Jika semua guru di dunia bernama Jostein Gaarder, murid- murid sekolah di dunia akan menikmati pendidikan bak sebuah ceritera yang mengasyikkan. Jika semua guru sejarah, ilmu pengetahuan, sains, teologi, dan filsafat memahami bagaimana mengisahkan ilmu yang tampak begitu kompleks dan menjemukan menjadi sebuah buku cantik yang asyik dibaca berulang-ulang, persoalan pendidikan selesai sudah.
Melalui novel Sophie's World, yang meledak berjuta-juta eksemplar dan diterjemahkan ke dalam 40 bahasa, Jostein Gaarder bukan hanya memperkenalkan sejarah filsafat sejak awal perkembangannya hingga abad ke-20 secara sederhana, tetapi juga menggunakan sebuah teknik yang cerdas. Seperti juga dalam novel The Solitaire Mystery, The Christmas Mystery, dan Through a Glass, Darkly, The Ringmaster's Daughter, Gaarder menanamkan misteri yang membuat seluruh pembacanya bersedekap dengan bukunya hingga halaman terakhir. Beberapa novelnya yang tidak dikategorikan untuk anak-anak adalah Maya, Vita Brevis.
Diwawancarai oleh wartawan TEMPO Bambang Harymurti di Oslo, Norwegia, novelis ini sebelumnya bekerja sebagai guru dan kini ia mengabdikan seluruh hidupnya untuk menulis dan menjadi "guru" bagi semua muridnya di dunia.
Novel filsafat Sophie's World menjadi sebuah jendela bagi dunia untuk melihat dunia imajinasi dan edukasi milik Jostein Gaarder. Karya-karyanya yang lain, meski juga berbumbu edukasi dan pedagogi, ternyata jauh lebih imajinatif dan mengocok keinginan pembaca untuk terbang bersama Gaarder ke dunia fantasi yang tak terbatas. Inilah sebagian karyanya yang layak dibaca.
Novel ini bergulat dengan pertanyaan mendasar tentang kematian. Kali ini adegan tanya-jawab terjadi antara malaikat dan seorang anak yang siap terbang ke surga.