• Home
  • 23 Februari 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Film
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Fotografi
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 23 Februari 2004

    Upaya Membekukan 'Deja-vu' Sejarah

    Fotografi jurnalistik sesungguhnya membekukan deja-vu sejarah. Merekam kepandiran manusia yang selalu berulang secara historis. Genocide, kekerasan, penghancuran alam, dan perilaku yang membuat bumi kehilangan kodratnya. Sebagai saksi mata, karya foto jurnalistik diwajibkan selalu hadir untuk menyuarakan ketimpangan-ketimpangan itu. Sejak 1955, di Amsterdam, Yayasan World Press Photo hadir untuk memprakarsai penganugerahan foto jurnalistik tahunan yang hingga detik ini dianggap kontes paling bergengsi di ajang fotografi jurnalistik di seluruh jagat ini. Hingga penyelenggaraannya yang ke-47 pada tahun ini, penghargaan foto jurnalistik terus hadir dan selalu menggugat angkara dan kezaliman politik.

    Sayangnya, kontes kali ini tetap berlangsung di tengah kekerasan, yang tersirat juga dari materi foto yang masuk meja penjurian. Dipimpin Elisabeth Biondi, redaktur visual The New Yorker, para juri yang terdiri dari adonan fotografer senior kantor berita, majalah, dan fotografer lepas, menggodok 63.093 imaji yang dibuat 4.176 fotografer profesional dari 124 negara. Melalui proses penjurian yang berlangsung lebih dari sepekan, kontes ini dengan suara bulat memilih satu imaji yang dibuat fotografer Prancis yang bekerja untuk kantor berita AS, Associated Press, Jean-Marc Bouju, 42 tahun, sebagai representasi peristiwa dunia yang suram dengan intrik politik, terorisme, dan peperangan.

    Bouju adalah fotografer kawakan yang sebelumnya pernah dua kali meraih anugerah Pulitzer (1995 kategori feature dan 1999 kategori spot). Dia mengabadikan peristiwa bersejarah itu ketika berada di markas Divisi 101 Lintas Udara AS di Najaf, yang juga berfungsi sebagai pusat kamp tawanan Perang Irak. Dari balik kawat berduri yang mengelilingi markas, Bouju mengarahkan lensanya ke seorang pria yang mengenakan tutup kepala dari sebuah kantong, duduk di tanah sambil menenangkan putranya yang berusia empat tahun di pangkuannya. Perlindungan seorang ayah membuat sang putra yang ikut diciduk pasukan koalisi bersama sang ayah itu terlihat sangat tenang dan nyaman. Wajahnya memperlihatkan kesejukan dalam ketegangan yang mencuat di kamp tawanan itu. Imaji Bouju bak menawarkan setetes air pegunungan bagi para dewan juri yang pastinya penat melihat kekerasan yang hadir dalam karya peserta kontes kali ini.

    Secara fotografis, kata Gary Knight, salah seorang juri yang juga pewarta foto dari Agency VII yang terkenal itu, karya Bouju termasuk sederhana dan sangat langsung. Namun, katanya, "Perhatikan dengan saksama beberapa saat, barulah kita bisa mengerti dan merasakan melalui foto tersebut apa arti peperangan bagi umat manusia." Begitu banyak peserta kontes mengirim foto tentang Perang Irak, namun karya Bouju yang sederhana itu terpilih karena dia mencuatkan simbol dari korban perang, bukan imaji dari seorang prajurit yang tengah bertempur. Kasih sayang dan kesejukan yang tebersit dari caranya memeluk putranya tampaknya yang sekaligus merebut hati segenap anggota dewan juri dengan aklamasi bulat dan menetapkan karya tersebut sebagai representasi harapan terhadap perdamaian umat manusia dari 20 kategori yang dilombakan dalam kontes tahunan itu.

    Secara keseluruhan, karya Bouju sekaligus adalah penyeimbang dari berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi di seluruh wilayah bumi kita. Fotografer Bangladesh, Shahidul Alam, yang memimpin dewan juri kontes tahun lalu, juga memutuskan memenangkan karya pewarta foto Armenia-AS, Eric Grigorian, dari agen foto Polaris, yang memperlihatkan seorang anak lelaki yang menangis memegang sepatu dan baju ayahnya yang tengah dikebumikan secara massal, menyusul gempa dahsyat yang terjadi di Provinsi Qazvin, Iran tenggara, pada 23 Juni 2002. Bencana tersebut menewaskan lebih dari 500 orang. Dengan medium hitam putih, fotografer tersebut berhasil menjadikan sang anak sebagai subyek sentral yang tidak berdaya, teralienasi, sementara kerabat lain sibuk mengubur makam, sibuk dengan urusan mereka sendiri. Sepatu dan baju sang ayah tercinta dipeluk erat-erat oleh sang putra. Kepergian tragis, karena kasih sayang sekaligus lenyap bersamanya.

    Dewan juri kelihatannya masih mengambil imaji hubungan orang tua dan anak sebagai simbol yang dianggap dramatis untuk mengetuk kekerasan agar memberikan kesempatan bagi perdamaian. Di luar karya Bouju, masih ada delapan fotografer lain yang meraih penghargaan di beberapa kategori peristiwa yang dicuplik dari Perang Irak. Enam fotografer lainnya meraih penghargaan dari imaji mereka yang dibekukan di sejumlah negara di Afrika, serta dua pemenang merekam kekerasan di Palestina. Seperti karya Bouju yang interpretatif itu, karya seorang pewarta foto muda asal Medan, Tarmizy Harva, yang bekerja sebagai fotografer lepas untuk Reuters, ternyata juga dilirik dewan juri, dan fotonya tentang kekerasan di Aceh Utara mendapat anugerah honorable mentioned sekaligus menambah daftar langka insan pers Indonesia yang karyanya berhasil berbicara di pentas foto jurnalistik dunia.

    Dalam koridor yang sama, karya Tarmizy Harva, yang kerap dipanggil Meji oleh rekan sejawatnya, menyodorkan lagi-lagi sebuah tragedi peperangan yang bisa dibaca sebagai karya foto yang menyiratkan semangat antiperang. Meji, pemuda 33 tahun yang lahir dan besar di Medan, suatu siang berjalan menyisir kawasan Aceh Utara. Almanak menunjukkan 17 Juni, saat dia melintas di suatu desa, Meji ditegur oleh seorang penduduk setempat yang ingin menyampaikan info berkaitan dengan ditemukannya sesosok jenazah di kawasan hutan pinang. Meji, yang selalu kritis terhadap info yang beredar di atmosfer peperangan, berpendapat bahwa info penduduk tersebut bisa dipercaya. Lalu dia memutuskan berjalan ke tempat yang diarahkan penduduk. Meji bersama almarhum Ersa Siregar, seorang kameraman AFP, dan seorang fotografer Asahi Shimbun, sampai di Dusun Batee Leusung, Aceh Utara, beberapa saat kemudian. Di lokasi itulah mereka kemudian menyaksikan mimpi buruk. Jenazah seorang pria berlumuran darah terikat di salah satu batang pohon pinang hanya mengenakan celana dalam gelap, sementara singletnya dililitkan di leher untuk menyangga agar kepala korban tidak terkulai. Di sebelah kanan korban tampak kerabat perempuan korban yang menggendong seorang bocah perempuan dengan mimik ketakutan. Matanya menatap bagian kepala korban yang berlumuran darah. Setelah mendekat, Meji tertegun, "Saya kerap melihat kekerasan, tapi yang ini membuat saya terhenyak, dan baru beberapa saat kemudian saya teringat untuk memotret realita itu," tutur Meji, yang dihubungi per telepon di Medan.

