Hidup seolah jalan lempeng nan mulus bagi Nova dan anaknya, Bima. Rumah mereka terletak di kompleks permukiman yang mentereng dan tentu saja tidak kumuh, di Jalan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Sekolah anak semata wayang yang baru berumur 6 tahun itu pun megah: High/Scope Indonesia, di Jalan T.B. Simatupang, Jakarta Selatan.
Toh, virus demam berdarah tak peduli siapa yang mereka sengat. Kamis, 29 Januari lalu, sepulang dari sekolah, badan Bima tiba-tiba memanas. "Semakin lama semakin memanas, sampai 40,5 derajat Celsius," kata Nova kepada TEMPO. Obat penurun panas sudah dia berikan, tapi tak mempan juga. Alhasil, dari malam hingga pagi, ibu muda itu begadang mengompres anaknya.
Keesokan harinya, dia membawa Bima ke rumah sakit terkenal di dekat rumahnya. Sayang, dokter langganannya tidak ada. Ia bergegas ke dokter langganan yang lain, tapi juga tidak ada. "Sedang pelesir ke luar negeri," kata suster. Apa bolah buat, Nova pun berusaha mencari dokter lain. Namun lagi-lagi keberuntungan tak berpihak. Sejak siang hingga sore itu, badai mengamuk di Jakarta Selatan. Jalanan macet, upaya mencari dokter pun baru bisa petang hari. Dan nasihat dokter ringan saja: Bima panas karena radang tenggorokan biasa. Dokter memberinya obat penurun panas dan antibiotik yang banyak dijual di pasaran.
Merasa tidak puas, Nova mencari pendapat dokter lain kenalannya. Tapi diagnosisnya idem dito. Nova pun pasrah, berharap diagnosis itu sudah benar. Tiga hari kemudian, Bima tak kunjung sembuh. Panas yang sempat turun tak lama naik lagi. Kini Bima yang penurut itu mulai sering muntah. Ini berlangsung terus hingga hari keempat (Senin, 2 Februari).
Kecemasan Nova memuncak ketika sorenya tiba-tiba ia mendapati bagian bawah tubuh Bima sangat dingin, padahal bagian atas badannya superpanas, 40 derajat Celsius. "Belakangan saya tahu, itu karena darahnya sudah beku semua," katanya. Dengan panik, Nova pun membopong anaknya ke Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. Dokter momvonis, Bima kesayangannya terkena demam berdarah, bukan radang tenggorokan biasa.
Tapi nasib buruk belum juga berhenti mengelus Nova. Ruang perawatan intensif di rumah sakit itu penuh sesak. Ia terpaksa memindahkan Bima ke sebuah rumah sakit elite lain di Jakarta Selatan. Di sini, bukannya segera ditangani, Bima malah diminta menjalani pemeriksaan dari awal. Hasil pemeriksaan dari rumah sakit sebelumnya tak dilongok sedikit pun.
Di rumah sakit terakhir inilah, seperti dikisahkan Nova di Metro TV, kondisi Bima makin drop. Baru saat itu dokter dan perawat sibuk mencari hasil pemeriksaan dari Rumah Sakit Pondok Indah. Nova, yang kecewa mendapati pelayanan sembarangan seperti itu, sempat berniat memindahkan Bima ke rumah sakit lain, tapi terlambat. Badan anak periang itu menjadi super-ringkih. "Anak saya cuma bertahan dua hari di sana," katanya sedih.
Bima meninggal setelah kondisinya makin buruk dan cairan infus tak bisa menolong, sementara tinjanya juga menghitam karena penuh darah. Sebelumnya, pukul 1 dini hari, saat Nova baru usai melakukan salat malam, Bima memanggil lirih. Napasnya ngos-ngosan, tubuhnya menggigil. Nova, yang panik, segera berlari memanggil perawat. Ketika bantuan pernapasan datang, detak jantung sudah mulai menghilang. Suntikan adrenalin juga tak mempan. Beberapa detik kemudian, grafik detak jatung anaknya berubah lurus. Bima telah pergi, untuk selamanya. "Saya sedih, tapi saya tak mau menyalahkan dokter. Saya ikhlas," kata ibu muda yang kini lelah karena harus berbagi cerita sedihnya di televisi, radio, dan media cetak itu.
Itulah pelajaran pahit yang dialami Nova. "Nyamuk demam berdarah ini bisa menyerang siapa saja. Meski rumah kita bersih, bagaimana lingkungan kita? Nyamuk ini bisa terbang sejauh 100 meter," katanya sendu. Satu hal yang juga paling diingat Nova, demam berdarah yang menyerang anaknya itu tak pernah menampakkan ciri khasnya: bercak-bercak merah di sekujur tubuh. "Saya sangat terpukul," katanya di sela-sela acara pengajian untuk memanjatkan doa bagi kepergian Bima.
Salah diagnosis seperti yang terjadi pada Bima juga menimpa keluarga sutradara terkenal Garin Nugroho. Ceritanya bermula ketika pada 7 Februari lalu dua anak Garin, yakni Gibran, yang duduk di bangku kelas III SMP, dan adiknya, Adinda, kelas IV SD, terserang demam tinggi. Dokter langganan Garin awalnya menduga keduanya terkena tifus dan flu. Bahkan istrinya juga ketularan dan ikut ambruk. Jadilah mereka dirawat di rumah sakit.
Saat itu, Garin sedang bepergian ke Berlin, Jerman. "Pusing juga menerima telepon dari istri karena hampir semua kena, kecuali anak bungsu saya," kata sineas asal Yogyakarta itu. Garin pun buru-buru pulang. Belakangan, setelah mengecek darah anak dan istrinya, Garin tahu bahwa diagnosis dokter meleset. Demam berdarahlah yang membuat kedua anak dan istrinya ambruk. Garin mafhum mengapa mereka terserang demam berdarah. Kompleks permukiman yang mereka tinggali di Joglo, Jakarta Barat, memang dikepung banyak rawa dan sawah bekas yang menjadi sarang nyamuk.
Untung saja sutradara film Aku Ingin Menciummu Sekali Saja itu tak terlambat mengobati keluarganya. Anak dan istrinya cuma menginap sepekan di rumah sakit. "Mereka seharusnya sekarang beristirahat, tapi istri saya mulai bekerja, anak saya juga minta sekolah," kata Garin bungah.
Berbeda dengan Garin dan Nova, Nyonya Masta tak pernah terkejut lagi bila keluarganya terserang demam berdarah. Ia sudah berpengalaman karena selama dua tahun terakhir, Michael, 8 tahun, anaknya, jadi "pelanggan" penyakit yang cuma menyerang daerah tropis itu. "Ketika pekan lalu Michael kena demam tinggi, langsung saya bawa ke rumah sakit dan minta periksa darah. Takut ada apa-apa," kata wanita berlogat Batak campur Betawi yang tinggal di Jalan Jati I-15, Tanjung Priok, Jakarta Utara itu.
Dugaannya tak salah. Saat diperiksa 15 Februari lalu, jumlah trombosit Michael sudah di bawah normal. Kulitnya juga mulai dihiasi bintik-bintik merah. Hari itu juga siswa kelas II SD Strada Tanjung Priok ini segera diopname.
Masta lega karena buah hatinya lolos dari terkaman maut wabah yang telah menewaskan ratusan orang itu. Jumat pekan lalu, setelah enam hari dirawat inap di Rumah Sakit Koja, Jakarta Utara, Michael boleh pulang. Suhu tubuh anak kedua dari tiga bersaudara itu, kata Masta, memang sudah tak tinggi lagi, tapi kondisinya harus tetap diwaspadai. Dokter cuma berpesan, trombositnya belum normal. Jadi, meski sudah boleh pulang, Michael wajib minum air yang banyak.
Kini satu-satunya yang masih memusingkan Masta adalah bagaimana dia harus membayar biaya perawatan dan obat yang lebih dari Rp 2 juta. "Saya sudah mengurus kartu sehat di RT, RW, dan kelurahan agar ongkos rumah sakit bisa gratis, tapi ternyata kartu itu tak berlaku karena kamar kelas III penuh," kata istri sopir itu, "Mudah-mudahan saja bisa terbayar dan tahun depan Michael tak kena lagi demam berdarah. Kalau enggak, saya bakal pusing lagi."
Burhan Sholihin, Ucok Ritonga, Nunuy Nurhayati (Tempo News Room)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

