MONSTER
Sutradara dan skenario: Patty Jenkins
Pemain: Charlize Theron, Christina Ricci, Bruce Dern
"Tuhan..., maafkan...."
Revolver itu meledak, pria santun itu tersungkur.
Telah empat kali wanita itu menghabisi nyawa lelaki. Tapi kali ini ia begitu gugup. Seperti biasa, ia mencari lelaki yang memberinya tumpangan, untuk dirampas mobilnya. Namun, kali ini ia tidak menemukan lelaki jenis hidung belang yang kerap ingin menggerayanginya (yang kemudian dibunuh olehnya). Lelaki itu tak meminta balas jasa seks apa pun, dan bahkan berjanji istrinya bisa membantu segala kesulitan wanita itu. Itu yang membuat badannya gemetar. Apalagi lelaki tersebut berdoa sebelum pelatuk ditariknya.
Film ini berangkat dari kisah nyata kehidupan Aileen Wuornos (Charlize Theron), wanita pembunuh enam laki-laki di Florida. Hidupnya pedih. Sedari kecil di Michigan, ia ditinggal ibunya, dianiaya kakeknya, diperkosa oleh teman terdekat ayahnya. Ia melarikan diri ke Florida, menjadi pelacur jalanan sejak usia 13 tahun. Ia tak memiliki sahabat pun kecuali kenalan seorang veteran Perang Vietnam pemabuk (Bruce Dern). Ia haus cinta dan menemukannya pada perempuan lesbian.
"Aku orang baik," katanya meyakinkan Selby Wall (Christina Ricci) di sebuah kamar motel murah, setelah sebuah adegan ranjangyang diberi porsi kecil dalam film. "Kau lihat aku membunuh karena terpaksa," tuturnya kepada sang kekasih. Film yang disutradarai Patty Jenkins ini ternyata tak berhasil dan tak berusaha masuk ke segi-segi psikologis untuk menggali akar trauma masa lalu Aileen.
Film dimulai dengan adegan Aileen menggumam sendiri kepada Tuhan, sebuah kemarahan teologis. Di tangannya hanya terdapat lima dolar. Di tengah keputusasaan hendak bunuh diri, ia berjalan ke sebuah bar lesbian. Di sanalah ia bertemu dengan seorang perempuan lesbian berusia 18 tahun, Selby. Dan klop. Selby, remaja yang rapuh, tengah membutuhkan sebuah pengalaman pembangkangan. Sebaliknya Aileen seorang wanita yang butuh kasih sayang. Sebetulnya, Aileen mengaku telah "mati terhadap selera seks apa pun" karena selama ini seks yang ia lajukan hanya mekanis. Pada diri Selby, ia tiba-tiba menemukan perasaan melindungi, perasaan yang hilang dari dirinya.
Sayang sekali, dari sosok Aileen yang begitu kompleks dalam film ini, hanya tampil sosok kriminalitas Aileen (itulah sebabnya judulnya sangat vulgar: Monster). Film ini memperlihatkan bagaimana pembunuhan pertama dilakukan karena semata-mata untuk mempertahankan diri. Tapi kemudian Aileen menemukan semacam kepuasan membunuh. Sebuah pelampiasan. Taktiknya selalu sama, berpura-pura menumpang, dan di mobil mengeluarkan foto: seorang anak kecil (tak diterangkan apakah itu foto anaknya, karena Aileen dalam kisah sebenarnya pernah hamil). Lalu ia memberikan "pelayanan", meminta mobil diarahkan ke tempat sepi, dan di situ kemudian sang pengemudi ia tembak dan mobilnya dirampas.
Adegan seks di tiap mobil tak begitu meyakinkan. Perjalanan pelarian dari motel ke motel (dengan lagu 1980-an seperti Debbie Blondie) juga tak begitu menegangkan. Tapi yang membuat film ini patut ditonton adalah penampilan Charlize Theron, aktris asal Afrika Selatan itu. Kita hampir tak bisa mengenali wajahnya yang cantik dan seksi. Ia berubah gembil dengan raut masam, kulit penuh barut, dan gigi padat besar seolah mau melesak keluar. Perangainya tergesa-gesa, tak jenak. Cara merokoknya juga tak rileks. Untuk peran ini, Theron menambah berat badannya 15 kilogram.
Dalam kisah aslinya, Aileen lebih dahulu dihukum selama dua tahun sebelum kemudian pada 9 Oktober 2002 mati di kursi listrik. Pers menjulukinya American first female serial killer. Di film, diperlihatkan Aileen berusaha kuat menahan air matanya agar tak jatuh ketika Selby, di pengadilan, mengacuhkan dia dan bersaksi memberatkannya. Giginya seolah gemeletuk. Sampai akhirnya Aileen digelandang keluar dan dia memaki hakim. Sungguh, penampilan Theron menyelamatkan film ini.
Seno Joko Suyono
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
