Darrel Achmad Fauzi tak sempat menjalani umur panjang. Tulang dan segenap sel tubuhnya belum sempat tumbuh sempurna. Hidupnya berhenti saat dia belum lagi genap delapan tahun. "Tuhan terlalu menyayangi dia," kata Aris Ekasari, ayah yang berduka.
Sabtu pagi, 10 Januari lalu, Darrel menikmati hari terakhir bersekolah di kelas II SD Pondok Aren 08, Tangerang, Banten. Saat itu si bocah periang masih tampak ceria. Sepulang sekolah, dia masih bermain-main dengan adik satu-satunya, Gewa Achmad Farez. Sore harinya, Darrel mulai mengeluh demam dan selera makannya melayang. Bergegas Aris membawa putra sulungnya ke klinik terdekat. Apa daya, obat dari dokter di klinik itu tak sanggup mengusir demam Darrel. Sepanjang malam, tubuh kecil itu didera panas tinggi.
Senin pagi, Darrel kembali dibawa ke dokter. Kali ini tes darah di laboratorium dilakukan. Aris sempat tenang karena kadar trombosit Darrel cukup bagus, masih di atas 100 ribu per mililiter darah, yang menepis dugaan adanya demam berdarah. Lagi pula tak ada bintik-bintik merah di kulit sang anak. Aris pun dengan langkah mantap berangkat menuju kantornya, PT Air Transport Indonesia, Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Rabu, keadaan Darrel memburuk. Tubuhnya seperti bara dan berkali-kali dia mengeluh pusing bukan kepalang. Begitu dia dilarikan ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Pertamina, tabung pemasok oksigen segera disalurkan ke hidungnya. Dokter memvonis Darrel positif menderita demam berdarah tahap kritis meskipun tetap tidak tampak bintik merah di bawah kulitnya.
Kamis dini hari, sekitar pukul 2, tubuh bocah malang ini kejang-kejang hebat hingga hilang kesadaran. Darah mengalir dari mulutnya. Pagi harinya, pukul 10.45, Darrel kecil pergi menghadap Sang Pencipta. "Saat jenazahnya dimandikan, baru kelihatan bintik merah bertebaran di punggung," Aris bertutur perlahan.
Demam berdarah (DB) atau (DHF) memang kalah gaungnya ketimbang flu burung, yang kini tengah gencar disorot media massa. Tapi penyakit khas daerah tropis ini-juga dijuluki peremuk tulang (bone breaker) karena antara lain ditandai nyeri tulang luar biasa-tak bisa dipandang sebelah mata. Setiap tahun, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, penyakit ini menginfeksi 50 juta orang di negara berkembang.
Keganasan DB juga tampak di Indonesia. Pada Januari 2004 saja, telah ada 200 lebih kasus DB di lima wilayah Jakarta. Catatan sepanjang tahun 2003 juga menunjukkan adanya 59 kasus DB yang berujung kematian di Jakarta-rekor tertinggi selama lima tahun terakhir. Artinya, alarm telah menyala. "Kewaspadaan tinggi segera harus dipasang," kata Evy Zelfino, Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta.
Kabar dari daerah pun tak kalah mencemaskan. Sepanjang tahun lalu, dari 12 kabupaten di Jawa Tengah, tercatat 8.515 penduduk tersambar demam berdarah dan 186 di antaranya telah menjemput maut. Angka ini diperkirakan terus melonjak dan, sesuai dengan siklus tahunan, jumlah penderita bakal mencapai puncaknya pada April-Mei.
Dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, muncul berita senada. Rumah Sakit Umum Kupang, yang cuma punya 69 fasilitas tempat tidur, kewalahan menghadapi ratusan pasien DB. Sebagian dari mereka terpaksa dirawat sembari berbaring di tikar tipis yang digelar di koridor rumah sakit. "Tidak sedikit yang terpaksa diminta pulang karena rumah sakit sudah benar-benar penuh," kata Prof. Dr. W.Z. Johannes, Kepala Instalasi Rawat Darurat Rumah Sakit Umum Kupang.
Tentu tak ada yang hendak mengulang kejadian buruk enam tahun lalu. Pada Januari-April 1998, demam berdarah menghajar 27 provinsi di Indonesia. Angka penderita mencapai 16.466 orang dan 429 di antaranya meninggal. Begitu dahsyatnya serangan sehingga pemerintah menyatakan wabah demam berdarah kala itu sebagai KLB atau kejadian luar biasa.
Di negeri ini, kasus demam berdarah pertama kali ditemukan di Surabaya dan Jakarta pada 1968. Selanjutnya, DB terus berkembang seiring dengan pertambahan penduduk, modernisasi, dan kian rapatnya permukiman yang tidak diimbangi kesadaran hidup bersih.
