Satu lagi saksi revolusi telah pergi. A.M. Hanafi, tokoh pejuang Angkatan'45, meninggal dunia Selasa pekan lalu. Lelaki kelahiran Bengkulu ini menjemput maut saat dirawat di Rumah Sakit George Pompidou, Paris, karena perdarahan sistem pencernaan. Dia dimakamkan di Paris meskipun banyak anggota keluarganya yang berharap almarhum dimakamkan di Indonesia.
Pada masa pemerintahan Sukarno, 1963-1966, Hanafi menjadi Duta Besar RI untuk Kuba. Hubungan erat antara Sukarno dan Fidel Castro telah membuat posisi Hanafi amat penting.
Posisi Hanafi berubah drastis ketika Soeharto naik ke tampuk kekuasaan, 1966, dan menyapu bersih apa pun yang berbau Sukarno. Hanafi tidak diizinkan pulang, paspornya dibekukan, dan dia hidup dalam kesunyian di Havana, lalu pindah ke Paris. "Saya jadi buangan politik seperti penderita lepra," kata Hanafi (TEMPO, 19 Desember 1999).
Baru pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, Hanafi diizinkan ke Indonesia. Setelah itu, tiga kali dia pulang-balik Jakarta-Paris. "Satu yang paling dia inginkan: rehabilitasi nama Bung Karno. Itulah satu-satunya penyesalannya karena belum bisa dia kerjakan," kata Endang Teja Nurjaya, satu dari lima anak Hanafi. Sukendah, sang istri, telah mendahuluinya berpulang setahun lalu.
Berpulangnya Pakar Nahdlatul Ulama
Mahrus Irsyam, 60 tahun
Dunia akademis Indonesia kehilangan salah satu ahli politik Islam terbaiknya. Mahrus Irsyam, 60 tahun, menghadap Tuhan, Selasa, 2 Maret lalu, setelah sebulan dirawat di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita karena serangan jantung.
Peneliti senior dan staf pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia ini adalah pene- liti Indonesia pertama yang sangat intens mengkaji masalah Nahdlatul Ulama. Pada 1975, dia menulis Manuskrip Nahdlatul Ulama 1944-1952. Kelak buku ini menjadi salah satu rujukan utama para peneliti perpolitikan Indonesia.
Buku penting lain karya Mahrus adalah Ulama dan Partai Politik: Upaya Mengatasi Krisis. Di buku ini, selain menegaskan perhatian pada Nahdlatul Ulama dan politik Islam, Mahrus menggarisbawahi kecemasannya melihat gejala penonjolan politik identitas-termasuk agama, ideologi, suku, dan kelompok-secara berlebihan.
Di mata suami Tri Wahyuning dan ayah dua anak ini, penonjolan politik identitas hanya akan mendorong terjadinya konflik ideologi terbuka di antara massa kekuatan politik. Buku itu telah terbit dua dasawarsa lalu (1984), tapi masih relevan menjadi rujukan dalam situasi sekarang.
"Kita enggak pake perantara. Enggak pake lewat Gus Dur. Soalnya, pasti mahal sekali."
- Amal Ghozali, anggota tim sukses pendukung Siti "Tutut" Hardijanti Rukmana, kepada TEMPO pekan lalu tentang siapa yang menjadi perantara pertemuan antara Tutut dan para kiai di berbagai daerah.
"Kalau saya Pak Susilo, saya akan melaporkan pencalonan saya kepada Presiden.... Jangan seperti anak-anak yang hanya ngomong ke koran."
- Taufiq Kiemas, Selasa pekan lalu, di sela-sela acara pembekalan juru kampanye PDI Perjuangan di Jakarta.
TEMPO DOELOE
8 Maret 1982
Perang Afganistan memuncak. Amerika Serikat menuduh Uni Soviet menggunakan gas racun dan senjata kimia untuk membunuhi pejuang Afganistan.
9 Maret 1938
Komedian Bob Hope memulai debutnya. Ia menyanyikan lagu Thanks for the Memories dalam film The Big Broadcast of 1938.
10 Maret 1876
Telepon pertama di dunia mulai berfungsi. Pemakainya adalah Alexander Graham Bell, penemu alat berbicara jarak jauh itu.
11 Maret 1818
Novel Frankenstein; or the Modern Prometheus terbit. Kisah fiksi ilmiah tentang mayat hidup ini ditulis oleh Mary Wollstonecraft Shelley, 21 tahun.
12 Maret 1930
Mahatma Gandhi memulai revolusi damai dengan memimpin aksi mogok menentang kolonial Inggris.
13 Maret 1969
Walt Disney Studio merilis film Love Bug, kisah tentang mobil VW yang berperilaku mirip manusia.
14 Maret 1879
Albert Einstein lahir. Tentu saja tak perlu dijelaskan lagi siapa orang ini.
15 Maret 44 SM
Julius Caesar, penguasa Kekaisaran Romawi, ditikam sampai mati oleh 60 senator yang dipimpin Brutus dan Gaius. n
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
