• Home
  • 03 Mei 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Iqra
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 03 Mei 2004

    Kipandjikusmin dan Kesusastraan yang Asing

    Pleidoi Sastra
    Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Kipandjikusmin

    Editor: Muhidin M. Dahlan, Mujib Hermani
    Penerbit: Melibas, Jakarta, 2004
    Tebal: 484 hlm.

    Seakan-akan ini keasingan jenis kedua.

    Dulu, di tahun-tahun 1970-an, terdapat konstatasi mengenai betapa kesusastraan Indonesia hakikatnya barang yang minoritas. Ia hanya diterima oleh sebagian kecil masyarakat kota, yang berjumlah 15 persen dari keseluruhan penduduk. Status minoritas ini sebermula dihubungkan dengan predikat "modern" yang disandangnya, yang dilawankan dengan sifat tradisional sastra lama yang hanya dituturkan secara lisan. Jadi, kesusastraan modern kita mendapat sifat modernnya dari tulisan, dan pemakaian tulisan (Latin, bukan Jawi) itu menandai terjadinya akulturasi dengan budaya Barat, alias asing, seperti bisa dilihat khususnya sejak akhir abad ke-19.

    Tetapi ciri-ciri akulturasi tersebut jarang kita bincangkan: keasingan itu tak pernah kita tunjuk. Seperti semua hal sudah begitu saja "menjadi milik kita", dan berjalan dengan semestinya. Juga ketika sebuah cerita pendek berjudul Langit Makin Mendung (LMM), dari pengarang dengan nama samaran Kipandjikusmin, yang dimuat majalah Sastra edisi Agustus 1968 mengguncangkan sekaligus dunia sastra dan dunia hukum kita waktu itu. Sebenarnya (atau seharusnya) itu menyadarkan kita akan hadirnya keasingan yang lebih dari sekadar menyangkut ciri-ciri lahiriah kesusastraan yang sudah disebut, yang lalu tampak seolah keasingan jenis kedua. Kita malah hanya merasakan munculnya "dua aliran".

    Yakni yang memberi kebebasan penuh pada penggunaan imajinasi dalam sastra, di satu pihak, dan yang tidak. Itulah yang muncul sampai-sampai dalam perdebatan di pengadilan—ketika H.B. Jassin, Pemimpin Redaksi Sastra, diajukan ke sana untuk dakwaan penghinaan kepada Tuhan, Nabi Muhammad, agama Islam, dan seterusnya, dengan pemuatan LMM, sementara ia tak bersedia membukakan identitas si pengarang yang seharusnya bertanggung jawab.

    Yang bisa mengejutkan sebenarnya ialah munculnya, untuk pertama kalinya, perdebatan mengenai imajinasi itu. Tapi itu hakikatnya hanya percikan-percikan di sebelah depan dari latar belakang jeram keterbelahan ini: antara yang meyakini bahwa sastra, dan itu berarti imajinasi, sebagai praktis alternatif agama, dan yang menganggapnya—dengan pembatasan imajinasi—sebagai sarana indah pengucapan seseorang yang sangat mungkin masih menyandarkan segala normanya pada agama. Inilah, sebenarnya, gunung es yang dibawa akulturasi.

    Yakni relativitas agama, atau wacana sekitar itu. Inilah yang akan melatarbelakangi semua tulisan yang "bikin ramai" karena dianggap orang agama menghina keyakinan mereka. Dan kedua pihak itu tak akan bertemu. Bila penulis seperti Kipandjikusmin tidak merasa salah dengan melukiskan Tuhan (kebetulan Tuhan Islam, kelihatan dari segala atributnya) berkacamata emas, atau berbagai gambaran antropomorfis lain, dengan laku menyindir atau olok-olok, bagi orang agama yang dilakukannya itu bukan "semata-mata sastra, tak ada hubungannya dengan agama".

    Tak ada hal yang "tak ada hubungannya dengan agama"—bila agama itu, di sini, tidak seperti di Barat, paling tidak, hidup, dan kelihatan bukan makin diingkari melainkan makin diinginkan dipahami. Sastra, imajinasi, kemerdekaan, dengan begitu dipersilakan berkembang, dan dipersilakan juga bikin sastra yang dikagumi dan asing.

    Buku ini, yang cantik dan penuh salah-tulis, memuat "semua" karangan pro-kontra kasus Sastra—termasuk dari Hamka, di samping Jassin. Yang menarik ialah sangat miskinnya informasi tentang Kipandjikusmin. Jangankan lagi usaha untuk menemuinya—seperti yang dilakukan Usamah, wartawan Ekspres dahulu, yang sebenarnya bisa dirunut. Juga keterangan yang menyesatkan mengenai si pengarang yang, katanya, "berdiam di Yogyakarta dan kuliah di salah satu perguruan tinggi Islam". Penelitian yang lebih serius menyebut Kipandjikusmin dididik sebagai Protestan, lalu Katolik, lalu kembali ke Islam. (TEMPO, 30 April 2000, Layar).

    Syu'bah Asa


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Prestasi

Mahasiswa UI Berjaya di Prancis

Buku

Kipandjikusmin dan Kesusastraan yang Asing

Catatan Pinggir

Ambon

TEMPO|interaktif

Olahraga

Gara-gara Kembang Api, Iqbal Dipastikan Absen

Sepuluh Persen Warga Taiwan Ternyata WNI

Olahraga

Milito Berharap Forlan Tak Tinggalkan Inter

Metro

Satpam IPB Korban Penembakan Langsung Dimakamkan

Nasional

Jusuf Kalla: Pemerintah Harus Stop Jadi Penghimbau!

Olahraga

Van der Vaart Sarankan Robben Bertahan di Muenchen

Olahraga

Pereli Subhan Aksa Sementara Masuk 3 Besar

Nasional

Corby Sudah Bisa Ajukan Bebas Bersyarat  

Ronaldo : Portugal Akan Kalahkan Jerman

Nasional

Pertamina Luncurkan SPBU Khusus di Bali

Nasional

KPK Tahan Bekas Wali Kota Cilegon  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif