• Home
  • 19 April 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 19 April 2004

    Sekeping Mozaik Sepanjang Ingatan

    Memoar Pulau Buru
    Penulis: Hersri Setiawan
    Prolog: Prof. Dr. Saparinah Sadli
    Epilog: Dr. Asvi Warman Adam
    Penerbit: INDONESIATERA, Magelang, 2004
    Tebal: xix + 615 halaman.

    PULANG bertugas dari Biro Pengarang Asia Afrika di Kolombo, Sri Lanka, 24 Agustus 1965, Setiawan Hs. melapor ke dua alamat: Cidurian 19 dan Kramat Raya 81. Yang pertama adalah kantor Sekretariat Pimpinan Pusat Lembaga Kebudayaan Rakyat (SPP-Lekra), sedangkan yang kedua kantor Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC-PKI). Baru 37 hari ia di Jakarta, meletus Gerakan 30 September (G30S).

    Setiawan, yang masih bingung akan situasi Tanah Air yang ditinggalkannya hampir lima tahun, mulai main kucing-kucingan sambil kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Sejak itu ia lebih dikenal sebagai Hersri. Pada 1969 ia ditangkap, ditahan di Penjara Salemba dan Tangerang, dan tiga tahun kemudian dikirim ke Pulau Buru. Sekitar tujuh tahun di sana, ia "dikembalikan ke masyarakat".

    Memoar ini ditulisnya di Negeri Belanda, tempat ia mukim bersama (mendiang) istri dan anak perempuannya, sejak 1987. Diracik berdasarkan catatan-catatan lepas, dan terutama mengandalkan ingatan, Hersri, yang sebelumnya dikenal sebagai penyair dan penulis produktif, bertutur dengan lancar dan runut. Ia tak berusaha mendramatisasi penderitaannya, juga tak menyiratkan dendam berlebihan terhadap kekuasaan yang memasungnya.

    Sebagai satu di antara penulis buku Sejarah Tentara Nasional Indonesia Komando Daerah Militer VII Diponegoro, 1959-1961, Hersri tak mengalami kesulitan menulis sesuatu yang bersifat "tarikh". Kelemahan buku ini justru terletak pada keberanian Hersri yang berlebihan mengandalkan ingatan. Akibatnya, banyak hal tidak akurat sehingga bisa menyesatkan khalayak—terutama para penulis dan peneliti—yang ingin menjadikan buku ini sebagai rujukan.

    Hersri, misalnya, menyatakan lebih dari 120 ribu tahanan politik dideportasi dari Jawa ke Buru, sejak 1968 (hlm. 17). Padahal, "deportasi" pertama baru dilakukan pada 1969 ("Angkatan Pramoedya Ananta Toer"), dan jumlah tahanan politik yang dibuang ke Pulau Buru "cuma" sekitar 12 ribu. Berkali-kali ia menyebut "Unit XVI/Indragiri" untuk unit yang sesungguhnya bernama "Indrakarya".

    Ia juga menyebut Lettu CPM Mardjuki sebagai Komandan Kamp Salemba dan Mayor Saniganja (sebetulnya Sani Gonjo; pen.) sebagai Komandan Kamp Tangerang (hlm. 36-37). Padahal Sani Gonjo mengepalai baik Kamp Salemba maupun Kamp Tangerang, sedangkan Lettu Mardjuki adalah perwira intelijen di Kamp Salemba. Kadang CGMI ditulisnya sebagai singkatan Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (hlm. 56), kadang sebagai Corps Gerakan Mahasiswa Indonesia (hlm. 65).

    Di tempat lain, Hersri menyebut S. Effendi sebagai "penyanyi Malaysia" dan Paulina Robot (sebetulnya Norma Sanger; pen.) sebagai penembang lagu Si Gembala Sapi (hlm. 206). Sebagai penggiat kebudayaan, tak seyogianya Hersri tersandung kekeliruan seperti itu. Apalagi ketika ia menyatakan repertoar Batu Merah Lembah Merapi pernah difilmkan oleh sutradara Tan Hsing Hwat (hlm. 209). Sandiwara satu babak karya Bachtiar Siagian itu belum pernah diangkat ke layar perak!

    Meski "daftar kekeliruan" ini lumayan mengganggu, Memoar tetap layak dianggap sebagai sekeping mozaik dari lembaran hitam sejarah penganiayaan terhadap kemanusiaan yang dilakukan rezim Orde Baru. Khusus tentang Pulau Buru, Hersri seperti melengkapi dua buku terdahulu, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (Pramoedya Ananta Toer, 1995), dan Dari Salemba ke Pulau Buru (Kresno Saroso, 2003).

    Dengan ketiga buku itu pun, sebetulnya, Buru belum sepenuhnya terungkap. Masih ada pertanyaan di sekitar "pembubaran Unit IX", dan "peristiwa Unit II/Wanareja" ketika 200-an tahanan politik melarikan diri disusul perburuan panjang yang menimbulkan banyak korban. Masih diharapkan sejumlah memoar lagi dari para eks tahanan politik Pulau Buru, dengan catatan tak semata-mata mengandalkan ingatan. Penerbit juga diharapkan menyunting ketat naskah-naskah memoar seperti ini, kalau perlu melakukan check & recheck—sehingga nila setitik tak sampai merusak susu sebelanga.

    Amarzan Loebis


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal Dunia

Boy Bolang, 56 tahun

Buku

Sekeping Mozaik Sepanjang Ingatan

Catatan Pinggir

Anggrek

Indonesiana

Pilih Golput karena Seteru

Seni Rupa

Sebuah Transit di Taman Zen

TEMPO|interaktif

Sepuluh Persen Warga Taiwan Ternyata WNI

Olahraga

Milito Berharap Forlan Tak Tinggalkan Inter

Metro

Satpam IPB Korban Penembakan Langsung Dimakamkan

Nasional

Jusuf Kalla: Pemerintah Harus Stop Jadi Penghimbau!

Olahraga

Van der Vaart Sarankan Robben Bertahan di Muenchen

Olahraga

Pereli Subhan Aksa Sementara Masuk 3 Besar

Nasional

Corby Sudah Bisa Ajukan Bebas Bersyarat  

Ronaldo : Portugal Akan Kalahkan Jerman

Nasional

Pertamina Luncurkan SPBU Khusus di Bali

Nasional

KPK Tahan Bekas Wali Kota Cilegon  

Olahraga

Feature Race Monaco, Rio Finis Posisi 14  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif