Dari Pemungutan Suara ke Pertumpahan Darah
Pengarang: Jack Synder
Penerjemah: Martin Aleida dan Parakitri T. Simbolon.
Tebal: 498 + xviii halaman.
Penerbit: Gramedia, Jakarta,November 2003
Jalan menuju demokrasi sangat panjang, bahkan mengandung berbagai kerawanan. Buku karya Jack Synder, Dari Pemungutan Suara ke Pertumpahan Darah, melukiskan kemungkinan bahwa sebuah negeri yang baru mengalami kebebasan bisa jatuh ke dalam situasi konflik nasionalis.
Nasionalisme sipil, dengan elite politik yang tak merasa terancam oleh proses demokrasi dan dengan kelembagaan negara yang cukup kuat untuk menampung proses ini, cukup positif. Di sini demokrasi dapat membawa keadilan. Namun, nasionalisme SARA, yang membangkitkan solidaritas berdasar persamaan budaya, bahasa, agama, dan sejarah, kerap digunakan elite politik yang merasa terancam oleh demokratisasi. Lain lagi nasionalisme revolusioner dan lawannya, nasionalisme kontrarevolusioner. Nasionalisme jenis ini dipergunakan untuk mengembalikan militer ke kancah politik dengan satu tema: pemerintahan lama lebih baik dari pemerintahan yang akan dibentuk.
Ada beberapa yang perlu dikhawatirkan. Kalau napas para elite politik yang bercita-cita mulia itu kalah panjang, proses perubahan dengan mudah dibelokkan atau ditelikung para nasionalis yang hendak berkuasa atas dasar kepentingan sempit. Dan pers, yang lebih mudah didirikan di awal demokratisasi, bisa menjadi alat para maniak kekuasaan. Meski media profesional dapat berperan selaku pengimbang kepentingan-kepentingan elite dan tak perlu menjadi corong mereka.
Sejak Revolusi Prancis, demokratisasi pada tahan-tahap awal telah memicu berbagai pertarungan nasionalis yang paling berdarah. Synder juga menggunakan acuan sosial-ekonomi. Besarnya kelas menengah kota yang terpelajar dan makmur membantu mempermulus transisi di negara-negara pasca-komunis: Republik Chek, Polandia, Hongaria, dan Estonia. Transisi cenderung gagal (baca: jarang berhasil) di negara dengan pendapatan per kapita di bawah US$ 1.000, dengan jumlah kelas menengah yang kecil dan keterampilan warga yang rendah.
Adakah kacamata Synder dapat dipakai di Indonesia? Sosiolog Arief Budiman dalam kata pengantar mengatakan bahwa kita mesti hati-hati sebelum menyelenggarakan proses panjang ini.
M.M. Mien Haryanti, S.E.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
