• Home
  • 08 Maret 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 08 Maret 2004

    Menteri Lingkungan Hidup Nabiel Makarim: "Saya Tetap Menolak"

    Untuk mengetahui lebih jelas status terakhir Ladia Galaska, wartawan TEMPO Agus Hidayat mewawancarai Menteri Negara Lingkungan Hidup Nabiel Makarim, Rabu minggu lalu. Petikannya.

    Betulkah Megawati akan meresmikan Ladia Galaska?

    Kalau berangkat ke Aceh bisa saja, tapi apakah ke sana untuk meresmikan Ladia Galaska, rasanya saya belum diberi tahu. Sebab, kalau untuk meresmikan, mestinya saya dan menteri lain diberi tahu.

    Di kabinet sendiri, apakah status proyek ini sudah putus?

    Belum, masih dalam pembahasan. Saya dan Menteri Kehutanan menolak, Gubernur Aceh dan Menteri Permukiman ingin jalan terus.

    Bagaimana sikap Presiden sendiri?

    Presiden masih mendengarkan pihak-pihak yang pro dan yang kontra. Setahu saya, beliau belum memutuskan apa pun.

    Dengan menolak proyek itu, Anda dituduh mengganjal keinginan masyarakat Aceh untuk berkembang....

    Begini. Ladia Galaska dibangun untuk membuka isolasi masyarakat Aceh di pantai barat agar bisa menikmati kegiatan ekonomi di pantai timur. Nah, semua pihak, termasuk saya, setuju tujuan pembukaan isolasi ini. Jadi, tidak benar saya menghambat kemajuan masyarakat Aceh. Yang saya tolak adalah pembukaan jalan yang memotong kawasan konservasi. Sebab, kalau ini terjadi, yang akan rugi masyarakat Aceh sendiri.

    Penolakan saya didasari tiga pertanyaan besar. Pertama, apa dampak Ladia Galaska terhadap kelangsungan perikehidupan di Aceh. Kedua, apakah Ladia Galaska jalan terbaik untuk mencapai tujuan membuka isolasi tadi. Ketiga, apakah ada alternatif yang lebih baik untuk pencapaian tujuan dengan tidak merusak lingkungan.

    Jadi, apa usul Anda agar isolasi masyarakat Aceh terbuka tapi potensi kerusakan juga minimal?

    Untuk membuka isolasi, kami mengusulkan membuka jalan raya dari Meulaboh hingga Banda Aceh. Kalau ini terlaksana, dua lokasi ini bisa ditempuh mobil dalam tiga jam. Selain itu, jalannya sudah ada dengan tipe tanah datar dan keras hingga tak rawan longsor. Ruas jalan ini akan membuka isolasi penduduk di pantai barat dan orientasi kegiatan ekonomi ke Banda Aceh, yang berikutnya bakal membuka kegiatan ekonomi di Pelabuhan Sabang. Untuk membuka isolasi di wilayah tengah ke timur, kami mengusulkan membuka ruas jalan dari Blangkejeren-Takengon-Bireuen. Jalannya sudah ada, tinggal ditingkatkan. Yang lebih penting, dua ruas jalan ini tidak melewati areal rawan longsor, melintasi banyak kawasan permukiman, dan tidak menerobos kawasan konservasi.... Jadi, bisa beres, soal pembukaan isolasi selesai, soal lingkungan tidak masalah....

    Bagaimana kalau proyek itu tetap diresmikan?

    Untuk sampai pada putusan itu, pasti saya akan diajak bicara dulu, dan selama saya masih sanggup, saya akan mengatakan untuk tetap menolak.



    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Saksi Revolusi itu Telah Pergi

A.M. Hanafi, 86 tahun

Buku

Warna-warni Parpol 1999-2004

Jalan Berliku di Depan Kita

Catatan Pinggir

Karbala

Fotografi

Cerita tentang Fotografi

Indonesiana

Tergiur Bokong Bahenol

Seni Rupa

Menyusuri Waktu Bersama Dali

Pelukis dan Arsitektur

TEMPO|interaktif

Olahraga

Milito Berharap Forlan Tak Tinggalkan Inter

Metro

Satpam IPB Korban Penembakan Langsung Dimakamkan

Nasional

Jusuf Kalla: Pemerintah Harus Stop Jadi Penghimbau!

Olahraga

Van der Vaart Sarankan Robben Bertahan di Muenchen

Olahraga

Pereli Subhan Aksa Sementara Masuk 3 Besar

Nasional

Corby Sudah Bisa Ajukan Bebas Bersyarat  

Ronaldo : Portugal Akan Kalahkan Jerman

Nasional

Pertamina Luncurkan SPBU Khusus di Bali

Nasional

KPK Tahan Bekas Wali Kota Cilegon  

Olahraga

Feature Race Monaco, Rio Finis Posisi 14  

Nasional

Buntut Bentrok Lahan PTPN II, Kantor Dibakar

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif