• Home
  • 08 Maret 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 08 Maret 2004

    Jalan Berliku di Depan Kita

    Dari Pemungutan Suara ke Pertumpahan Darah
    Pengarang: Jack Synder
    Penerjemah: Martin Aleida dan Parakitri T. Simbolon.
    Tebal: 498 + xviii halaman.
    Penerbit: Gramedia, Jakarta,November 2003

    Jalan menuju demokrasi sangat panjang, bahkan mengandung berbagai kerawanan. Buku karya Jack Synder, Dari Pemungutan Suara ke Pertumpahan Darah, melukiskan kemungkinan bahwa sebuah negeri yang baru mengalami kebebasan bisa jatuh ke dalam situasi konflik nasionalis.

    Nasionalisme sipil, dengan elite politik yang tak merasa terancam oleh proses demokrasi dan dengan kelembagaan negara yang cukup kuat untuk menampung proses ini, cukup positif. Di sini demokrasi dapat membawa keadilan. Namun, nasionalisme SARA, yang membangkitkan solidaritas berdasar persamaan budaya, bahasa, agama, dan sejarah, kerap digunakan elite politik yang merasa terancam oleh demokratisasi. Lain lagi nasionalisme revolusioner dan lawannya, nasionalisme kontrarevolusioner. Nasionalisme jenis ini dipergunakan untuk mengembalikan militer ke kancah politik dengan satu tema: pemerintahan lama lebih baik dari pemerintahan yang akan dibentuk.

    Ada beberapa yang perlu dikhawatirkan. Kalau napas para elite politik yang bercita-cita mulia itu kalah panjang, proses perubahan dengan mudah dibelokkan atau ditelikung para nasionalis yang hendak berkuasa atas dasar kepentingan sempit. Dan pers, yang lebih mudah didirikan di awal demokratisasi, bisa menjadi alat para maniak kekuasaan. Meski media profesional dapat berperan selaku pengimbang kepentingan-kepentingan elite dan tak perlu menjadi corong mereka.

    Sejak Revolusi Prancis, demokratisasi pada tahan-tahap awal telah memicu berbagai pertarungan nasionalis yang paling berdarah. Synder juga menggunakan acuan sosial-ekonomi. Besarnya kelas menengah kota yang terpelajar dan makmur membantu mempermulus transisi di negara-negara pasca-komunis: Republik Chek, Polandia, Hongaria, dan Estonia. Transisi cenderung gagal (baca: jarang berhasil) di negara dengan pendapatan per kapita di bawah US$ 1.000, dengan jumlah kelas menengah yang kecil dan keterampilan warga yang rendah.

    Adakah kacamata Synder dapat dipakai di Indonesia? Sosiolog Arief Budiman dalam kata pengantar mengatakan bahwa kita mesti hati-hati sebelum menyelenggarakan proses panjang ini.

    M.M. Mien Haryanti, S.E.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Saksi Revolusi itu Telah Pergi

A.M. Hanafi, 86 tahun

Buku

Warna-warni Parpol 1999-2004

Jalan Berliku di Depan Kita

Catatan Pinggir

Karbala

Fotografi

Cerita tentang Fotografi

Indonesiana

Tergiur Bokong Bahenol

Seni Rupa

Menyusuri Waktu Bersama Dali

Pelukis dan Arsitektur

TEMPO|interaktif

Metro

Satpam IPB Korban Penembakan Langsung Dimakamkan

Nasional

Jusuf Kalla: Pemerintah Harus Stop Jadi Penghimbau!

Olahraga

Van der Vaart Sarankan Robben Bertahan di Muenchen

Olahraga

Pereli Subhan Aksa Sementara Masuk 3 Besar

Nasional

Corby Sudah Bisa Ajukan Bebas Bersyarat  

Ronaldo : Portugal Akan Kalahkan Jerman

Nasional

Pertamina Luncurkan SPBU Khusus di Bali

Nasional

KPK Tahan Bekas Wali Kota Cilegon  

Olahraga

Feature Race Monaco, Rio Finis Posisi 14  

Nasional

Buntut Bentrok Lahan PTPN II, Kantor Dibakar

Nasional

Soal Ani Yudhoyono Jadi Capres, Demokrat Diminta Hormati Putusan SBY

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif