• Home
  • 26 April 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
    • Perjalanan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 26 April 2004

    Ganti Rugi Sebatas Aturan

    SUDAH dua bulan Irta Sumirta bekerja di Kantor Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) di Cikini, Jakarta Pusat. Lelaki 35 tahun ini membantu mengkoordinasi teman-temannya sesama korban peristiwa Tanjung Priok. Dia hanya digaji Rp 20 ribu sehari, jauh lebih kecil dibandingkan dengan penghasilan tukang ojek. Kendati begitu, Irta merasa lebih tenang bekerja di lembaga tersebut. Dia terhindar dari bujuk rayu orang-orang yang mengajaknya islah. Ayah empat anak itu menjadi salah satu saksi kunci perkara Tanjung Priok yang kini tengah disidangkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Ketika peristiwa tersebut meletus pada 1984, paha Irta tertembak. Sempat dirawat di Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta, akhirnya ia dikurung tiga bulan oleh militer. Bujuk rayu mulai muncul saat nama Irta tercantum dalam daftar saksi yang memberatkan Danjen Kopassus Mayjen Sriyanto. Malam sebelum menyampaikan kesaksian sekitar dua bulan lalu, istrinya beberapa kali didatangi oleh korban peristiwa Tanjung Priok yang telah islah alias berdamai dengan para tersangka. "Mereka ingin agar saya tidak memberikan kesaksian," kata Irta. Dia sendiri tak luput dari bujukan. Karena kebetulan sidang ditunda, pekan berikutnya Irta didatangi kawan-kawannya yang telah berislah dengan menawarkan cek dan sepeda motor. "Ada lima orang yang mendekati, meminta agar saya tidak memberikan kesaksian secara lengkap," ujarnya. Tak cuma itu. Menjelang Irta memberikan kesaksian, ke mana pun ia pergi selalu diikuti oleh orang tak dikenal. Bahkan orang itu membuntutinya sampai ke rumahnya di Priok. Meski tanpa ancaman dengan kata-kata, Irta sudah merasa terteror. Beruntung Irta tak sendirian menghadapi "teror" semacam itu. Masih ada sekitar 15 korban Tanjung Priok (dari sekitar 100 korban) yang sampai sekarang tak sudi berislah. Mereka bisa saling menabahkan untuk menghindari segala iming-iming. Dan bujukan tersebut berkurang setelah Irta bekerja di Kontras. Apalagi istrinya juga telah diungsingkan ke rumah kawannya di Jakarta Selatan. Kawan-kawan Irta seperti Yetti, Nyonya Nurcaya (Ibu Yetti), Husen Save, dan Jaja Raharja juga selalu dibujuk orang. Dengan sejumlah iming-iming, mereka diminta tidak memberikan kesaksian atau bersaksi secara tidak komplet. Jaja, yang kakinya tertembus peluru saat peristiwa Priok terjadi, mengaku ditawari duit Rp 800 ribu agar mau berdamai. Yetti, yang kehilangan ayahnya, diiming-imingi Rp 10 juta buat modal usaha. Demikian pula ibunya, Nyonya Nurcaya, 64 tahun. Kendati perempuan ini masih mengalami trauma sejak suaminya hilang 20 tahun silam dan tidak bisa mengingat lagi peristiwa Tanjung Priok, ia tetap dirayu-rayu. Husen pun mengaku ditawari sekitar Rp 200 juta agar mencabut keterangannya dalam berita acara. Dia terus didekati banyak pihak karena lelaki ini menjadi saksi untuk beberapa perkara. "Malah sampai ada yang datang ke rumah saya," katanya. Adapun Husen, yang kini tinggal di Purwakarta, mengaku menolak iming-iming tersebut. Pengakuan para korban Tanjung Priok itu ditampik oleh ketua tim penasihat hukum terdakwa, Yan Juanda Saputra. Menurut dia, tak ada gunanya membujuk saksi. "Untuk apa? Cuma buang energi," katanya. Hanya, dia mengatakan bahwa saksi yang berbohong akan mudah diketahui dengan cara mencocokkan dengan keterangan saksi lainnya. Wah, kalau itu ukurannya, sungguh repot. Soalnya, jumlah saksi yang menolak islah lebih kecil. Padahal, justru merekalah yang lebih jujur membeberkan fakta. EK

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Joesoef Isak, 76 tahun

Buku

Membelah Ombak, Menembus Dinding

Menerbitkan Buku, Menerbitkan Untung

Catatan Pinggir

Spion

Indonesiana

Betah Berumah di Balai Desa

Seni Rupa

Batavia di Mata Seorang Lutheran

TEMPO|interaktif

Olahraga

Gara-gara Kembang Api, Iqbal Dipastikan Absen

Sepuluh Persen Warga Taiwan Ternyata WNI

Olahraga

Milito Berharap Forlan Tak Tinggalkan Inter

Metro

Satpam IPB Korban Penembakan Langsung Dimakamkan

Nasional

Jusuf Kalla: Pemerintah Harus Stop Jadi Penghimbau!

Olahraga

Van der Vaart Sarankan Robben Bertahan di Muenchen

Olahraga

Pereli Subhan Aksa Sementara Masuk 3 Besar

Nasional

Corby Sudah Bisa Ajukan Bebas Bersyarat  

Ronaldo : Portugal Akan Kalahkan Jerman

Nasional

Pertamina Luncurkan SPBU Khusus di Bali

Nasional

KPK Tahan Bekas Wali Kota Cilegon  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif