• Home
  • 02 Februari 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Iqra
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 02 Februari 2004

    Madah dari Lereng Merapi

    Air Kata Kata
    Penulis: Sindhunata
    Penerbit: Galang Press Yogyakarta dan Bayu Media Malang, Desember 2003
    Tebal: xv + 195 halaman

    Di gundukan kuburannya teman-teman mbah Koen menaburkan sunrise susu macan.…
    Tiba-tiba semuanya berubah jadi oplosan bunga.
    Baunya harum menggoda.
    Dari surga bidadari turun….
    Mabuk bersama para peminum….

    DARI Padepokan Karang Klethak di tubir jurang Kali Boyong, lereng Gunung Merapi, Yogyakarta, Sindhunata meluncurkan antologi Air Kata Kata, pertengahan Desember lalu. Buku terbaru padri Jesuit yang dikenal sebagai penggubah mitos Ramayana dalam novel klasik Anak Bajang Menggiring Angin ini berisi pelbagai renungan berbentuk puisi, mantra, sampai parikan (pantun Jawa).

    Sindhu merenungkan aneka ragam persoalan hidup yang dijumpainya: jorok maupun adiluhung, suci maupun bersimbah noda, rasional maupun klenik. Penggalan syair di atas dikutip dari sajak berjudul Air Kata Kata. Sindhu hendak mengenang mesra Mbah Koen, karibnya, seorang penarik gerobak sampah yang semasa hidup jago minum arak. Sindhu memang dekat dengan pemabuk dan wong kabur kanginan—orang-orang yang hidup menggelandang tidak keruan juntrungannya.

    Berbagai tulisan reflektif Sindhu lahir berkat pergaulannya dengan orang-orang sederhana berfalsafah urip mung mampir ngombe: hidup hanya mampir minum. Dari penarik gerobak sampah, seperti Mbah Koen, Sindhu menemukan makna kejujuran di tengah kompetisi hidup yang keras. Pada sajaknya Kutukan Asu, Sindhu malah menyatakan lebih baik menjadi asu (anjing) daripada menjadi manusia.

    Asu itu setia dan berani berkorban. Manusia potensial menjadi gentho, kecu, bajingan, koruptor, predator, maling, dan penipu. Pada Suara Mesin Jahit ia melukiskan ”biografi” Djoko Pekik. Pelukis ”Trilogi Celeng” itu, di tengah segala kelimpahan hartanya kini, tidak pernah mengingkari keluarganya justru karena penderitaannya sebagai tahanan politik di masa lalu.

    Sindhu menghayati spiritualitas lewat pergulatan kritisnya dengan kebudayaan Jawa. Inilah yang ditunjukkan dalam syair maupun mantra Oh Tulkiyem Ayu, Jula-Juli Jaman Edan, Ngelmu Kyai Petruk, sampai Ngelmu Pring. Pring (bambu), belukar rerumputan yang tumbuh menjulang liar, berfaedah untuk dijadikan perkakas apa saja: dari langit-langit rumah, tusuk sate, sampai tali laso. Sindhu bermadah: ... Pring pada pring/Eling pada eling... Wong urip asale pring/uripe kudu eling/matine digotong nganggo pring/mulih asale ing ngisor pring… Ora gampang tugel merga melur... Aja kaku uripmu/melura, pasraha, baumu/bakal bisa nyangga kabeh sesanggane uripmu… (hidup senantiasa harus ingat/jenazah dipikul dengan bambu/dikubur ke tempat asalnya di bawah rerimbunan bambu/Tidak mudah patah karena lentur/Jangan hidup secara kaku/lenturkan tubuhmu, berserah diri/akan tertanggung seluruh beban berat, letih lesumu).

    Sindhu juga menulis puisi nakal, Si Boy Melihat Dua: … Si Boy jadi ingat Cik pe’ pesan/bila nanti hujan datang/Cik pe’ rok mesti diangkat/dan masukkan burung ke dalam. Buku ini mengasyikkan dinikmati karena memadukan bahasa verbal dengan bahasa visual. Ada 23 perupa—di antaranya Agus Suwage dan Joko Pekik—bergotong-royong menyumbang drawing untuk mendukung kata-kata Sindhunata. Desain grafis buku ini dirancang perupa Ong Hari Wahyu, disengaja menyeimbangkan belahan otak kanan dan kiri.

    Air Kata Kata, sebagaimana karya-karya Sindhunata sebelumnya, tidak pernah ambil pusing dengan segala tetek-bengek aturan yang menggolongkan sebuah karya sastra atau bukan. Kombinasi latar belakang sebagai novelis, penulis berita kisah, dan padri Jesuit yang sangat menguasai filsafat mengkondisikannya menjadi pelari maraton, penulis bernapas panjang bercorak naratif dan featuris. Bukan sprinter, penulis kolom opini bernapas pendek

    Penyair, pemuja dewa keindahan, pernah disebut mendiang Zoetmulder, ahli sastra Jawa Kuno, sebagai Yogi Literer: pertapa yang gemar bermati raga dengan menekuni teks-teks. Perjumpaan manusia dengan Tuhan dimetaforkan Sindhu seperti bersatunya cicak dengan kopi. Antologi ini mentransendensikan iman buat mendobrak sekat-sekat agama yang sempit. Pun membumikan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari.

    J. Sumardianta, pustakawan SMU Kolese de Britto


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Madah dari Lereng Merapi

Catatan Pinggir

Horor

Pilih

Indonesiana

Indonesiana

TEMPO|interaktif

Nasional

Corby Sudah Bisa Ajukan Bebas Bersyarat

Ronaldo : Portugal Akan Kalahkan Jerman

Nasional

Pertamina Luncurkan SPBU Khusus di Bali

Nasional

KPK Tahan Bekas Wali Kota Cilegon  

Olahraga

Feature Race Monaco, Rio Finis Posisi 14

Nasional

Buntut Bentrok Lahan PTPN II, Kantor Dibakar

Nasional

Soal Ani Yudhoyono Jadi Capres, Demokrat Diminta Hormati Putusan SBY

Chamberlain Akan Jadi Pemain Hebat, Kata Rosicky

Nasional

4 Ribu Reaktor Biogas Dibangun di Jawa Timur

Nasional

Raja Solo Pilih Tinggalkan Keraton

Nasional

'Kisruh' Gubernur Bengkulu Rugikan Masyarakat  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif