Tidak, ini bukan semacam refleksi, apalagi kritik, terhadap esai Susan Sontag dengan judul serupa. Akan tetapi judul ini kiranya menggambarkan sebuah refleksi cerdas, sekaligus jenaka dan juga seenaknya, tentang bagaimana foto telah menjadi bagian dari keberadaan kita, yang tampak dari pameran Top Collection: A Photography Project, di Ruang Rupa, Jakarta, sampai 10 Maret.
Datang dan bersiaplah mendapati abnormalitas sebuah pameran foto. Tidak ada "foto bagus" besar terbingkai indah dengan sorot lampu yang membangun suasana seturut hawa yang mau disebar oleh foto-foto yang digantung. Bahkan caption judul pada setiap karya juga tak akan Anda temukan. Anda akan mendapati setumpuk album foto plastik keluaran studio cuci cetak yang lazim kita temui di pojok-pojok daerah perumahan, potret 3R orang-orang bergigi drakula palsu, foto-foto produk studio yang biasa kita lihat terpajang di ruang-ruang tamu, foto-foto tua yang dipajang bersama keterangan tulisan tangan, sampul kaset-kaset bajakan, dan foto-foto mungil pengisi dompet yang juga ditempelkan secara kolase di dinding. Dan waspadalah terhadap detail umum ruangan: sakelar lampu, dinding keropos, dan ventilasi kamar, yang sepintas seperti disentuh tangan jahil. Kumpulan karya yang tersebar dalam ruang pamer itu menjadi sebuah pameran karena kehadiran sebuah katalog, pesta pembukaan, dan tentu saja gagasan.
Dalam pameran ini tidak ada cerita tentang pencapaian visual, tidak pula penerjemahan gagasan secara fotografis. Berbagai kemungkinan yang disediakan fotografi sebagai medium ekspresi tidak dihitung di sini. Pameran ini juga tidak dalam kategori yang ditempuh para fotografer kontemporer yang aneh-aneh itu, apalagi semangat reportase yang dramatis, mengesankan, lagi sensasional, sebagaimana sering kita lihat di media cetak. Pameran foto ini tidak mengarah ke sana.
Keenam anak muda ini (mereka lahir antara 1971 dan 1983) mau menyampaikan hasil amatan mereka tentang fotografi dalam keseharian masyarakat, baik sebagai konsumen (dipotret) maupun sebagai produsen (memotret). Namun, laku sosiologis ini tidak sama seperti yang ditempuh August Sander ataupun Salgado. Sebab, mereka tidak menggunakan kemampuan foto mengintensifkan realitas, tapi bagaimana foto digunakan dalam keseharian.
Desainer grafis Irwan Ahmett bekerja menanggapi ruang pameran yang sebentar lagi akan ditinggalkan Ruang Rupa untuk pindah ke tempat baru. Dengan semangat usil yang dikerjakan serius dan bermodal pemahaman akan kekuatan komunikasi visual sekaligus kesadaran ruang, dia menandai spot-spot ruangan yang tidak diperhatikan dengan eksplorasinya atas foto detail tubuh. Lidah Anda akan nyeri melihat foto potongan lidah yang terpaku di dinding, atau sakelar yang tertutup payudara dan Anda harus memegang putingnya untuk menyalakan lampu. Irwan memperlakukan ruang, sesuatu yang sering diterima sebagai sesuatu yang ada begitu saja, sebagai organisme. Bermacam jejak kegiatan manusia dalam ruang dianalogikan sebagai bagian-bagian tubuh.
Andang Kelana seharian nongkrong di dekat photo box sebuah mal di Jakarta, sambil memungut berlembar foto sisa dan yang tidak dipakai oleh pengguna photo box itu. Hasil kiasan inilah yang ia tempel di tembok. Memang seperti kerja iseng. Tapi, kalau kita perhatikan detail foto-foto kecil itu, kita bisa terheran-heran bagaimana kotak 1 x 1 meter itu mampu menghasilkan paparan sosial yang utuh tentang perkawanan, keintiman, dan keceriaan. Semuanya klise, tapi bukankah itu yang disuka?
Sementara Andang memperlihatkan kelompok masyarakat yang sudah biasa mendefinisikan diri dengan foto, Dimas Jayasrana memilih kelompok yang lain. Ia membuat pengumuman tawaran berfoto untuk warga se-RT lingkungan tempat tinggal keluarganya di Pasar Minggu. Mereka rata-rata tidak memiliki kamera, dan kelihatan canggung berhadapan dengan kamera. Pilihan lokasi berfoto pun cenderung repetitif, misalnya di depan mobil yang terparkir di sebuah garasi. Semua subyek menatap ke lensa, sadar bahwa dirinya sedang dipotret, dan memilih pose serta menyertakan benda tertentu untuk direkam agar kelihatan layak.
Perkara menggubah diri di depan lensa, kalau perlu berlebih-lebihan, ini jugalah yang diangkat Angki Purbandono. Dia pergi ke sebuah studio foto di Jalan Sabang dan minta difoto dalam berbagai kostum: haji bertasbih, berseragam wisuda sarjana dengan toga dalam latar buku-buku ensiklopedia, membawa raket bulu tangkis bersebelahan dengan piala setinggi pinggang. Tak ketinggalan gaya ala fotografer salon profesional, berjas lengkap dengan kamera format medium. Angki menunjukkan fungsi foto paling populer dalam masyarakat: sarana klaim sosial. Wimo Ambala Bayang, sebaliknya, melakukan percobaan membalik kecenderungan umum: orang ingin kelihatan prima di dalam foto. Berbekal sekantong gigi drakula plastik, Wimo berkeliling Jakarta, menawari orang-orang supaya memakainya untuk dipotret, lantas mencatat nama dan alamat subyek terpotretnya. Wimo sebetulnya sedang mengajukan pertanyaan utama setiap juru potret: apakah ia bisa meyakinkan orang lain bahwa dirinya mampu menghadirkan kembali citra orang tersebut?
Di luar kerenyahan di atas, Indra Ameng menawarkan sesuatu yang lebih reflektif dengan pendekatan yang sangat personal. Dia mengumpulkan foto-foto tua keluarganya sendiri serta teman-teman, dan mempresentasinya berdampingan dengan foto yang ia buat lagi tepat di lokasi yang sama beberapa puluh tahun kemudian. Eksekusi visual dalam karya ini cuma menggambarkan sebagian yang ingin ia katakan. Sebagian lagi diterangkan Indra lewat teks tulisan tangan yang berisi detail memori setiap sosok yang tampil.
Semangat dokumentasi yang mirip juga terlihat pada karya Henry Foundation, yang mengumpulkan sampul kaset bajakan produksi sekitar awal 1980-an. Sampul kaset diisi foto reproduksi sampul piringan hitam asli dan ditempelkan pada sampul kaset yang distensil atau disablon. Saat distribusi musik jenis tertentu belum dikelola oleh perusahaan rekaman multinasional, ada orang-orang yang karena kecintaannya pada musik mencoba melakukannya dengan cara mereka sendiri, dalam jumlah terbatas. Dengan bantuan video wawancara, Henry memperlihatkan bagaimana foto menjadi alternatif reproduksi yang murah dibandingkan dengan percetakan, untuk produksi kaset skala kecil.
Sampai di sini, sudahkah Anda merasa berada dalam sebuah "pameran foto"? Atau paling tidak "pameran tentang fotografi"? Gagasan-gagasan yang dipaparkan dalam pameran ini menyatakan bahwa pembedaan itu sebenarnya tidak perlu. Sebagai medium presentasi dan ekspresi, foto bagus atau tidak makin nisbi batasnya. Penggunaan foto dalam seni, jurnalisme, ilmu pengetahuan, bahkan sehari-hari sudah makin sukar ditarik batasnya. Tinggal gagasan yang dipertaruhkan. Meski demikian, sebagai sesuatu yang visual, presentasi dari gagasan itu mau tidak mau menjadi penting karena kekuatan daya jangkau pada pemirsa yang jadi acuan.
Pengerjaan detail, ketekunan, dan kesempurnaan dengan skill tertentu sebuah presentasi (craftmanship) tidak selalu sekadar kerajinan atau berarti mengejar "seni tinggi" (yang pasti dihindari di pameran ini). Keberhasilan menyampaikan sesuatu dengan seenaknya pun tidak pernah dicapai dengan cara seenaknya. Pokok inilah yang jadi kekurangan pameran ini. Kecuali pada Irwan dan Henry, eksekusi visual dan presentasi dalam pameran terasa seperti melecehkan ide sendiri, dan satu lagi: mengabaikan nikmat pemirsa.
Alex Supartono (pengajar di Jurusan Fotografi IKJ)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
