• Home
  • 05 Januari 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Televisi
    • Gaya Hidup
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
    • Layar
    • Iqra
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 05 Januari 2004

    Cerutu Tiarma, Ludah untuk Iwan

    Karya dua perupa kontemporer Indonesia tampil di Bienale Havana ke-8 di Kuba, yang berlangsung hingga akhir Desember 2003. Mereka, Tiarma Dame Ruth Sirait, 35 tahun, dan Iwan Wijono, 32 tahun, dikenal sebagai perupa muda yang giat berpameran dengan medium-medium baru seperti seni instalasi dan pertunjukan.

    Tiarma, perupa lulusan Institut Teknologi Bandung (1994) dan Royal Melbourne Institute of Technology, Australia (1997), belakangan juga dikenal sebagai perancang mode yang orisinal. Ia mengembangkan karya-karya instalasinya yang provokatif: memetik gagasan visualnya dari ranah fantasi ataupun gemerlap dunia couture (adibusana) yang dipahaminya. Dalam karya-karya seni rupa kontemporernya, ia mengaitkan tema dan citra gubahan busana kontemporernya dengan pendekatan yang sangat personal serta kritikal.

    Pada Havana Biennial yang tahun ini memberikan perhatian istimewa bagi karya-karya pertunjukan itu, Tiarma mengajukan tema Global Vs. Local (2003), sebuah karya seni rupa instalasi dan (video) pertunjukan. Pada karya instalasinya, ia menciptakan rangkaian 56 boks ramping dengan pintu-pintu kaca untuk mewadahi 28 model boneka dengan dandanan lokal. Dua puluh delapan model yang lain mengenakan busana modern dan aksesori yang dapat ditafsirkan sebagai ikon-ikon yang menyerbu dari ranah budaya global.

    Dandanan tradisional tampak rumit dengan berbagai pernik hiasan, dari kerudung kepala sampai ujung busana, suatu pemandangan yang tampak mengasumsikan kekayaan muatan lokal yang menggairahkan: "passion for difference". Boneka-boneka globalnya didandani dengan rambut panjang berwarna pirang, menggunakan rok mini yang ketat atau busana panjang terusan tanpa kerut atau lelipit, dilengkapi dengan berbagai simbol budaya modern-kapitalistis. Kecenderungan menggunakan one sex model berupa boneka-boneka perempuan dalam karyanya tentu melahirkan tafsir gender, tapi Tiarma membungkusnya dengan rapi.

    Pada karya video pertunjukannya yang diberi tajuk Local Meets Local (2003), Tiarma merias dirinya dalam pakaian adat pengantin tradisional Sumatera Barat, duduk di atas singgasana seraya mengisap Dos Hermanos, merek cerutu terkenal di Kuba yang ternyata sudah diproduksi secara lokal di Indonesia. Sepanjang tiga setengah menit pertunjukan, Tiarma dengan lahap menyantap berbagai jenis makanan tradisional Kuba diselingi oleh adegan mengisap cerutu sebesar jempol itu.

    Karya pertunjukan Iwan Wijono sepanjang lebih-kurang 10 menit bertajuk The Rootless Man (2002). Karya yang pernah dipentaskan dalam Toronto International Performance Festival (November 2002) ini ditampilkan dalam bentuk video di Havana Biennial.

    Iwan menggambarkan manusia yang berjalan hilir-mudik tanpa arah di antara dua alat permainan: sebuah kendaraan militer yang menghelanya dari arah depan dan truk kosong di belakang yang mengikutinya ke mana pun dia pergi. Bagian ini disudahi oleh pesan reflektif tentang modernitas, yang menurut Iwan mengasingkan manusia dari tanah yang telah menyediakan kehidupan bagi mereka. Ia mengajak sebagian penonton duduk khidmat bersila di sekitarnya seraya memejamkan mata untuk mendengarkan khotbahnya perihal paradoks modernitas.

    Bagian akhir pertunjukannya diisi adegan sang aktor bertelanjang dada, menyilakan para penonton meludahi tubuhnya serta melabur wajahnya dengan tanah yang sudah siap dalam genggaman tangan mereka. Tanah dan ludah bercampur di wajah manusia gelandangan yang, ironisnya, tampak berbahagia.

    Iwan Wijono, belajar seni rupa di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta (1992-1997), adalah penampil yang aktif mengikuti berbagai festival seni rupa pertunjukan, seperti NIPAF (Jepang, 1999), Asiatopia (Bangkok, 1999), dan Novena Muestra Internacional de Performance (Kota Meksiko, 2000).

    Havana Biennial 2003 bertema "Art with Life" dan diikuti sekitar 150 seniman dari berbagai negara Amerika Latin, Karibia, Afrika, Timur Tengah, Asia, Eropa, Australia, Kanada, dan Amerika Serikat. Perupa Indonesia yang pernah diundang untuk acara ini adalah Agus Suwage, Andar Manik, Marintan Sirait, dan Krisna Murti, pada 1999 silam.

    Mengutip Hilda Maria Rodriguez, Direktur Havana Biennial, tema bienale ini mencerminkan upaya untuk memuluskan refleksi perihal kehidupan sehari-hari yang sarat oleh konflik sekaligus kebajikannya sendiri. Ya, pluralisme di dalam seni rupa merupakan sebuah conditio sine qua non. Tentunya, pergulatan para perupa kita dengan media-media baru seni rupa tak cuma untuk memenuhi kuota forum-forum internasional.

    Hendro Wiyanto, pengamat seni rupa


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Gendut Riyanto, 48 tahun

Buku

Sebuah Pamflet 260 Halaman

Catatan Pinggir

Jarak

Indonesiana

Bidan Beranak Kucing, Meong…

Negosiasi dengan Perampok

Sastra

Godam Beraksi Sampai Mati

Seni Rupa

Cerutu Tiarma, Ludah untuk Iwan

Surat Dari Redaksi

Napak Tilas Rommy ke Bagdad dan Tikrit

Ralat

Ralat

Agama

Atas Nama 'Bisikan Tuhan'

Fotografi

Jakarta-Peking dalam 'Kisah Dua Kota'

Layar

Bergerak Bersama Dunia Imajinasi Bernama Animasi

Tari

Hidup itu Singkat, Seni...

Televisi

Somad dan Cinta pun Bermetamorfosis

TEMPO|interaktif

Nasional

Buntut Bentrok Lahan PTPN II, Kantor Dibakar

Nasional

Soal Ani Yudhoyono Jadi Capres, Demokrat Diminta Hormati Putusan SBY

Chamberlain Akan Jadi Pemain Hebat, Kata Rosicky

Nasional

4 Ribu Reaktor Biogas Dibangun di Jawa Timur

Nasional

Raja Solo Pilih Tinggalkan Keraton

Nasional

'Kisruh' Gubernur Bengkulu Rugikan Masyarakat  

Olahraga

Moratti : Palacio Pemain yang Dibutuhkan Inter

Internasional

Bill Clinton Berpose dengan Bintang Film Porno

Olahraga

Patrich Wanggai Bela Indonesia Selection

Oezil Ingin Bawa Jerman Juarai Euro 2012

Metro

Polisi Temukan Motor Perampok Penembak Satpam IPB  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif