Hanafi tak bisa melupakan pertemuan antara dirinya dan Emilio Sabadel di Hotel Gran Melia, Jakarta, empat tahun silam. Pemilik Galeri Mares Del Sure, Barcelona, Spanyol, itu jatuh hati begitu melihat karya yang akan dipamerkan. Segera niat memburu karya seni tradisional ke Sumatera dia urungkan agar dapat berdiskusi dengan pelukis yang lahir di Purwokerto pada 5 Juli 1960 ini.
Pertemuan tanpa sengaja itu tak berhenti di lobi hotel. Emilio bergegas melihat karya Hanafi yang lain dan mengunjungi studio lukisnya. Tak dinyana, lukisan abstrak Hanafi ibarat jawaban atas pencarian Emilio selama ini. "Sejak itu, jalinan kerja sama saya dengan dia tidak pernah putus," katanya. Emilio bahkan mengundang alumni Sekolah Seni Rupa Indonesia Yogyakarta itu ke Barcelona untuk berpameran di galeri miliknya. Gayung bersambut.
Pameran bertajuk Som Ni de Miro pada 1999 itu tidak hanya berkesan, tapi juga menjadi titik penting pengembaraan Hanafi di ranah Andalusia. Lukisan Malam Pertama di Barcelona yang dibuat saat itu juga dibeli seorang kolektor asal Italia. Emilio pula yang menjadi pemandu ziarah Hanafi ke makam Gala, istri Salvador Dali, dan berkelana menyusuri desa Pupul, Ullastret, serta Gerona. Ziarah itu dia lakukan untuk kedua kalinya tahun lalu.
Kelana ke makam Gala dan rumah Dali memang tak mengubah sosok Hanafi sebagai pelukis abstrak. Namun pengalaman itu memberikan banyak makna dalam perjalanan karier melukisnya di kemudian hari, setidaknya menjadi tema yang mendasari belasan karyanya yang kini dipamerkan di Galeri Canna, Jakarta. "Jujur saja, banyak yang saya serap dari perjalanan ke Spanyol," kata finalis Top 10 Philip Morris Indonesia Art Award 1997 ini.
Hanafi cukup beruntung beroleh kenalan baik seperti Emilio. Tapi ia sosok yang telah merentang karier sejak muda di Purwokerto, kampung halamannya. Jejak pertama karyanya bisa dilihat pada potret 11 Bupati Wonosobo periode 1955-1985 yang kini dipajang di museum pemerintah daerah. Periode ini dianggap sebagai fase realis layaknya para pemula.
Jalan yang ditapak Hanafi ibarat tarikan garis kuas yang sering melompat keluar dari media lukisan. Pergolakan batinnya menuntun anak ketiga dari lima bersaudara ini mengembara ke Jakarta. Ibu Kota memang tak ramah. Hanafi yang sudah melukis wajah bupati itu harus terdampar di Pasar Baru, Jakarta Pusat, sebagai pelukis kartu Lebaran. Tempat mangkal-nya di trotoar pula.
Pengalamannya pahit, tapi pergaulannya kian luas: merambah ke kalangan seniman teater dan sastrawan. Dari sana, "Saya lebih memahami pengertian tentang ruang," katanya. Pemahamannya tentang ruang kian dalam setelah berkawan dengan arsitek Yori Antar dan Marco Kusumawidjaja di kelompok Arsitek Muda Indonesia.
Ihwal perkenalan Hanafi dengan Yori tak ubahnya pertemuannya dengan Emilio. Saat itu, arsitek jebolan Universitas Indonesia tersebut terpesona pada lukisan kursi malas berjudul Waktu Istirahat (1997) di Restoran Koi, Jakarta Selatan. Yori bergegas mencari pelukisnya. Perkenalan itu berlanjut ke arena lebih luas: kolaborasi karya. "Sebenarnya persamaan pelukis dan arsitek terletak pada imajinasinya," kata Yori.
Kolaborasi pelukis-arsitek terlihat unik dan jarang terjadi. Seorang pelukis sepenuhnya seniman. Sedangkan arsitek bekerja setengah teknis/rasional dan setengah emosional. Toh, keduanya bisa menyatu dan melahirkan karya. Pameran bertajuk Ventilasi Ruang di Galeri Puzzle, Cinere, Depok, pada 1999, menandai pengembaraan perdananya dalam dunia arsitektur.
Hanafi mencoba mensinergikan ruang arsitektur dan lukisan abstrak sebagai pengisi makna ruang. Hanafi ingin membebaskan karyanya. Ia meninggalkan bingkai sehingga lukisan itu menjadi frameless. Upayanya memerdekakan lukisan bersama ruang justru melahirkan pesona baru, bahkan menjadi salah satu identitas sendiri.
Pengembaraan dalam dunia arsitektur akhirnya menempatkan Hanafi sebagai pelukis-arsitek. Desain interior gedung PT Charing di Jakarta Timur dan eksterior gedung Maxima di Jakarta Selatan menjadi bukti kehadirannya. Eksperimen besarnya dalam dunia arsitektur baru tampak lima tahun silam: sebuah studio yang disebut dapur kerja seni di tengah empang di daerah Parung Bingung, Sawangan, Depok. Konsep dasar bangunan ini berbentuk potongan kurva. Sepintas milik prototipe kapal selam milik Kapten Nemo.
Potongan kurva yang terbagi menjadi beberapa bagian itu ternyata punya filosofi menarik. "Studio ini wujud dialog saya dan masyarakat sekitar," katanya. Jangan heran jika studio megah itu menyatu dengan rumah penduduk kampung. Berdiri tegak di tengah empang dan di bawah rimbunan pohon bambu.
Arif Firmansyah
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
