Peta Politik Pemilihan Umum 1999-2004
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2004.
Tebal: XL + 774 halaman
Buku Peta Politik Pemilihan Umum 1999-2004 ini menyodorkan satu pelajaran politik. Berdasarkan Pemilihan Umum 1999, warna dominan partai adalah merah, kuning, hijau, dan biru, sebagai representasi PDI Perjuangan, Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Amanat Nasional. Warna itu merupakan abstraksi ideologi yang masih dipengaruhi aliran budaya warisan masa lalu.
Liddle (1992) mengemukakan pembelahan masyarakat Jawa yang dilakukan Geertz (1960)-santri, abangan, dan priayi. Feith dan Castles (1970) mengajukan pembelahan berdasarkan ideologi politik: nasionalisme radikal, Islam, tradisionalisme Jawa, komunisme, dan sosialisme demokratis. Aliran budaya itu memang tidak berhenti atau mati. Dia bagaikan kekuatan laten yang setiap saat dapat muncul kembali dalam bentuk baru.
Lihat kelahiran partai politik pada 1998 dan 2003, yang sarat warisan budaya masa lalu. Pembelahan model Geertz itu sulit terbantahkan. Ada warna merah, hijau, dan biru yang mereprentasikan abangan dan santri, atau nasionalis dan Islam. Di luar itu, agak samar, terlihat secara bening warna sosialis yang direpresentasikan dalam Partai Rakyat Demokratik, Murba, dan Perhimpunan Indonesia Baru.
Dalam perspektif itulah buku ini terkesan menjadi monumental. Sebab, database yang disajikan tidak sekadar memetakan hasil Pemilu 1999 di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota, tapi juga di tingkat kecamatan di seluruh Indonesia. Ada beberapa kecamatan kosong, karena tak ada data, tapi dengan membaca buku ini secara cerdas, mestinya setiap partai politik akan dapat memetakan kelemahan dan kekuatan mereka sekaligus menciptakan jurus-jurus maut untuk menghadapi Pemilu 2004 yang semakin dekat.
Banyak hal menarik dalam buku ini. Misalnya redupnya kekuatan Golkar di beberapa wilayah sejak kejatuhan Soeharto pada 21 Mei 1998. Selama pemilu Orde Baru, 1971-1997, suara Golkar rata-rata selalu di atas 63 persen di semua provinsi dan kabupaten/kota. Tapi dominasi Golkar itu, sejak Pemilu 1999, mulai rontok, disapu PDIP dan partai lain seperti PAN dan PKB. Namun database yang dipaparkan oleh buku ini menunjukkan bertahannya kemampuan Golkar di wilayah timur Indonesia, yakni Iramasuka.
Buku ini juga sanggup menggambarkan situasi di kalangan pemilih Islam. Kenyataan ini terlihat di Jawa Barat dan DKI, misalnya. PPP, yang pernah berjaya di kedua provinsi itu, rontok pada Pemilu 1999.
F.S. Swantoro
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
