Ada "kesatria piningit" di dalam "Pandawa Lima". Kesatria piningit itu adalah Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono, yang masih enggan mengajukan diri sebagai calon presiden secara resmi. "Pandawa Lima" itu tentu saja adalah orang di sekeliling "sang calon"-yang belum mencalonkan diri itu-yang akan menjadi tim sukses untuk "maju perang" ke pemilihan umum presiden 5 Juli nanti. "Ada lima kelompok," kata Ketua Umum Partai Demokrat S. Budhisantoso kepada TEMPO Jumat pekan lalu.
Pandawa Lima SBY (demikian panggilan Susilo Bambang Yudhoyono) itu terdiri atas kelompok riset dan strategi, komunikasi dan media massa, monitoring, evaluasi, dan mesin politik. Menurut Budhisantoso, kelompok riset ditangani Brighten Institute, sebuah lembaga kajian yang bermarkas di Bogor, Jawa Barat. Isinya rata-rata terdiri atas aktivis lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Menurut sumber TEMPO, posisi mereka sangat penting sebagai penggodok blueprint ekonomi dan pembangunan ke depan. Syahdan, menurut sumber ini, dedengkot Kelompok Bogor itu adalah Joyo Winoto, Ph.D. Budhi membenarkan keterlibatan bekas staf ahli Badan Perencanaan Pembangunan Nasional itu. Tapi Joyo membantah keterlibatannya. Joyo mengaku hanya dosen Yudhoyono ketika ia masih menempuh program S-3. "Saya dosen biasa kok di IPB," ujar Joyo.
Kelompok komunikasi dan media tampaknya kelompok yang belum menonjol dalam tim Pandawa Lima ini karena Budhisantoso mengaku tak tahu letak kantornya. Sedangkan kelompok monitoring adalah kawasan yang dipimpin Ian Nasution dan berkantor di Jalan Blora, Jakarta Pusat. Agak ke timur Jakarta, ada kelompok evaluasi politik, yang berkantor di salah satu ruangan Kantor DPP Demokrat, Jalan Pemuda. "Saya tak ingat pemimpinnya," kata Budhisantoso pula.
Adapun mesin politik Yudhoyono tampaknya Partai Demokrat, yang didirikan khusus untuk mendukung pencalonannya. Partai ini harus berhasil mengantongi minimal tiga persen kursi DPR atau lima persen suara buat anggota DPR. Jika gagal, partai itu tak bisa "mengangkat" Yudhoyono menjadi calon presiden. "Kami sedang memfokuskan (diri-Red.) untuk mendapatkan suara (yang) banyak," ujar Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Max Sopacua.
Bagaimanapun, Ketua Partai Demokrat Sys N.S. menyatakan belum ada tim sukses yang bekerja karena Yudhoyono belum menyatakan sikap resmi. Mereka baru memiliki tim pemenangan pemilu (tim yang bertugas memenangkan partai dalam pemilu) Demokrat. Tim sukses baru bekerja setelah Yudhoyono menyatakan "perang".
Simpang-siur itu bisa dipahami. Maklum, semua kelompok itu masih bekerja sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Belum lagi program yang tak jelas dan kurangnya dana. Apalagi Yudhoyono masih tak kunjung menunjukkan sikap yang jelas dalam pencalonan dirinya. Ia pernah menyatakan siap mencalonkan diri pada November lalu, tapi tiba-tiba batal. "Jadi tim belum siap, banyak yang nggerundel," ujar sumber TEMPO.
Soal "tim sukses" SBY tadi, sumber TEMPO mengungkapkan, mereka terdiri atas tiga latar belakang. "Bekas jenderal, orang kampus, dan partai," ujarnya. Orang kampus dan partai jelas diwakili "Kelompok Bogor" dan Demokrat, sedangkan unsur militer tampaknya diwakili antara lain oleh sekretaris Menko Polkam, Sudi Silalahi, dan bekas Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara T.B. Silalahi.
Tapi, selama ini, Yudhoyono juga punya sejumlah rekan "anak sekolahan" yang sering diajak berdiskusi, di antaranya Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, Denny Januar Aly, dan pengamat politik Eep Saefulloh Fatah. "Saya bukan konsultan karena tak ada bayaran," ujar Denny. Dan belakangan Eep jarang berdiskusi lagi karena harus meneruskan kuliah ke Ohio State University, Amerika Serikat.
Diskusi Yudhoyono dan Denny J.A.-doktor politik Ohio State University-dimulai sejak Yudhoyono menjadi penanggung jawab antiterorisme, pada 2003. Adalah Denny yang memolesnya agar aktif berbicara mewakili pemerintah. Denny jua yang menyajikan hasil-hasil polling lembaganya yang kemudian menaikkan popularitas Yudhoyono, November lalu. Toh, Denny enggan disebut sebagai anggota tim sukses Yudhoyono karena hal serupa dilakukan dengan calon-calon presiden lainnya. "Dia punya tim sukses sendiri, baik di dalam maupun di luar kantor Menko Polkam," ujar Denny kepada TEMPO.
Kalau begitu, Pandawa Lima, ayo keluar dari keraguan dan segera "maju perang".
Jobpie Sugiharto
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
