• Home
  • 23 Februari 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Film
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Fotografi
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 23 Februari 2004
    Penghargaan untuk 'Si Monyet'

    Ki Warsino Sukasno, 84 Tahun

    Ki Ngabehi Warsino Sukasno hampir saja dilupakan zaman. Meski sudah 68 tahun mengabdikan diri di dunia wayang kulit, namanya nyaris tak terdengar. Hidup Warsino pun jauh dari ingar-bingar kepopuleran: tinggal di rumahnya yang sederhana di Ngadirojo, desa terpencil di Wonogiri, Jawa Tengah. Padahal dari tangannya mengalir dalang hebat seperti Ki Manteb Sudarsono dan Ki Anom Suroto.

    Nama Ki Warsino baru mencuat kembali setelah Presiden Megawati Soekarnoputri menganugerahkan Satya Lencana Kebudayaan kepada dalang berusia 84 tahun itu, Jumat dua pekan lalu. Jasa terbesar Warsino, kata Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata, I Gde Ardhika, adalah usahanya mempertahankan pakem-pakem seni pewayangan.

    Di tangan Mbah Warsino, 4-5 wayang tokoh kera bisa dimainkan dengan liar, hidup, dan mempesona. Karena kehebatannya itulah mantan presiden Soekarno menjuluki dalang itu: Warsino Kethek (monyet).

    Meski tak lagi mendalang, Warsino masih mengamati dunia pewayangan. Sesekali dia mengkritik dalang muda. "Mereka kebablasan," katanya sambil menunjuk contoh para dalang muda yang kerap meminta pesindennya berdiri untuk memikat perhatian penonton. "Saya tidak antikreasi. Saya tidak mau seni pedalangan ini jatuh menjadi karya seni murahan," kata Ki Warsino.

    Imron Rosyid


    Berpulangnya 'Provokator'
    Mansour Fakih, 50 Tahun

    Para penegak hak asasi manusia Indonesia kehilangan salah satu "provokatornya". Minggu, 15 Februari 2004, anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Mansour Fakih, berpulang ke Rahmatullah setelah sembilan hari bertarung melawan stroke di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta.

    Mansour masuk ke rumah sakit pada 9 Februari lalu setelah terkena serangan otak. Penyakit yang sama pernah menyerangnya pada 1998. Namun dalam serangan kedua itu pembuluh darah di otaknya pecah. Kondisi itu membuat istrinya, Nena Lam'anah, dan dua putranya-Farabi Fakih, 22 tahun, dan Fariz Fakih, 19 tahun-pasrah dan akhirnya mengikhlaskan kepergian Direktur Institute for Social Transformation (Insist) itu. Satu per satu alat bantu di tubuhnya dicopot dan keluarga itu pasrah menunggu sampai detak jantungnya benar-benar terhenti pada Minggu pukul 24.00.

    Pria yang lahir di Desa Kedung Gudel, Kecamatan Walikukun, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur ini memperoleh gelar master dan doktor di University of Massachusetts, Amerika Serikat. Namun perjalanan intelektualnya dimulai dari Jurusan Teologi dan Perbandingan Agama IAIN Syarif Hidayatullah di Jakarta.

    Bergabung dengan berbagai lembaga swadaya masyarakat seperti LP3ES, OXFAM, dan Insist, Mansour sering mengeluarkan kritik tajam terhadap konsep-konsep pembangunan. Dia juga pernah terpilih menjadi wakil Asia di Helsinki Process, forum internasional yang diprakarsai kementerian luar negeri Finlandia untuk mengatasi dampak globalisasi. Kritiknya soal reformasi sosial, globalisasi, dan pendidikan bertebaran di berbagai jurnal, koran, dan buku.

    Heru C.N.


    "Orang yang mencuri ayam atau kambing saja dihukum. Tapi orang yang salah mengelola uang negara tidak dihukum."
    - Praktisi hukum Todung Mulya Lubis, Kamis pekan lalu, di Jakarta saat menanggapi usul eksaminasi publik terhadap kasus Akbar Tandjung.

    "Anak saya sudah sedemikian sekarat, masih juga dibilang tidak apa-apa."
    - Ayuni, orang tua korban demam berdarah yang akhirnya harus kehilangan nyawa anaknya, Selasa pekan lalu, di Jakarta.


    TEMPO DOELOE

    23 Februari 1945
    Tentara Amerika Serikat menduduki Iwo Jima, Jepang,

    24 Februari 1868
    Andrew Johnson menjadi Presiden Amerika Serikat pertama yang dipecat oleh Senat setempat.

    25 Februari 1964
    Cassius Clay atau yang dikenal sebagai Muhammad Ali tanpa diduga menganvaskan juara kelas berat Sonny Liston. Itulah awal kejayaan Ali.

    25 Februari 1890
    Penemu bom molotov yang juga mantan Menteri Luar Negeri Uni Soviet, Vlacheslav Mikhaylovich Skryabi, lahir di Kurkaka, Rusia.

    26 Februari 1946
    Pesawat Lucky Lady II membukukan rekor pertama keliling dunia nonstop. Pesawat itu butuh empat kali isi bahan bakar di udara dan menempuh 94 jam.

    26 Februari 1993
    Pada saat makan siang, sebuah bom meledak di tempat parkir gedung World Trade Center, New York, menewaskan enam orang dan melukai 1.000 orang.

    27 Februari 1964
    Pemerintah Italia setuju mengurangi kemiringan Menara Pisa, yang saat itu terancam ambruk.

    28 Februari 1992
    Kepopuleran Star Trek diabadikan dalam Museum Nasional Udara dan Angkasa di Washington, AS. Di museum itu disimpan berbagai pernik Star Trek, mulai dari kostum hingga kuping Mr. Spock. n


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan untuk 'Si Monyet'

Ki Warsino Sukasno, 84 Tahun

Buku

Politikus Kawakan Berdarah Betawi

Catatan Pinggir

Prancis

Fotografi

Kekejaman Romusa dalam Rekaman

Jejak Romusa di Dada Papa

Upaya Membekukan 'Deja-vu' Sejarah

TEMPO|interaktif

Metro

Satpam IPB Korban Penembakan Langsung Dimakamkan

Nasional

Jusuf Kalla: Pemerintah Harus Stop Jadi Penghimbau!

Olahraga

Van der Vaart Sarankan Robben Bertahan di Muenchen

Olahraga

Pereli Subhan Aksa Sementara Masuk 3 Besar

Nasional

Corby Sudah Bisa Ajukan Bebas Bersyarat  

Ronaldo : Portugal Akan Kalahkan Jerman

Nasional

Pertamina Luncurkan SPBU Khusus di Bali

Nasional

KPK Tahan Bekas Wali Kota Cilegon  

Olahraga

Feature Race Monaco, Rio Finis Posisi 14  

Nasional

Buntut Bentrok Lahan PTPN II, Kantor Dibakar

Nasional

Soal Ani Yudhoyono Jadi Capres, Demokrat Diminta Hormati Putusan SBY

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif