• Home
  • 19 Januari 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 19 Januari 2004

    Burung-Burung Halusinasi

    BERJAS, berdasi, bercelana panjang, bersepatu pantofel—leher dan kepalanya berbentuk burung. Makhluk-makhluk itu keluar dari tikungan tembok. Lalu mengendap-endap, bersijingkat menoleh ke kiri-kanan, seolah kehadirannya tak ingin diketahui. Kita terbiasa melihat arca, ikonografi makhluk setengah manusia setengah hewan yang menggetarkan dari candi-candi Hindu atau tarian kepala burung kasuari dari seniman Papua. Tapi menyaksikan karya cetak itu masih terasa rangsang sugestif.

    Itulah dunia batin Max Ernst (1891-1976), seorang yang dikenal hidup di dunia modern dengan pikiran selalu menerawang alam mitologi. Seorang pelopor gerakan dada dan surealisme yang diakui berupaya keras melahirkan mitologi pribadi untuk mengatasi banalnya hidup keseharian. Gambar di atas bisa kita saksikan di Galeri Nasional Jakarta, diambil dari halaman dua buku terpenting grafisnya: Une Semaine de Bonte (Minggu Kebajikan), 1933, dan La Femme 100 Tete (Wanita dengan 100 Kepala), 1929.

    Surealisme adalah gerakan mengeksplorasi dunia bawah sadar. Sebuah "isme" yang terpesona pada kekuatan subversif dunia mimpi. Di antara surealis lain seperti Picabia, Giorgio de Chirico, Salvador Dali, Alberto Giacometti, Max Ernst menganggap dirinya paling dekat dengan romantisisme. Tugas surealisme, menurut dia, adalah mendokumentasikan halusinasi. Dalam memoarnya (1930) ia menulis, "Hampir tiap hari saya dikunjungi oleh burung yang gagah, namanya Loplop. Ia membawa sangkar berisi jantung, dua ke- lopak bunga, tiga helai daun, dan seorang perawan…."

    Karakter burung ini terus tampil dalam karya-karyanya. Kadang dalam "novel-kolase"-nya burung ini berke-dudukan sebagai narator dan komentator. Ernst dalam catatan hariannya mengaku pada saat kecil sering dihantui bayangan bulbul. Mendengar "kicau" burung bulbul bagai melihat isyarat kematian. Ketika Ernst berusia enam tahun, adik perempuannya bernama Maria sakit. Suatu ketika sang adik menciumnya, dan beberapa jam kemudian meninggal. Saat itu juga Ernst melihat burung bulbul muncul. Itulah sebabnya imaji tentang burung membuntutinya. Para sejarawan seni melihat gambar Two Children Threatened by Nightangle menegaskan hal itu.

    Para penulis biografinya melihat obyek Ernst timbul dari bermacam ingatannya semasa menjalani transisi dari masa kanaknya yang traumatik ke masa kedewasaannya. Di situ "peng- lihatan-penglihatan" metaforik yang mengagetkan persepsi di alam "halusinasinya" ditangkap dan dimunculkannya ke dunia nyata: dunia kanvas. Artefak, totem dari Asia, Afrika, dan Amerika sangat membantunya menggali dunia psikologis ini. Ernst melakukan perjalanan dari Sungai Mekong Vietnam, Kamboja, sampai Indian Amerika Utara. Kekuatan Ernst, menurut banyak kritikus, adalah pada ketabahannya tidak mengimitasi langsung pelbagai anasir seni rupa Timur itu sebagaimana Picasso mengambil ide dari patung atau topeng Afrika secara wadak. Ernst menjadikannya stimulus yang terus-menerus bergerak antara masa lalu dan masa kininya.

    Kelak Max Ernst bertemu dengan antropolog Claude Levi Strauss—yang sangat kagum akan sensibilitas Ernst. Strauss adalah figur kontroversial dalam dunia ilmu sosial. Dalam bukunya Savage Mind ia berpendapat, tidak ada perbedaan antara manusia modern dan manusia primitif dalam kemampuan menggunakan nalar. Ia menolak anggapan bahwa logika manusia primitif adalah sesuatu yang bersifat lampau—yang tertinggal dari evolusi peradaban manusia. Pada diri Max, mungkin Strauss melihat spirit itu menderu penuh energi.

    Lahir pada 1891 di Kota Bruhl, dekat Koln, Ernst pada 1909 kuliah filsafat di Koln. Tapi ia tak tertarik pada rasionalitas dan sistematika. Ia lalu belajar seni rupa secara otodidak. Lewat lorong otodidak inilah ia menemukan pem- bebasan diri dari prosedur baku seni rupa. Ia dikenal memelopori teknik Frottage. Bertualang keliling kota, menempelkan kertas di atas tekstur apa saja yang ditemuinya—kayu, daun, tulang, pisau berkarat, bebatuan di ngarai, apa saja—lalu menggosoknya dengan pensil hitam. "Seperti saat kita kecil menggosok kertas dengan pensil di atas koin uang," kata Dr. Ludger Derenthal dari Staatliche Nuseen zu Berlin.

    Lalu teknik Grattage—menempelkan cat ke kanvas, mengerok-ngeroknya hingga muncul dasaran putih. Atau teknik decalcomania, mencapkan kertas, potongan kanvas yang telah penuh warna ke kanvas, lalu menariknya kembali. Secara luar biasa teknik sederhana ini mampu menghasilkan visualisasi obyek dengan suasana mistis: bercak, hablur, seolah barik-barik urat kayu tua, pendaran otot nadi darah, sulur tumbuhan kuno. "Penggalian Ernst mengolah teknik sederhana seolah menyindir Jerman yang giat dengan penemuan mesin," kata Tisna Sanjaya, pegrafis ITB.

    Pameran di Galeri Nasional ini banyak menampilkan fase Max Ernst bergaul rapat dengan kalangan penyair Paris. Ia pindah ke Paris pada 1922, dan berinteraksi dekat dengan Louis Aragon, Paul Eluard, Andre Bretton, Samuel Beckett, sampai Lewis Carroll. Ia banyak membuat ilustrasi kumpulan esai dan buku puisi mereka. Hubungan antara teks dan ilustrasi itu sedemikian imtim. "Banyak puisi Eluard muncul setelah merespons gambar Ernst," kata Ludger Derenthal.

    Ernst juga dikenal meminati sejarah alam. Suatu kali di tepi Sungai Rhein di Koln, saat hujan turun deras, Ernst melihat sebuah buku tergeletak dengan banyak repro data dari khazanah zoologi, paleontologi, anatomi, botani. Matanya mendadak terangsang. "Sekonyong-konyong aku melihat obyek-obyek itu mengalami metamorfosis, memendarkan makna baru yang terus-menerus berubah," tulisnya. Ia mempublikasi Histoire Naturelle, sebuah kumpulan grafis yang, menurut dia, menampilkan visi-visi di tepi batas penemuan ilmu alam. Ernst bergaul akrab dengan fisikawan Werner Heisenberg, penemu teori kuantum yang anti-pendekatan positivistik, dan pada 1971 Ernst mempersembahkan karya grafisnya untuk Heisenberg (ikut dipamerkan di Galeri Nasional) berjudul Die Bedeutung des Schonen in der exalten Naturwissenchaft.

    "Ia juga mengkritik gereja Prancis," tutur Ludger Derenthal. Di Galeri Nasional juga ditampilkan beberapa karya cetak Ernst yang memparodikan salib, penyiksaan, moralitas yang didengungkan pada zaman Victorian. Suatu saat di masa kecilnya, Ernst lari dari rumah. Begitu ia pulang, ayahnya yang pelukis melukiskan wajah kecil anaknya ke wajah Kristus. Ketika dewasa, Ernst justru percaya surealisme memunculkan kedalaman yang tak terkatakan oleh agama dan ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya ia pernah berseloroh: seorang surealis pada dasarnya adalah seorang komunis yang individual.

    Ketika upaya demitologisasi dilancarkan terus-menerus oleh para penafsir agama bersemangat modernis seperti sekarang, ketika sejumlah artefak, ikonografi yang menyingkapkan rahasia era lampau masih terus ditemukan tapi tak mendapat publikasi sepatutnya dalam jurnalisme seperti zaman ini, justru mungkin, kalau Ernst hidup, imajinya bergolak. Tak diketahui apakah ia percaya akan dapatkah sekarang muncul kejutan visual baru lagi yang berangkat dari mitologi. Tapi ia pernah menulis sebuah kalimat bersayap pada 1958: dada diperuntungkan oleh ke- matiannya yang cepat.

    Seno Joko Suyono


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Bukan Hanya Debat Kusir

Album

Meninggal

Buku

Islam Datang dari Cina?

Catatan Pinggir

Asrul

Fotografi

Sang Bayi Prematur Bernama Busway

Indonesiana

Indonesiana

Seni Rupa

Burung-Burung Halusinasi

TEMPO|interaktif

Nasional

Corby Sudah Bisa Ajukan Bebas Bersyarat

Ronaldo : Portugal Akan Kalahkan Jerman

Nasional

Pertamina Luncurkan SPBU Khusus di Bali

Nasional

KPK Tahan Bekas Wali Kota Cilegon  

Olahraga

Race Fature Monaco, Rio Finis Posisi 14

Nasional

Buntut Bentrok Lahan PTPN II, Kantor Dibakar

Nasional

Soal Ani Yudhoyono Jadi Capres, Demokrat Diminta Hormati Putusan SBY

Chamberlain Akan Jadi Pemain Hebat, Kata Rosicky

Nasional

4 Ribu Reaktor Biogas Dibangun di Jawa Timur

Nasional

Raja Solo Pilih Tinggalkan Keraton

Nasional

'Kisruh' Gubernur Bengkulu Rugikan Masyarakat  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif