Untuk mengetahui lebih jelas status terakhir Ladia Galaska, wartawan TEMPO Agus Hidayat mewawancarai Menteri Negara Lingkungan Hidup Nabiel Makarim, Rabu minggu lalu. Petikannya.
Betulkah Megawati akan meresmikan Ladia Galaska?
Kalau berangkat ke Aceh bisa saja, tapi apakah ke sana untuk meresmikan Ladia Galaska, rasanya saya belum diberi tahu. Sebab, kalau untuk meresmikan, mestinya saya dan menteri lain diberi tahu.
Di kabinet sendiri, apakah status proyek ini sudah putus?
Belum, masih dalam pembahasan. Saya dan Menteri Kehutanan menolak, Gubernur Aceh dan Menteri Permukiman ingin jalan terus.
Bagaimana sikap Presiden sendiri?
Presiden masih mendengarkan pihak-pihak yang pro dan yang kontra. Setahu saya, beliau belum memutuskan apa pun.
Dengan menolak proyek itu, Anda dituduh mengganjal keinginan masyarakat Aceh untuk berkembang....
Begini. Ladia Galaska dibangun untuk membuka isolasi masyarakat Aceh di pantai barat agar bisa menikmati kegiatan ekonomi di pantai timur. Nah, semua pihak, termasuk saya, setuju tujuan pembukaan isolasi ini. Jadi, tidak benar saya menghambat kemajuan masyarakat Aceh. Yang saya tolak adalah pembukaan jalan yang memotong kawasan konservasi. Sebab, kalau ini terjadi, yang akan rugi masyarakat Aceh sendiri.
Penolakan saya didasari tiga pertanyaan besar. Pertama, apa dampak Ladia Galaska terhadap kelangsungan perikehidupan di Aceh. Kedua, apakah Ladia Galaska jalan terbaik untuk mencapai tujuan membuka isolasi tadi. Ketiga, apakah ada alternatif yang lebih baik untuk pencapaian tujuan dengan tidak merusak lingkungan.
Jadi, apa usul Anda agar isolasi masyarakat Aceh terbuka tapi potensi kerusakan juga minimal?
Untuk membuka isolasi, kami mengusulkan membuka jalan raya dari Meulaboh hingga Banda Aceh. Kalau ini terlaksana, dua lokasi ini bisa ditempuh mobil dalam tiga jam. Selain itu, jalannya sudah ada dengan tipe tanah datar dan keras hingga tak rawan longsor. Ruas jalan ini akan membuka isolasi penduduk di pantai barat dan orientasi kegiatan ekonomi ke Banda Aceh, yang berikutnya bakal membuka kegiatan ekonomi di Pelabuhan Sabang. Untuk membuka isolasi di wilayah tengah ke timur, kami mengusulkan membuka ruas jalan dari Blangkejeren-Takengon-Bireuen. Jalannya sudah ada, tinggal ditingkatkan. Yang lebih penting, dua ruas jalan ini tidak melewati areal rawan longsor, melintasi banyak kawasan permukiman, dan tidak menerobos kawasan konservasi.... Jadi, bisa beres, soal pembukaan isolasi selesai, soal lingkungan tidak masalah....
Bagaimana kalau proyek itu tetap diresmikan?
Untuk sampai pada putusan itu, pasti saya akan diajak bicara dulu, dan selama saya masih sanggup, saya akan mengatakan untuk tetap menolak.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
