Sepuluh kursi kayu kecil aneka warna dalam posisi berjajar tergantung rapi di dinding putih. Setiap kursi menggendong gong kecil yang dilekatkan pada sandarannya. Gong yang melahirkan bunyi ketika alat pemukul yang digerakkan dinamo secara mekanis mencium benjolan di bagian tengah. Bunyinya tak serempak. Masing-masing punya ritme berbeda, namun kalau dipukul rata bunyi setiap gong tak pernah lebih dari sepuluh detik.
Kursi mini dalam pameran instalasi Heri Dono di Galeri Nasional, Jakarta, pekan lalu itu tentu sebuah derivasi yang kompleks dari kursi siswa taman kanak-kanak (TK). Dua kaki depannya memiliki kuku tajam, dalam posisi siap mencengkeram. Dua kaki belakangnya juga berkuku tajam, tapi dalam posisi menghunjam bumi. Selain itu, masih satu aksesori mengejutkan lain: sebuah tangan yang menembus, menyembul dari masing-masing tempat duduk. Potongan tangan-tangan dalam karya berjudul Terapi Kejut untuk Pemimpin Politik (2004) itu seakan hendak menggapai gong. Setiap kali gong berbunyi, yang tertangkap bukan rancak suara gamelan pengiring sinden, tapi lebih tepat disebut aba-aba memulai sesuatu.
Ada delapan karya instalasi, 15 lukisan, dan satu video seni dalam pemeran tunggal Heri Dono bertajuk Who's Afraid of Donosaurus? itu. Dan Terapi Kejut menunjukkan kepekaan dan sikap Dono akan politik. Meski mengupas soal serius, lelaki murah senyum ini tak menjadikan karyanya sebagai tontonan serius. Ia jenaka, satir, mengundang tawa, tak melahirkan murka. Kala menggambarkan kekuasaan, ia memilih kursi taman kanak-kanak, ketimbang singgasana keraton. "Kekuasaan tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang mewah," katanya. Ya, Dono menempatkan kekuasaan dalam sebuah parodi.
Pelukis yang belajar wayang pada Sukasman di Yogyakarta ini memang "orang bebas".
Kritikus seni rupa Hendro Wiyanto menunjukkan betapa Dono tak segan melakukan kebanalan ide, bentuk, dan rupa. Bahkan menciptakan antitesis lewat Bidadari-Bidadari Turun dari Langit (2004). Instalasi ini merupakan antitesis terhadap Para Bidadari Terbang (1996) tentang kebebasan yang diimpikan.
Instalasi antitesis itu berupa sepuluh bidadari yang digantung di langit-langit dalam posisi menukik hendak turun ke bumi. Dua sayap mereka mengembang, siap landas. Wajah mereka biasa saja kalau tidak perlu disebut buruk. Batok kepalanya terbelah dengan peralatan mekanis menyembul dari dalam. Dan, kelamin bidadari sebesar jempol orang dewasa itu tegak menghunjam bumi.
Tapi Dono rupanya gemas mendapati kebebasan yang ia impikan tak kun- jung tiba. Mungkin ia mengangankan bantuan bidadari dari luar agar asanya terwujud. Sebuah kritik bernada sindiran terhadap kondisi negara yang tetap menutup ruang kebebasan berekspresi. "Model kritik ini terilhami gaya pasemon dalam tradisi wayang," kata Hendro. Gaya pasemon adalah kritik yang tidak menyakiti pihak yang dikritik atau mengarah pada si pengkritik sendiri.
Tradisi wayang memang bukan hal baru buat Dono. Pameran tunggal itu dibuka dengan pertunjukan wayang api dengan dua dalang muda Yogyakarta, Guntur Songgolangit dan Ismoyo. Wayang dari kardus yang pernah dibakar dalam pertunjukan Lobi-lobi tahun 2000 itu seakan bangkit kembali menjalani karma kehidupan. Bedanya, wayang api itu sekarang tampil di pentas yang panas karena penuh asap.
Penerima anugerah 2nd Annual Enku Grand Awards 2002 dari pemerintah Jepang ini tak bisa lepas dari dunia wayang. Paham kebebasannya menafsirkan tradisi wayang tampak pada perlakuan dekonstruktif terhadap wayang itu sendiri. Hasilnya sebuah ikonografi wayang baru dengan isi pasemon dan metafora pelesetan visual wayang. Dono bahkan menyebut wayang sebagai nenek moyang para mutan, manusia yang secara genetis diturunkan dari kera, sebagai kritik terhadap kecenderungan primordialisme dalam masyarakat.
Sejak tesergap pesona wayang itu, Dono tak pernah melepaskan diri dari idiom dan citra pewayangan dalam setiap karyanya, baik dalam bentuk lukisan, karya instalasi, maupun video seni. Soal politik dan kritik sosial yang ia ungkapkan tak pernah sepi dari idiom wayang. Bahkan ketika menggambarkan perebutan kekuasaan lewat metafora kursi dan gong sebagai alat musik vital dalam pentas wayang.
Arif Firmansyah
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