    Rupanya, sebelum ada wartawan yang mendekati kawasan itu, tak ada seorang pun penduduk yang berani mendekat ke arah jenazah apalagi menguburnya, termasuk keluarga sang korban. Pria malang itu, berusia kira-kira 21 tahun, bernama Muzakir Abdullah, penduduk setempat, sehari-hari dikenal sebagai guru di salah satu pesantren di tempat itu. "Perempuan yang dalam foto mengusap wajah berlumuran darah adalah kakak kandung almarhum," tambah Meji, yang kemudian dengan sikap etis memotret atmosfer menegangkan tersebut dari arah belakang korban. "Sebagai dokumentasi, aku juga memotret peristiwa itu dari depan. Tapi aku memutuskan foto dari arah belakang sebagai materi yang saya serahkan untuk dipublikasikan Reuters Jakarta," kata Meji. Sejak gambar itu dikirim, Meji tak pernah lagi menyentuhnya, hingga beberapa bulan kemudian editor foto Reuters, Enny Nuraheni, meneleponnya dan menyarankan agar gambar tersebut diikutkan dalam kontes World Press Photo tahun ini.

    Foto yang menggetarkan karya Meji tersebut juga adalah suatu gambaran betapa tak bernilainya sebentuk nyawa dalam peperangan, bagaimana trauma kekerasan terpatri dalam ingatan seorang bocah yang menyaksikan kebiadaban tersebut. Suatu pertanyaan untuk teori perang yang dulu gigih digemborkan Karl von Clausewitz adalah sebagai jalan menuju perdamaian. Dalam benang merah inilah, karya Meji dan Bouju adalah juga suatu karya yang dengan tajam dan keras, dengan caranya masing-masing, menerobos memori visual kita sekaligus mengingatkan teori politik dengan perangkat kekerasan hanyalah menguatkan pendapat De La Mettrie bahwa manusia tak lebih dari mesin alias mekanisme tak berjiwa.

    Sementara denting sampanye, semerbak parfum berbaur dengan tawa renyah hadirin dalam jamuan malam formal ketika pengumuman anugerah foto terbaik tentang kemalangan dunia itu berlangsung di ruang utama Gedung Balai Kota Amsterdam, kekerasan terus berlangsung di Ramallah sampai Yangoon, di Karakas sampai Aceh, dan di mana pun di seluruh pedalaman bumi yang tak terjangkau lensa dan klik para jurnalis foto. Kekerasan merajalela dalam sepi, merayap tak terbendung menghampiri ratusan, ribuan bahkan jutaan jiwa yang meregang nyawa untuk pergi dengan sia-sia. Membuat dunia semakin sengsara dan kehilangan martabat sekaligus peradabannya.

    Oscar Motuloh, Fotografer Antara


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan untuk 'Si Monyet'

Ki Warsino Sukasno, 84 Tahun

Buku

Politikus Kawakan Berdarah Betawi

Catatan Pinggir

Prancis

Fotografi

Kekejaman Romusa dalam Rekaman

Jejak Romusa di Dada Papa

Upaya Membekukan 'Deja-vu' Sejarah

TEMPO|interaktif

Metro

Satpam IPB Korban Penembakan Langsung Dimakamkan

Nasional

Jusuf Kalla: Pemerintah Harus Stop Jadi Penghimbau!

Olahraga

Van der Vaart Sarankan Robben Bertahan di Muenchen

Olahraga

Pereli Subhan Aksa Sementara Masuk 3 Besar

Nasional

Corby Sudah Bisa Ajukan Bebas Bersyarat  

Ronaldo : Portugal Akan Kalahkan Jerman

Nasional

Pertamina Luncurkan SPBU Khusus di Bali

Nasional

KPK Tahan Bekas Wali Kota Cilegon  

Olahraga

Feature Race Monaco, Rio Finis Posisi 14  

Nasional

Buntut Bentrok Lahan PTPN II, Kantor Dibakar

Nasional

Soal Ani Yudhoyono Jadi Capres, Demokrat Diminta Hormati Putusan SBY

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif