iqra
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 05 Januari 2004

    Napak Tilas Rommy ke Bagdad dan Tikrit

    Di hari Minggu yang mencoba untuk tenang di akhir Desember silam. Sebuah pesan melalui telepon seluler dari Redaktur Senior Goenawan Mohamad mengatakan, ”Ada kabar Saddam Hussein tertangkap di Tikrit.” Tentu saja hari Minggu itu harus gagal menjadi tenteram. Seluruh warga TEMPO, baik koran, Tempo News Room, maupun majalah sibuk menggunakan seluruh perangkat untuk memonitor. Hanya dalam beberapa menit, televisi Indonesia dan internasional secara bertahap menayangkan konfirmasi penangkapan itu. Selebihnya adalah sejarah. Peristiwa ini tentu tak mungkin kami biarkan berlalu begitu saja. Wartawan kami, Rommy Fibri, yang kami kirim delapan bulan silam ke Irak untuk meliput perang, segera kami minta agar segera masuk lagi ke Irak. Bukan hanya untuk melaporkan situasi setelah delapan bulan pendudukan AS di sana, tetapi juga sisi lain dari sikap rakyat Irak. Maklum, yang kita lihat dari media Barat selalu mereka yang sudah pasti anti-Saddam. Untuk Rommy Fibri, kesempatan ini sangat penting. Rommy, di antara kesibukannya sehari-hari sebagai wartawan investigasi kami, masih mencoba menyusun sebuah buku tentang Irak yang berisi seluruh pengalamannya meliput perang Irak tahun silam, sebuah periode ketika dia dan Zuhaid El Qudsy adalah dua wartawan Indonesia yang berada di kawasan perang itu ketika perang tengah bergolak. Kali ini Rommy bukan hanya menyusuri Bagdad, tetapi juga Tikrit, tempat kelahiran Saddam Hussein, dan ia menyaksikan bagaimana rakyatnya masih ada yang menganggap Saddam Hussein belum tertangkap. Selain itu, ia kami tugasi ke kawasan yang masih berbau asap dan mesiu seperti Falujah dan Ramadi. Untuk Rommy, yang sudah mengalami bom-bom yang terus-menerus mengguncang Bagdad, situasi di Falujah dan Ramadi akhirnya seperti sebuah perjalanan yang cukup santai karena bom dan senapan ”hanya sesekali menyalak”. Dia juga meluncur ke Karbala. Kota suci kaum Syiah ini terletak sekitar dua jam perjalanan dari Bagdad ke arah selatan. Untung Rommy, seorang muslim yang sangat taat, selalu bisa tembus ke kawasan mana pun. Di beberapa tempat, dia ”dites” untuk membacakan beberapa ayat Al-Quran agar mereka percaya dia seorang muslim. Di kawasan pendudukan yang penuh dengan tank AS, dia juga dengan mudahnya berbincang dengan tentara AS untuk sebuah keseimbangan berita. Ada juga beberapa pertemuannya yang menyentuh dan membuatnya merenung. Seorang mahasiswa Irak yang bekerja sebagai penerjemah tentara AS merasa seluruh mata tentara Irak yang tertangkap menuduhnya sebagai pengkhianat. Adakah dia seorang pengkhianat, meski dia hanya bekerja sebagai penerjemah? Rommy tak bisa menjawabnya, ia melaporkannya sebagai seorang wartawan. Bagian lain yang juga menyentuh adalah napak tilas Rommy ke Halabjah, sebuah kota yang menjadi simbol bagi suku Kurdi karena pada 1988 kota ini diguyur bom kimiawi dan 50 ribu orang Kurdi terbunuh seketika. Betapapun kuatnya seorang pemimpin—apalagi mereka menggunakan tangan besi seperti Saddam Hussein—akan runtuh karena kekejiannya sendiri. Bagdad sehari-hari, menurut pandangan mata Rommy, menjadi kota yang tak menentu masa depannya. Imam masjid yang pasti harus menenteng senjata, dan tembak-tembakan yang menewaskan warga sipil tanpa kejelasan, tanpa pengadilan. Begitu banyak laporan Rommy untuk majalah ataupun untuk saudara terkasih Koran Tempo dan Tempo Interaktif hingga kami kelabakan menerima kirimannya; begitu terbatas ruangan kami. Karena itu, mudah-mudahan buku yang tengah disusunnya akan segera bisa menampung laporan yang lebih lengkap dan bisa Anda nikmati segera tahun ini.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Gendut Riyanto, 48 tahun

Buku

Sebuah Pamflet 260 Halaman

Catatan Pinggir

Jarak

Indonesiana

Bidan Beranak Kucing, Meong…

Negosiasi dengan Perampok

Sastra

Godam Beraksi Sampai Mati

Seni Rupa

Cerutu Tiarma, Ludah untuk Iwan

Surat Dari Redaksi

Napak Tilas Rommy ke Bagdad dan Tikrit

Ralat

Ralat

Agama

Atas Nama 'Bisikan Tuhan'

Fotografi

Jakarta-Peking dalam 'Kisah Dua Kota'

Layar

Bergerak Bersama Dunia Imajinasi Bernama Animasi

Tari

Hidup itu Singkat, Seni...

Televisi

Somad dan Cinta pun Bermetamorfosis

TEMPO|interaktif

Nasional

Buntut Bentrok Lahan PTPN II, Kantor Dibakar

Nasional

Soal Ani Yudhoyono Jadi Capres, Demokrat Diminta Hormati Putusan SBY

Chamberlain Akan Jadi Pemain Hebat, Kata Rosicky

Nasional

4 Ribu Reaktor Biogas Dibangun di Jawa Timur

Nasional

Raja Solo Pilih Tinggalkan Keraton

Nasional

'Kisruh' Gubernur Bengkulu Rugikan Masyarakat  

Olahraga

Moratti : Palacio Pemain yang Dibutuhkan Inter

Internasional

Bill Clinton Berpose dengan Bintang Film Porno

Olahraga

Patrich Wanggai Bela Indonesia Selection

Oezil Ingin Bawa Jerman Juarai Euro 2012

Metro

Polisi Temukan Motor Perampok Penembak Satpam IPB  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif