KARTONO tersenyum seraya menggeleng. Pria 35 tahun itu lalu menyingkir dari halaman rumah berdinding bata di Desa Kemusuk, Bantul, Yogyakarta itu. Padahal banyak tetangganya bergantian masuk, lewat pintu yang ditempeli stiker Siti Hardijanti Rukmana, putri bekas presiden Soeharto, serta dijaga kader Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB).
Rumah di selatan makam Somenggalan itu cuma 200 meter dari tempat pemungutan suara. Kediaman Lurah Noto Soewito, adik tiri Soeharto, sekitar 150 meter di belakangnya. Namun, alasan utama yang membuatnya jadi "primadona" pada 5 April silam: ada nasi bungkus dan selembar fulus Rp 20 ribu. "Tapi ibu saya menolak diberi uang," ujar Kartono kepada TEMPO, Kamis lalu.
Tak sembarangan warga boleh masuk. Hanya mereka yang "masih ragu" mencoblos partai nomor 14 jadi tamu istimewa. "Tukang seleksi tamu namanya Ibnu," ujar Robby Sukaryanto, koordinator Komite Independen Pemantau Pemilu Yogyakarta. Hasilnya, PKPB mencukur gundul semua lawannya di Kemusuk, termasuk Partai Golkar, yang berjaya pada pemilu sebelumnya.
Modal besar sudah ditanam sejak awal. Sebelum kampanye, "Para kepala dusun diberi sepeda motor Yamaha RX King dan HP (telepon seluler)," tutur Paini, pedagang warung kelontong. Lurahnya tak perlu dirayu: jelas mendukung partai yang all out mencalonkan keponakannya jadi RI-1. Ternyata, meski zaman berubah, kiat "serangan fajar" masih juga diandalkan.
Solo juga punya cerita. Pada malam sebelum coblosan, warga Kampung Joyosuran, Pasar Kliwon, "berpesta angpao". Hanya dengan menunjukkan kartu pemilih dan KTP, duit Rp 15 ribu sampai Rp 25 ribu menyelip ke kantong. Rupanya calon anggota legislatif daerah dari PDIP, Susmadyo, 50 tahun, sedang "berbagi rezeki". Besoknya, juragan besi tua itu beredar ke tempat-tempat pemungutan suara.
Sambil cengar-cengir, ia menunjuk dadanya, memberi kode kepada pemilih yang akan masuk bilik suara. "Para calon juga menerjunkan tim pemantau penerima uang," kata Ketua Panitia Pengawas Kecamatan, Ardmoyo. PDIP Solo tentu membantah ada kadernya yang melakukan "serangan fajar". "Uang Partai pun sudah habis buat kampanye," kata ketuanya, F.X. Hadi Rudyatmo.
Sekretaris Jenderal PKPB, Ary Mardjono, mengaku tak tahu permainan "serangan fajar" di daerah. Ia justru merasa partainya korban politik uang. Buktinya, perolehan suara tak sebanding dengan jumlah anggota. Sampai Jumat pekan lalu, PKPB cuma mendapat 1,3 juta pemilih. "Di Jakarta Utara ada 80 ribu anggota, kok PKPB hanya dicoblos 10 ribu orang?" ujar bekas Sekretaris Jenderal Golkar ini, masygul.
Menyeret pelaku "serangan fajar" juga bukan urusan mudah. Pasalnya, ketentuan politik uang dalam Undang-Undang Pemilu mempersempit ruang gerak pengawas. Harus diperoleh bukti keras kesengajaan pemberian materi untuk mempengaruhi pemilih. Tapi mendapatkan saksi yang mau angkat bicara sulitnya minta ampun.
Panitia pengawas Solo, misalnya, mendengar ada calon anggota yang menghimpun kartu pemilih. Ketika diselidiki, "Tak ada arahan untuk mencoblos partai tertentu," ujar ketuanya, Nyuwardi. Ada lagi laporan, calon legislatif yang membagikan beasiswa buat siswa SD dan SMP di wilayahnya. Ternyata si politisi sudah setahun lebih menebar bantuan kepada kaum miskin.
Lagi pula, "Kalau memberikan uang buat kader partai, itu bukan politik uang," kata pengurus PDIP Grobogan, Jawa Tengah, Tjatoer Soebaryanto. Bukti telak hanya bisa diperoleh kalau pengawas bisa menangkap basah pelaku. Seperti yang dialami tiga simpatisan Partai Kebangkitan Bangsa ketika membagi uang plus nama calon yang mesti ditusuk. Mereka kepergok di Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Senin dini hari sebelum coblosan.
Jobpie Sugiharto, L.N. Idayanie (Bantul), Imron Rosyid (Solo), Sohirin (Semarang)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
