PAYUDARA subur yang ditawarkan penyanyi Chintami Atmanegara dan dua kawannya di iklan televisi tidak cukup membuat gemas Irwandi, 27 tahun. Warga Kota Probolinggo, Jawa Timur, ini lebih geregetan pada bokong bahenol seorang-atau lebih-perempuan. Apa kriterianya? Yang utama harus bulat munjung, seperti pantat skuter Vespa model lama.
Celakanya, Irwandi tak kuat menahan berahi. Akibatnya, begitu berpapasan dengan gumpalan keindahan itu, kata dia, "Saya ingin sekali memegangnya."
Itulah yang terjadi selama kuartal terakhir ini. Setiap kali menemukan sasaran, ia selalu berusaha mencolek-bahkan meremasnya. "Kalau tak kesampaian, nafsu berahi saya bisa meledak," kata Irwandi.
Keberanian mengambil "tindakan" muncul sejak pria pengangguran itu mengantar-jemput istrinya, yang bekerja di sebuah pabrik tekstil di Probolinggo. Dari semula hanya berani memelototi pantat wanita yang berangkat kerja, lama-kelamaan dia nekat menyentuhnya. Eh, keterusan....
Irwandi masih ingat korban pertamanya, seorang cewek yang melintas sendirian di jalan sepi. Hatinya gedebar-gedebur saat hendak mencolek si pantat.
"Saya takut sekali, tapi saya sudah tidak kuat menahan," katanya. Dan dengan nekat ia meremasnya. Korbannya memang mengumpat sejadi-jadinya, tapi tak lebih dari itu. Merasa aksi perdananya berjalan mulus, Irwandi makin berani dan terampil. "Sekali jalan bisa dapat lima pantat," katanya enteng.
Namun akhir bulan lalu dia ketanggor. Lusi, sebut saja begitu korban terakhirnya itu, sempat mengingat nomor polisi kendaraan pelaku. Ia pun melapor ke polisi esok harinya. Hanya dalam dua jam kemudian, aparat berhasil menangkap pelaku pelecehan tersebut di rumahnya. "Saya sudah empat kali mengalami kejadian seperti itu," ujar korban. Irwandi mengakui ulahnya, tapi ia tidak sanggup mengatakan jumlah korbannya. "Wah..., banyak, saya tak bisa menghitungnya," katanya kepada polisi.
Menurut penyidik di kepolisian Probolinggo, selain Lusi, ada empat korban melapor menjadi korban kejahilan Irwandi. Akibatnya, pantat lelaki beristri ini sempat merasakan dinginnya lantai sel polisi. Namun kini penahanannya ditangguhkan, konon, untuk melancarkan penyidikan.
Tertipu 'Putri Menteri'
BANYAK cara berbelanja gratis. Namun cara Dewi Ariani, 35 tahun, terbilang nekat. Dengan menyamar sebagai istri dan putri Menteri Perhubungan Agum Gumelar, ia berhasil mengelabui beberapa pejabat di daerah. Salah satu korbannya adalah seorang pejabat di lingkungan Dinas Lalu Lintas Kota Bogor, Jawa Barat.
Suatu siang dua pekan lalu, Dewi Ariani menelepon korbannya. Setelah memperkenalkan diri sebagai "Nyonya Linda Agum Gumelar", ia berkata, "Saya mau memberitahukan, anak sulung saya yang kuliah di IPB saat ini berada di Hero Pajajaran. Tolong beri pelayanan khusus." Mendapat perintah "istri menteri", si pejabat daerah tidak lagi mampu berpikir jernih. Di pertokoan tersebut, ia langsung menemui si "anak menteri".
Di supermarket itu, Dewi Ariani menyamar sebagai Dewi, anak Agum Gumelar. Setelah si pejabat daerah bertemu dengannya, Dewi Ariani pun langsung dikawal layaknya keluarga pejabat tinggi. Setelah puas berbelanja di Hero, ia lalu memborong di Toko Terminal Tas Tajur: berpasang-pasang sepatu serta sejumlah tas dan sandal. Belanjaannya yang segunung dibayar lunas oleh pejabat daerah tersebut.
Baru keesokan harinya pejabat itu terpikir melapor ke ajudan Menteri Perhubungan. "Semua permintaan putri sulung Bapak Menteri sudah kami layani. Bahkan kami selalu mengawalnya dengan ketat," katanya, seperti mengharapkan pujian. Tapi sang ajudan menteri justru kaget dan mengatakan bahwa kedua putri Agum Gumelar kuliah di luar negeri. Sang pejabat daerah seperti disambar petir. Ia lalu melapor ke polisi.
"Total kerugian Rp 2.115.000 untuk belanja dan hotel, termasuk uang saku untuk Dewi (Ariani)," kata Ajun Komisaris Taryadi, Kepala Kepolisian Sektor Kota Bogor Timur.
Dewi Ariani akhirnya ditangkap di Serang, Banten. Ternyata dia sudah tiga kali melakukan aksi serupa. Bahkan, Januari tahun silam, ia baru selesai menjalani hukuman 19 bulan penjara karena menyalahgunakan nama seorang petinggi intelijen negeri ini. Orang intel kok kena juga....
Agung Rulianto, Bibin Bintariadi (Probolinggo), Deffan Purnama (Bogor)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
