• Home
  • 19 Januari 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 19 Januari 2004

    Indonesiana

    Hantu Pocong, Hii...

    HANTU pocong sempat membuat warga Desa Kecila, Kecamatan Kemrajen, Banyumas, Jawa Tengah, kalang-kabut dan bertikat. Kuburan pun dibongkar, ternyata....

    Kisahnya berawal dari meninggalnya Mbah Tasiyah pada malam Jumat pekan pertama 2004. Nah, beberapa hari kemudian, berembus kabar ada hantu pocong gentayangan, siang dan malam.

    Adalah Mario, lelaki tetangga sebelah rumah almarhumah, yang mengaku per- tama memergoki si hantu beberapa malam setelah kematian si Mbah. Saat ia hendak memasukkan sepeda motornya ke rumah, tiba-tiba muncul sesosok bayangan putih. Dan, hii..., dalam hitungan detik, bayangan itu berubah menjadi hantu pocong. Si pocong memintas ke samping rumahnya, dan sap! Lenyap tak berbekas.

    Karena amat ketakutan, Mario langsung ambruk. "Kulo wedine pol-polan. Lha wong, mlakune kaya mabur (saya takut sekali, hantu itu melayang seperti terbang)," paparnya dalam logat Banyumasan kepada Ari Aji H.S. dari TEMPO.

    Yang bikin rasa takut Mario tambah pol, wajah pocong itu mirip sekali paras Tasiyah. "Saya langsung lari dan memberitahukan keluarganya," ujarnya. Namun cerita hantu gentayangan itu sudah menyebar. Apalagi Tarko, peronda yang bertugas keliling kampung se- panjang malam, juga mengaku melihatnya. Akibatnya, Desa Kecila seperti kuburan begitu malam tiba.

    Warga juga bersilang kata. Soalnya, ada yang meminta kuburan almarhumah dibongkar, yang ditentang keluarganya. "Kabar hantu pocong itu sengaja diembuskan orang karena ada yang tidak suka dengan keluarga kami," kata Martodiharjo, salah satu anggota keluarga Mbah.

    Akhirnya Kepala Kepolisian Sektor Kemrajen, Inspektur Satu Isfa Indarto, turun berembuk dengan famili almarhumah. Runding punya runding, pihak keluarga akhirnya setuju kuburan Mbah dibongkar. Pada hari H, 7 Januari, pe-kuburan Kejubung pun berubah mirip pasar tumpah. Di bawah bakaran matahari, ribuan warga tumplek-blek, bahkan ada SD yang diliburkan. Soalnya, ilmu pocong belum ada gurunya.

    Puluhan petugas polisi juga berjaga-jaga dan memasang pita kuning di sekitar liang lahat. "Agar tak rusuh, kami kerahkan polisi sebanyak-banyaknya," kata Kapolsek. Saat mayat dikerek, para penonton merangsek ke depan. Mereka cuma mau tahu, apa benar arwah Nenek Tasiyah bergentayangan gara-gara tali kain kafannya belum dibuka. Percaya tak percaya, tali kain kafan almarhumah memang belum sempat di- lepas saat ia dikebumikan.

    Namun keluarga Mbah Tasiyah tak yakin itu. "Ah, tak mungkin. Mayat tak dilepaskan tali kain kafannya sudah terjadi sering kok. Gak terjadi apa-apa," ujar Martodiharjo.

    Bebek Dinas Aktivis

    ADA saja cara Rektor Universitas Negeri Surabaya, Profesor Haris Supratno, "mengikat" aktivis mahasiswa. Diberi "bebek".

    Jumat 2 Februari lalu, Rektor Haris menyerahkan motor Honda Astrea Supra Fit warna biru kepada Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dian Anshori. Cuma, pelatnya bukan hitam. "Kami sengaja memasang nomor polisi warna merah, agar tak bisa disalahgunakan," ujar Rektor. O ya, biaya bahan bakarnya juga dapat gratis dari rektorat, Rp 150 ribu sebulan.

    Pemberian "bebek" yang bisa ngebut itu bertujuan menunjang kegiatan pengurus BEM. Menurut Dian, syaratnya ketat, hanya untuk kepentingan BEM, bukan buat urusan pribadi. Syarat lain, para pengguna harus mematuhi peraturan Menteri Dalam Negeri tentang tata cara penggunaan fasilitas negara. Kalau ketahuan digunakan untuk, misalnya, ngapel pacar? Bisa langsung masuk daftar hitam, "Seperti politikus busuk," ujar mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni eks-IKIP Surabaya itu kepada Agus Raharjo dari TEMPO. Tidakkah pemberian fasilitas dinas itu akan membungkam daya kritisnya? "Tak akan mengurangi kevokalan kami," kata Dian. Yakin?

    Namun tak urung Dian menjadi bahan olokan rekan-rekannya. "Di satu sisi mahasiswa butuh kendaraan, tapi di sisi lain pemberian fasilitas itu juga strategi (pemberi) untuk menundukkan mahasiswa," ujar Sekretaris Kabinet BEM IAIN Sunan Ampel, Bustomi.

    Belakangan pencurian sepeda motor di Surabaya, terutama di kampus, marak. Lalu dipasangi pengaman jarak jauhkah sepeda motor Dian? Ternyata tidak. Agar kendaraan dan pengemudinya selamat, dua hari setelah diserahkan oleh Pembantu Rektor II Haris Setiono, tunggangan pelat merah milik "pejabat" BEM itu diruwat dulu, dimandikan air kembang tujuh rupa. "Ruwatan ini untuk tolak bala, biar tidak menabrak atau hilang," kata Dian, sang calon sarjana. Yakin?

    Ahmad Taufik


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Bukan Hanya Debat Kusir

Album

Meninggal

Buku

Islam Datang dari Cina?

Catatan Pinggir

Asrul

Fotografi

Sang Bayi Prematur Bernama Busway

Indonesiana

Indonesiana

Seni Rupa

Burung-Burung Halusinasi

TEMPO|interaktif

Nasional

KPK Tahan Bekas Wali Kota Cilegon  

Olahraga

Race Fature Monaco, Rio Finis Posisi 14

Nasional

Buntut Bentrok Lahan PTPN II, Kantor Dibakar

Nasional

Soal Ani Yudhoyono Jadi Capres, Demokrat Diminta Hormati Putusan SBY

Chamberlain Akan Jadi Pemain Hebat, Kata Rosicky

Nasional

4 Ribu Reaktor Biogas Dibangun di Jawa Timur

Nasional

Raja Solo Pilih Tinggalkan Keraton

Nasional

'Kisruh' Gubernur Bengkulu Rugikan Masyarakat  

Olahraga

Moratti : Palacio Pemain yang Dibutuhkan Inter

Internasional

Bill Clinton Berpose dengan Bintang Film Porno

Olahraga

Patrich Wanggai Bela Indonesia Selection

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif