• Home
  • 08 Maret 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 08 Maret 2004

    Bahasa dari Dunia yang Sunyi

    Dunia Yuri Mejia adalah dunia senyap tanpa suara. Sejak lahir, gadis kecil Nikaragua 9 tahun ini bisu-tuli. Di bawah pohon mangga, di kota pelabuhan terpencil di Pesisir Mosquito, di bibir kolam hias berisi bayi-bayi aligator kecil, Yuri duduk membungkuk. Ekspresi wajahnya beragam, tangannya bagai menari-nari membentuk isyarat. "Kapan aligator ini bangun? Tiap kali aku datang, mereka pasti sedang tidur," keluhnya lewat gerakan tangan.

    Yuri mengaku bosan tinggal di rumah. Ia tinggal bersama sang nenek. "Kami duduk di gazebo, bosan tak bisa ngapa-ngapain," tangannya lagi-lagi berkisah. "Lebih enak di sekolah, semua teman sama-sama tak mendengar, jadi aku bisa bercerita kepada mereka."

    Yuri juga mengaku ia membaca cerita Babar, gajah kecil yang hidup di hutan. Untuk menceritakan Babar, Yuri kecil membentuk huruf B dengan merapatkan empat jemarinya, lalu jari telunjuk ditempelkan ke hidung, membentuk belalai. Ia juga bercerita tentang elevator dengan membentuk huruf V terbalik di atas telapak tangan yang digerakkan naik-turun serupa gerakan elevator.

    Gerakan-gerakan Yuri mungkin tak dikenal dalam bahasa isyarat kebanyakan. Ini memang bahasa baru, tumbuh dan berkembang spontan di tengah komunitasnya. Yuri adalah satu dari murid termuda di sekolah Escuelita de Bluefields, sekolah eksperimen yang dipimpin Judy Kegl dan suaminya, James Shepard Kegl. Sekolah itu berdiri pada 1995, hampir sepuluh tahun setelah Judi Kegl datang ke Nikaragua untuk meneliti bahasa isyarat kaum bisu-tuli. Kegl adalah pakar bahasa isyarat di Northeastern University, Amerika Serikat.

    Sepuluh tahun di Nikaragua, Kegl dan asistennya, Ann Singhas, menjadi saksi lahir dan berkembangnya bahasa baru: bahasa isyarat orang bisu-tuli Nikaragua. Fenomena ini tak ubahnya keajaiban. Seperti ahli biologi yang jarang menemukan spesies baru, para pakar linguistik pun nyaris tak pernah menemukan bahasa baru. Bahasa baru, apa pun itu, memang tak lahir dalam hitungan tahun. Pakar linguistik harus cukup beruntung untuk berada pada saat dan tempat yang tepat demi melihat tanda-tanda kelahirannya.

    Keberuntungan itulah yang didapatkan Kegl dan Singhas. Mereka berdua bisa menemukan bahasa baru setelah sejak 1990 selalu menghabiskan enam pekan liburan musim panasnya untuk duduk di kelas-kelas anak tunarungu di Villa Libertad, Managua, Nikaragua. Di sana, sepanjang waktu Kegl dan Singhas mencatat, sesekali merekam dalam video, beberapa bahasa isyarat yang disampaikan murid di sekolah itu. Sampai akhirnya mereka menemukan perbedaan mencolok bahasa isyarat yang dipakai oleh dua sekolah yang didirikan pemerintah Nikaragua sejak 1970-an, seusai revolusi Sandinista. Sekolah itu adalah Villa Libertad dan San Judas.

    Dengan melakukan eksperimen pada kedua sekolah itu, Dr. Singhas berhasil menyusuri jejak pertumbuhan bahasa isyarat baru ini. Di Villa Libertad, bahasa isyarat sangat terbatas. Memang bahasanya lebih lengkap ketimbang bahasa isyarat orang-orang tuli di pedalaman hutan Nikaragua, tapi tetap kalah lengkap ketimbang yang dimiliki murid-muda belia di sekolah San Judas. Salah satu contoh, untuk menunjukkan kata "berguling" dan "jatuh", mereka yang lebih tua hanya menggunakan satu isyarat. Sebaliknya, yang muda-muda sudah menggunakan isyarat berbeda untuk menggambarkan kedua kata itu.

    Selain menciptakan kata-kata baru, anak-anak tunarungu Nikaragua juga mengembangkan isyarat pembeda kiri dan kanan—sesuatu yang tak pernah dikenal oleh orang tua mereka. Dr. Singhas mengujinya dengan meminta para penderita tuli dari berbagai usia untuk bercerita tentang serangkaian foto. Seorang di antara mereka memilih foto tertentu dan menggambarkannya. Yang lain menebak foto mana yang dimaksud.

    Tatkala seluruh foto berisi gambar yang sama namun diatur dalam urutan berbeda, mereka yang lebih tua, yang lebih dulu mempelajari bahasa isyarat, tak mampu membedakan foto mana yang mereka maksud. Bahkan mereka tak mampu menangkap isyarat dari mereka yang lebih muda. Sebaliknya, yang muda pun tak mampu menjelaskan pada yang lebih tua mana yang kanan dan kiri. Jelas, bahasa kedua generasi ini memang tak bisa nyambung. Mereka yang lebih tua sesungguhnya memahami konsep kanan dan kiri, sayangnya mereka tak mampu menyampaikannya.

    Ketekunannya itulah yang mengantarkan dia meraih gelar doktor di Massachusetts Institute of Technology. "Sungguh asyik mengamati tumbuhnya bahasa pada murid-murid yang berbeda umur," kata wanita yang kini profesor di Barnad College, AS itu.

    Lahirnya bahasa baru juga bisa dijelaskan dengan melihat fenomena orang-orang kolok di Desa Bengkala, Kabupaten Buleleng, Bali. Kolok adalah sebutan untuk warga di desa itu yang tunarungu. Di desa yang terletak 16 kilometer dari Singaraja ini, orang-orang tunarungu mengembangkan bahasa isyarat tersendiri. Jumlah tunarungu di desa itu memang cukup banyak, 40 orang dari total penduduk 2.126 orang.

    Warga kolok Bengkala ini punya bahasa isyarat khas, berbeda dengan pakem bahasa isyarat di Indonesia. Mereka cenderung menirukan aktivitas visual atau tiruan dari suatu benda. Untuk menggambarkan kelapa, misalnya, tangan mereka seolah-olah memegang buah kelapa dan mengguncang-guncangnya, seperti orang mengetes kematangan kelapa yang baru dipetik.

    Untuk aktivitas spesifik, misalnya minum teh, mereka menggerakkan tangan sehingga membentuk sebuah saringan. Untuk menggambarkan minum kopi, bahasanya lain lagi. Mereka menambahkan gerakan menempelkan jari ke kening, meniru orang yang pening jika tidak minum kopi seharian. "Bahasa isyarat yang berlaku diciptakan sendiri oleh orang kolok," ujar Sekretaris Desa Bengkala, I Wayan Rupaka.

    Bahkan, untuk menyebut nama seseorang pun, mereka punya bahasa khas. Saat menyebut Presiden Megawati, misalnya, orang kolok melakukannya dengan membuat gerakan seolah memberi tahi lalat di dagu—merujuk pada tahi lalat di dagu Mega. Sedangkan untuk menyebut Rupaka, mereka memberikan tanda benjolan di kepala, menggambarkan dahi Rupaka yang menonjol. Ini sangat mirip dengan bahasa anak-anak bisu Nikaragua. Mereka membentuk huruf V dengan dua jari dan meletakkannya di depan mulut, untuk menggambarkan Fidel Castro yang suka mengisap cerutu.

    Hampir semua warga Bengkala paham dengan baik bahasa isyarat lokal setempat. Mereka justru kesulitan jika berkomunikasi dengan orang bisu-tuli "standar". Komunikasi di antara orang bisu-tuli dan mereka yang normal mengundang takjub. Dalam dunia yang berbeda, mereka bisa saja tiba-tiba terbahak setelah saling menggerakkan tangan. Dalam dunia yang tak mengenal suara, hidup orang-orang tunarungu di Bengkala dan Nikaragua itu tak pernah benar-benar terasa sunyi.

    Burhan Sholihin, Made Mustika (Buleleng)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Saksi Revolusi itu Telah Pergi

A.M. Hanafi, 86 tahun

Buku

Warna-warni Parpol 1999-2004

Jalan Berliku di Depan Kita

Catatan Pinggir

Karbala

Fotografi

Cerita tentang Fotografi

Indonesiana

Tergiur Bokong Bahenol

Seni Rupa

Menyusuri Waktu Bersama Dali

Pelukis dan Arsitektur

TEMPO|interaktif

Olahraga

Milito Berharap Forlan Tak Tinggalkan Inter

Metro

Satpam IPB Korban Penembakan Langsung Dimakamkan

Nasional

Jusuf Kalla: Pemerintah Harus Stop Jadi Penghimbau!

Olahraga

Van der Vaart Sarankan Robben Bertahan di Muenchen

Olahraga

Pereli Subhan Aksa Sementara Masuk 3 Besar

Nasional

Corby Sudah Bisa Ajukan Bebas Bersyarat  

Ronaldo : Portugal Akan Kalahkan Jerman

Nasional

Pertamina Luncurkan SPBU Khusus di Bali

Nasional

KPK Tahan Bekas Wali Kota Cilegon  

Olahraga

Feature Race Monaco, Rio Finis Posisi 14  

Nasional

Buntut Bentrok Lahan PTPN II, Kantor Dibakar

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif