• Home
  • 09 Februari 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 09 Februari 2004

    Batak Anti-Sadap

    MENJADI diplomat di luar negeri tak mesti cas-cis-cus terus. Duta Besar RI di Australia, Imron Cotan, misalnya, justru lebih sering menggunakan bahasa Batak-di rumah ataupun di kantor. Tapi, menurut anggota Komisi I DPR Chatibul Umam Wiranu, tujuan Imron jelas: agar bebas dari alat penyadap. "Waktu kami rapat di KBRI, Pak Imron juga meminta kami menggunakan bahasa yang tak bisa dimengerti pihak Australia," tuturnya.

    Kabar kedutaan dan rumah tinggal Duta Besar RI disadap semula mencuat dalam rapat kerja tertutup antara Ketua Lembaga Sandi Negara, Mayjen Nachrowi Ramli, dan Komisi I DPR Selasa pekan lalu. Kata Nachrowi, Australia telah menyadap kantor perwakilan Indonesia sejak 1991 lewat telepon, komputer, faksimile, dan surat elektronik.

    Tapi Departemen Luar Negeri tampak tak ingin membesar-besarkannya. Menterinya, Hasan Wirajuda, juga tak berniat menjadikannya pengganggu hubungan bilateral kedua negara.

    Sedangkan Menteri Luar Negeri Australia, Alexander Downer, menegaskan bahwa alat yang dipasang di kedutaan adalah alarm yang juga sengaja ditanam di seluruh perwakilan diplomatik negara-negara asing di Australia. Gunanya, untuk mendeteksi peristiwa mendadak yang mengancam. "Sejauh pengetahuan saya, yang ditemukan bukanlah alat penyadapan," kata Downer di Nusa Dua, Bali.

    Dewan Penyelamat Prematur

    KEKECEWAAN sejumlah kader dan tokoh PDI Perjuangan terus mencuat setelah Sophan Sophiaan dan Indira Damayanti Sugondo mundur dari DPR karena tak lagi sejalan dengan partainya. Kini terutama dipicu soal penyusunan daftar calon legislatif untuk Pemilu 2004.

    Mereka antara lain Muhammad (Max) Junus Lamuda, Amin Arjoso, Syahrul Matondang, Johar Harahap, Fauziah Abdulah, Mara Simon, Haryanto, I Ketut Bagiada, dan Sujarwo. "Kami akan membuat koreksi," kata Lamuda seperti diberitakan Koran Tempo.

    Mereka bahkan mulai menyusun wadah bernama Dewan Penyelamat PDIP. Diharapkan, dewan ini, yang akan dikomandoi Sophan Sophiaan atau deklarator PDI Abdul Madjid, dibentuk Maret ini. Selain Sophan, Ketua DPP PDIP Kwik Kian Gie termasuk pendukung ide itu. Namun, keduanya menginginkan bukan karena didorong sakit hati tak jadi calon anggota legislatif, dan dilakukan setelah pemilu. "Jika hasil pemilu bagus, biarkan DPP dan apresiasi," cetus Kwik. Sementara itu, Madjid ingin semua langkah perbaikan ditempuh melalui forum kongres. "Sekarang bisa prematur. La, yang mau diselamatkan juga belum dirumuskan, kok," katanya.

    Badai Melanda Jawa

    Dalam dua pekan terakhir, badai melanda beberapa wilayah di Jawa hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Di Manggarai, NTT, 20 rumah dan 11 bangunan terseret air bah. Juga dua orang tewas dan enam orang hilang. Jalur darat ke ibu kota Manggarai, Ruteng, putus total.

    Angin puting-beliung juga memorak-porandakan 65 perahu nelayan di Situbondo, Jawa Timur. Puluhan rumah rusak dan sejumlah pohon bertumbangan. Angin disertai hujan terjadi di pesisir Kabupaten Situbondo, Rabu malam pekan lalu. Jalur penyeberangan Situbondo-Madura di Pelabuhan Jangkar dihentikan sementara. "Setelah lama paceklik tangkapan, kini alat kami mencari nafkah juga rusak," keluh Agus Jumadianto, nelayan di Kecamatan Jangkar.

    Di Batu, Jawa Timur, banjir merusak puluhan hektare sawah, kebun apel dan tanaman hias, fasilitas umum, serta menyebabkan ratusan ternak tewas. Pemerintah setempat memperkirakan kerugian di tujuh desa itu sehari itu mencapai Rp 16,092 miliar.

