• Home
  • 08 Maret 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 08 Maret 2004

    Menghidupkan Aroma Zaman Lampau

    Ada sejarah, seni, imajinasi, juga sensasi petualangan yang gagah jauh di masa lampau. Semuanya tercampur indah dalam peta kuno di atas selembar kain linen. Warnanya boleh tidak lagi cemerlang, tapi peta antik inilah koleksi yang nilainya bakal terus menjulang.

    Benar, mengoleksi peta kurang begitu ngetop di sini. Maka jangan heran, kolektor peta di Indonesia tak lebih dari 10 orang. Itu pun sebagian adalah orang asing atau ekspatriat. Maklumlah, hobi ini berat di ongkos. Selembar peta Indonesia kuno mesti ditebus dengan US$ 50 sampai US$ 6.000 (Rp 425 ribu hingga Rp 50 juta), meski ini lebih murah daripada peta kuno Eropa dan Amerika yang harganya bisa ratusan ribu dolar.

    Tapi, sejak kapan harga menghalangi orang yang gandrung? Tengoklah Heru Sajuto, 40-an tahun. Rumah besarnya di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, bak museum yang penuh ratusan peta kuno abad ke-15 hingga ke-17. Lembar-lembar lapuk—semuanya diasuransikan—itu adalah buah karya seniman peta kelas wahid seperti Giacomo Gastaldi, Sebastian Munster, Blaeu, dan Petrus Plancius.

    Mari buka Indie Orientalis, salah satu koleksi Heru yang cukup unik. Peta ini menampilkan Iava Maior (Jawa Besar) dan Iava Minor (pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara). Lalu, di bawah Iava Maior, ada sebentuk area kecil bernama Pulau Angama dengan ilustrasi menarik. Sesosok tubuh manusia terbaring di atas dipan kayu, potongan anggota tubuhnya, kepala dan kaki bersepatu, tergantung di cabang-cabang pohon.

    Ha, ada kanibalisme di Jawa? Entahlah. "Kita punya alasan untuk tidak percaya," kata Heru yang insinyur teknik sipil ini. Soalnya, zaman dulu pembuatan peta sama sekali tak berbekal peralatan canggih semacam global positioning system (GPS). Peta hanya dibikin berdasar laporan para pengelana Eropa yang menjelajah wilayah-wilayah baru. Akurasinya kalah jauh dibandingkan dengan peta bikinan kartografer (pembuat peta) zaman sekarang.

    Maka, lihatlah, peta-peta kuno tidak jarang diwarnai ilustrasi aneh-aneh. Umpamanya: ada ikan duyung di lautan, manusia berkaki kuda, dewa laut lengkap dengan trisulanya, juga adegan pembantaian manusia. Bahkan tidak jarang pula terjadi kekeliruan fatal, misalnya ukuran Halmahera yang jauh lebih besar dari Pulau Irian.

    Bagi kolektor, kekeliruan dan ilustrasi aneh yang seolah muncul dari negeri antah-berantah itulah daya pikat utama peta kuno. "Kalau udah bener dan akurat, daya tariknya malah hilang," katanya. Itulah sebabnya, Heru mengkhususkan koleksinya pada peta keluaran tahun sebelum 1750. "Setelah tahun itu, peta menjadi lebih ilmiah dan cenderung hambar," katanya.

    Jurus serupa diterapkan Edwin Raharjo, pemilik Edwin's Gallery, Jakarta Selatan. "Saya enggak mau beli yang lebih muda dari tahun 1790," kata Edwin. Terakhir, sebuah peta buatan tahun 1750 menambah koleksinya. "Peta Jawa yang cantik, ada gambar raja-raja Jawa lengkap."

    Selain materi, proses perburuan peta juga amat menggairahkan para kolektor. Heru Sajuto, contohnya, perlu bekerja keras untuk mendapatkan peta dunia karya Janszoon Visscher, incaran kolektor dari seluruh dunia. Demi menggaet peta idaman, Heru mesti bernegosiasi dengan kolektor di berbagai negara. Sampai akhirnya, setelah tiga tahun merayu sana-sini, ada seorang kolektor mau melepas peta itu "Wah, senangnya," kata Heru, yang juga anggota International Map Collector Society (IMCOS) ini.

    Kisah senada dituturkan Edwin. Alih-alih membeli peta dari galeri atau balai lelang resmi, lelaki ini lebih menikmati berburu peta di pasar loak berbagai kota. Perburuan yang tidak jarang membuahkan untung besar. Edwin pernah mendapatkan peta kuno seharga US$ 300 yang kemudian dia jual US$ 2.000.

    Suatu ketika, usai mengobrak-abrik pasar loak di Malang, Jawa Timur, Edwin mendapatkan tiga bagian dari sebuah peta Jawa kuno. Beberapa tahun kemudian, potongan terakhir didapatkan Edwin ribuan kilometer jauhnya dari Malang, di pasar loak New York, Amerika. "Seru," katanya.

    Keuletan berburu, Edwin menambahkan, mesti dibarengi pengetahuan kuat. Gara-gara kurang pengetahuan, beberapa koleksi amat berharga lepas dari tangan Edwin. Salah satunya adalah peta Irian Barat dari abad pertengahan. "Orang yang beli gembira sekali karena peta itu memuat lokasi tambang emas dan uranium," kata Edwin.

    Koleksi langka yang juga terbang dari tangan Edwin adalah peta Jawa seluas lebih dari satu meter persegi. "Tadinya saya kira peta biasa. Tahun pembuatannya di akhir abad 17, bentuk gambarnya juga tidak aneh-aneh," kata Edwin. Ternyata, itulah peta Pulau Jawa terbesar yang pernah dibuat. "Kecewa, deh, karena kebodohan saya sendiri," kata Edwin, yang bertekad mempelajari peta lebih serius agar koleksi langka tidak lagi terbang begitu saja.

    Lain Edwin, lain pula Theodoor Bakker. Warga Belanda yang lama bermukim di Jakarta ini punya hobi berlayar di tengah laut. Guna melengkapi hobi berlayar, Bakker rajin mengoleksi peta kuno. "Terutama peta yang banyak dilengkapi detail laut, ada keterangan berapa kedalaman laut di sini, berapa kedalaman di sana," kata Bakker.

    Selembar peta kuno, Bakker menambahkan, memang bisa menghidupkan aroma petualangan di samudra masa lampau. Sensasi petualangan para pelaut Eropa menjelajah Pasifik pada masa The Age of Exploration, umpamanya, bisa dinikmati dari selembar peta keluaran abad ke-15 hingga ke-17. "Saya jadi terpacu mendatangi sebagian tempat yang ada di peta kuno." Kini koleksi Bakker 48 buah, termasuk peta Maluku buatan Janssonius, tahun 1640.

    Begitulah, peta kuno membawa sensasi petualangan yang gagah, penaklukan, juga kolonialisme yang perih. Campuran aroma yang susah ditandingi benda koleksi yang lain. Kelebihan inilah yang membuat para pengamat yakin, peminat peta kuno akan terus melonjak. Paul Scott, dari Garson Clark Gallery, Edinburgh, London, misalnya, mencatat adanya tren lonjakan harga peta kuno dalam tiga tahun terakhir. "Saya yakin," katanya kepada The Guardian beberapa waktu lalu, "tren ini akan terus berlanjut."

    Mardiyah Chamim, Nurhayati, Multazam (TNR)

cover

Album

Saksi Revolusi itu Telah Pergi

A.M. Hanafi, 86 tahun

Buku

Warna-warni Parpol 1999-2004

Jalan Berliku di Depan Kita

Catatan Pinggir

Karbala

Fotografi

Cerita tentang Fotografi

Indonesiana

Tergiur Bokong Bahenol

Seni Rupa

Menyusuri Waktu Bersama Dali

Pelukis dan Arsitektur

TEMPO|interaktif

Olahraga

Messi, Sang Arsitek yang Telah Kembali

Nasional

Aqua Akui Tarik 44 Ribu Galon Produknya

Teknologi

Paddy's Day Ala Google  

Otomotif

Toyota Tak Temukan Masalah di Pedal Gas Prius

Selebritas

Resep Ampuh Shahnaz Haque

Gaya Hidup

Obat Arthritis Bisa Buat Diabetes  

Gaya Hidup

Terapi Kombinasi Buat Alkoholik  

Bisnis

Ilham Habibie: Korupsi Bukan Hambatan Majukan Ekonomi  

Gaya Hidup

Jangan Manjakan Adik Dengan Uang  

Internasional

Oposisi Menyalip Suara Perdana Menteri Irak  

Selebritas

Asti Ananta Ingin Umroh Lagi  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright ©20010 TEMPOinteraktif