Selain bersiklus tahunan, hantu DB punya irama yang khas, yakni melonjak setiap lima tahun sekali. Saat ini, untunglah, bukan termasuk rentang lima tahunan sejak wabah terakhir pada 1998. Namun waspada DB tetap mutlak dipasang mengingat penyakit ini sanggup menyebar dengan amat cepat.
Kecepatan gerak demam berdarah terungkap dalam jurnal Nature edisi terbaru. Adalah Profesor Donald S. Burke, ahli epidemiologi dari John Hopkins University, Maryland, AS, yang menemukan model matematika penghitung pergerakan demam berdarah di Thailand pada 1983-1997. Seperti gelombang, menurut Prof. Burke, penyakit demam berdarah sanggup menyebar dan menyapu wilayah dengan radius 148 kilometer per bulan. Thailand, dalam hal ini, kata Burke, hanya perlu waktu 8 bulan untuk sepenuhnya dikuasai wabah demam berdarah.
Selain bergerak cepat bagai gelombang, demam berdarah relatif makin susah dikenali. Gejala klasik bintik merah, seperti pada kasus Darrel, kerap kali tersembunyi. Ketika akhirnya diketahui, gerombolan virus dengue sudah beraksi demikian jauh hingga menyebabkan mimisan, gusi berdarah, sakit ulu hati, muntah-muntah hebat, dan kejang-kejang. Kondisi ini menunjukkan kawanan virus dengue sudah menjalar ke selaput otak, yang mengancam kelangsungan jiwa pasien.
Rita Kusriatuti, dari Bagian Arbovirusasi, Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan, membenarkan bahwa diagnosis DB sering agak sulit lantaran tidak muncul bintik merah yang kasatmata. Sebab, "Perdarahan terjadi pada organ dalam yang ada jauh di bawah kulit," katanya.
Rita melanjutkan, kekeliruan diagnosis sebenarnya bisa dihindari bila dokter melakukan teknik tourniquet. Caranya, tali elastis-bisa juga tali pengukur tekanan darah-diikat kencang pada bagian lengan atas selama lima menit sampai bintik merah di bawah kulit lengan bermunculan. Hal ini menandakan adanya kebocoran dinding pembuluh darah lantaran ulah virus dengue. Tes sederhana ini kadang lebih jitu ketimbang hasil tes laboratorium. Soalnya, kadar trombosit bisa turun drastis dalam waktu singkat, yang mungkin tidak tergambar saat pengambilan sampel darah.
Adakah pertolongan pertama jika ada anggota keluarga dekat yang terkena DB? "Beri minum yang banyak," kata Rita. Boleh air putih atau jus jambu biji, yang secara tradisional diyakini ampuh mengusir virus dengue. Air minum berfungsi menggantikan cairan tubuh yang hilang karena kebocoran pembuluh darah. Sementara itu, segeralah bawa pasien ke dokter terdekat untuk pertolongan lebih lanjut.
Ada lagi resep kuno yang jitu: bersihkan lingkungan tempat tinggal. Jangan biarkan jentik nyamuk Aedes aegypti-inang pembawa virus dengue-punya kesempatan hidup sentosa. Caranya, bersihkan dan taburkan bubuk abate di semua tempat genangan air, vas bunga, talang air, bak mandi, atau kolam renang. "Kedengarannya remeh," kata Rita, "tapi memang harus begitu."
Jurus pencegahan yang kuno tadi menjadi mutlak karena sampai saat ini belum tersedia vaksin penangkal demam berdarah. Maklumlah, "DB ini kan sepupu malaria, penyakit khas negara miskin," kata Duane Gubler, ahli dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), Colorado, Amerika. Karena kurang seksi itulah riset DB kurang didukung dana besar-besaran dari kalangan industri farmasi. Jadi, sekali lagi, jurus kuno mengusir nyamuk masih tetap berlaku.
Mardiyah Chamim, Ayu Cipta, Adek (TNR)
Perjalanan Sang Virus
Beginilah cara nyamuk Aedes aegypti, khususnya yang betina, menularkan virus dengue yang memicu demam berdarah.
Awalnya Cuma Demam Lima Hari
Dahulu kala, demam berdarah termasuk penyakit remeh. Ia disebut demam lima hari, cukup dibiarkan nanti juga sembuh sendiri. Tapi, tahun 1954, virus dengue yang menyebabkan demam berdarah bermutasi hingga lebih ganas dan membuat nyawa sejumlah anak di Filipina melayang.
Penyebab demam berdarah adalah empat serotipe virus dengue: den-1, den-2, den-3 (konon ini yang paling ganas), serta den-4. Yang bisa diisolasi di Indonesia adalah jenis den-2 dan den-3, sementara di Thailand banyak dijumpai serotipe den-2. Berkaitan dengan adanya empat serotipe ini, tak ada jaminan bahwa seseorang yang pernah kena demam berdarah tidak akan terserang demam berdarah lagi. Dia masih bisa terinfeksi virus dengue dengan serotipe yang lain.
beberapa fakta penting mengenai demam berdarah:
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