    Di Jawa Tengah, enam rumah rusak berat dan ringan akibat longsor di Desa Cilangkap, Kecamatan Gumelar, Banyumas, Selasa malam pekan lalu. Pemda menganggarkan Rp 2 miliar untuk merelokasi rumah warga yang ditinggalkan karena rawan bencana.

    Di Majalengka, Jawa Barat, tiga rumah penduduk rusak parah akibat longsor. Juga sempat menghentikan arus lalu-lintas hingga sekitar lima jam. "Kami tidak menduga akan terjadi longsoran tanah sedahsyat ini," kata Ading, warga yang rumahnya ambruk.

    Tutut Gerilya di Yogya

    Calon presiden Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB), Siti Hardijanti Rukmana ("Mbak Tutut"), mulai bergerilya politik. Berkerudung dan berkebaya hijau bermotif bunga, Kamis pekan lalu ia menyambangi Fauzi A.R., putra mantan Ketua PP Muhammadiyah K.H. A.R. Fachrudin, di Yogyakarta. Sementara mereka berbicara empat mata, anggota rombongan putri sulung mantan presiden Soeharto itu membagi-bagikan stiker PKPB dan stiker bertuliskan "Mbak Tutut Calon Presiden".

    Tutut minta dukungan Fauzi? "Mbak Tutut kan orang Jawa, yang tidak ngomong terang-terangan seperti itu. Tapi memang ada nuansa yang seperti itu," kata Fauzi kepada Syaiful Amin dari Tempo News Room. Dan Fauzi, yang dipecat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PPP DIY September lalu karena tidak mendukung hasil munas di Jakarta, menyambutnya, "Saya welcome saja. Saya akan bantu."

    Laksamana 'Bebaskan' Tiga Staf BPPN

    Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap tiga staf Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Rabu pekan lalu. Mereka dituduh menjual secara tak sah Gedung Aspac. Polisi bertindak begitu menerima laporan pemilik lama gedung itu.

    Tapi tak lama. Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi langsung turun tangan. Menemui Kepala Kepolisian RI Jenderal Da'i Bachtiar, ia memprotes penangkapan tersebut. Hasilnya, tiga staf BPPN itu hanya ditahan semalam. Mestinya polisi tak mudah percaya terhadap laporan pengutang yang keberatan asetnya dijual BPPN, katanya.

    Apalagi pemegang saham Bank Aspac tersangkut kasus bantuan likuiditas Bank Indonesia. "Mereka itu kan kriminal," ujar Laks, panggilan Laksamana. Menurut Koran Tempo, BPPN lalu mengirim surat berisi kronologi pengambilalihan dan penjualan aset Aspac untuk memperkuat argumen Laks. Seperti menyadari kekeliruan pihaknya, Da'i mengatakan staf BPPN dilepas karena mereka melaksanakan kebijakan pemerintah.

    Parah, Akibat Gempa Papua

    GEMPA tektonis di Nabire, Papua, Jumat pekan kemarin menewaskan 24 orang. Berkekuatan 6,91 skala Richter, gempa selama 25 menit sejak pukul 06.50 WIT itu menghancurkan ratusan rumah, tempat ibadah, dan gedung perkantoran. Aktivitas warga jadi lumpuh.

    Gedung DPRD Nabire senilai Rp 16 miliar yang baru diresmikan hancur. Seorang polisi, Yorgen Mirino, tewas tertimpa reruntuhannya. Ruas-ruas jalan terbelah meninggalkan lubang sebesar kubangan kerbau. Karena kantornya rusak berat, kegiatan BNI terpaksa berhenti.

    Menurut Direktur RSUD Nabire Dr. Pieter Padola, korban meninggal dan luka-luka sementara 68 orang. Sebanyak 12 korban gawat diestafetkan ke Biak lalu ke Makassar dengan pesawat Trigana dan Merpati. "Daftar korban meninggal bisa bertambah karena beberapa langsung dimakamkan keluarganya," ujarnya.

    Tim penyelamatan bentukan Pemerintah Provinsi Papua megirim bantuan 15 ton beras, ratusan kartun mi instan, obat-obatan, dan tenda. Dinas Kesehatan Papua juga mengirim satu dokter dan dua paramedis khusus. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Menteri Sosial, serta Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah juga siap berangkat ke Nabire, Sabtu pekan lalu.

    Sudrajat, Ecep S. Yasa, Cunding Levi, Lita Oetomo, Sita Planasari, Anas Syahirul (TNR)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Harmani Kalim

Buku

Selamat Datang, Faiz dan Izzati

Fotografi

Ketika Dewa Turun ke Bumi

Indonesiana

Indonesiana

TEMPO|interaktif

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif