• Home
  • 03 Mei 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Iqra
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 03 Mei 2004

    Menjelajahi Jagat Raya Bersama Pak Tua

    Dua hari yang membosankan dan melelahkan itu berakhir sudah. Setelah terapung-apung di jagat raya yang sepi, terkungkung di pesawat yang sempit, tiga astronaut yang tergabung dalam Ekspedisi 9 itu Rabu pekan lalu akhirnya mendarat mulus di Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS). Sepotong cokelat dan pelukan hangat dari kru stasiun itu langsung melumerkan rasa cemas mereka bertiga-Gennady Padalka (Rusia), Edward Fincke (Amerika Serikat), dan Andre Kuipers (Belanda). Melejit di ketinggian 400 kilometer di atas bumi dengan pesawat tua Soyuz TM-4 jelas melahirkan rasa takut. Siapa bisa menjamin pesawat berteknologi tahun 1967-an itu akan meluncur mulus ke Stasiun Ruang Angkasa? Saat menanti pendaratan, para astronaut hanya bisa berharap mereka selamat. Maka, ketika akhirnya Soyuz merapat ke Stasiun Ruang Angkasa tanpa harus menggunakan pendaratan manual, kegembiraan segera membuncah. "Sungguh indah, sangat indah," kata ayah Kuipers, yang bersama keluarga menyaksikan anaknya memasuki Stasiun Ruang Angkasa dengan penuh senyum. "Semuanya berjalan sangat mudah," kata dia, yang menonton pendaratan itu dari pusat kontrol di Moskow, Rusia. Kuipers sendiri, yang baru pertama kali berselancar ke ruang angkasa, terheran-heran. "Rasanya masih seperti dalam latihan," katanya. Keberhasilan pengiriman para peneliti ke stasiun itu menabalkan keyakinan akan masa depan kehidupan di luar bumi. Sejak pesawat ulang-alik Columbia meledak pada Februari 2003, impian menjelajahi angkasa luar meredup. Badan Penerbangan dan Angkasa Luar Amerika Serikat (NASA) terpaksa membatalkan semua pengiriman awak ke luar angkasa hingga penyelidikan tentang kecelakaan Columbia tuntas. Hilangnya "taksi angkasa" NASA itu bukan berarti matinya ambisi untuk meneliti jagat semesta. Pemerintah Rusia dan Amerika Serikat pun akhirnya melirik kembali Soyuz, legenda pesawat angkasa yang sejak diciptakan pada 1967 hingga kini tetap "hidup". Soyuz memang sudah gaek. Prestasinya pun lumayan bikin ngeri. Ia dua kali celaka, pertama saat penerbangan perdana 24 April 1967 dan kedua pada 30 Juni 1971. Pada kecelakaan kedua, tiga kosmonautnya tewas saat Soyuz membelah atmosfer. Tapi, sejak Amerika mengandangkan pesawat luar angkasanya pada 2003, apa boleh buat, Soyuz harus menjadi pilihan. Maka, pada Oktober 2003 lalu, Soyuz mengantar dua astronaut, C. Michael Foale (Amerika Serikat) dan Alexander Y. Kaleri (Rusia), yang tergabung dalam Ekspedisi 8 ke Stasiun Ruang Angkasa. Dan Senin pekan lalu, Soyuz yang diluncurkan dari Baikonur, Kazakhstan, datang untuk menjemput mereka berdua sekaligus mengantarkan astronaut-astronaut baru. Meski teknologi Soyuz sudah berumur, banyak astronaut tetap yakin pesawat ini jauh lebih aman ketimbang Columbia atau pesawat ulang-alik AS. "Satu hal terpenting adalah teknologi Rusia sangat bisa diandalkan," kata Pedro Duque, astronaut yang bekerja untuk Badan Antariksa Eropa (ESA). Pada 1992-1994 astronaut berumur 31 tahun itu pernah ikut pelatihan di Star City di Moskow dan pada 1998 dia terbang menggunakan pesawat AS Discovery. "Sungguh, ketika ada masalah mesin atau motor, Rusia menyediakan peralatan perawatan yang sangat lengkap. Mereka juga sangat piawai," kata Duque. Meski berbasis teknologi lama, Soyuz sudah dipermak di sana-sini. Kursi untuk astronautnya didesain ulang, sistem komputernya juga diperbarui (lihat infografis). Saat pendaratan pekan lalu, komputer Kurs mengambil alih semua tugas. "Saya cuma melongo memandang ke luar," kata Padalka, veteran kosmonaut Rusia. NASA memang harus berterima kasih kepada Soyuz. Tanpa si gaek ini, proyek membangun Stasiun Ruang Angkasa pasti macet. Pasokan logistik dan bahan bakar bisa terhenti, dan yang lebih gawat kosmonaut di atas sana tak bisa pulang ke bumi. Padahal, sejak 1998, stasiun bersama di angkasa luar itu sudah dibangun dengan mengorbitkan komponen pertama yang dinamai Zarya. Ruang itu dibuat oleh Rusia tapi didanai oleh AS. Dalam cetak birunya, stasiun yang didukung 15 negara ini-Amerika Serikat, Rusia, negara-negara Eropa, Kanada, dan Jepang-akan terdiri atas enam laboratorium. Targetnya, semua laboratorium itu akan mengangkasa pada 2008. Untuk keperluan itu, sudah dirancang 45 misi penerbangan. Namun, sampai saat ini, baru 19 misi yang dapat diselesaikan dan semuanya bertumpu pada Soyuz. Dalam ekspedisi kali ini, para astronaut akan melakukan sejumlah penelitian dan perawatan stasiun. Kuipers, misalnya, dalam waktunya yang cuma sembilan hari akan melakukan 21 penelitian. Salah satu proyek penelitian dokter yang punya hobi terbang itu adalah mempelajari efek gravitasi nol terhadap tekanan darah dan jantung. Kuipers selanjutnya akan mudik ke bumi bersama dua astronaut tim Ekspedisi 8 yang telah di awang-awang selama 196 hari. Sedangkan Fincke bersama Padalka akan bertahan di stasiun itu selama enam bulan. Banyak penelitian yang harus mereka rampungkan. Misalnya proyek Diatomea, proyek jangka panjang untuk mengamati samudra di bumi dan kawasan-kawasan kaya ikan. Ada juga proyek Platan yang akan menguji berbagai bahan dinding Stasiun Ruang Angkasa. Mereka ingin mencari tahu bahan apa yang paling kuat untuk stasiun yang selalu kena radiasi kosmis itu. "Saya tak akan bisa mendampingi istri saya melahirkan pada Juni nanti," katanya, "Tapi itu tak apa. Ada tugas negara yang sudah menunggu." Pemerintah Rusia sebenarnya ingin agar ilmuwannya boleh bertahan hingga setahun. Alasannya, banyak penelitian bisa dilakukan, sekaligus untuk mengirit ongkos penerbangan. Asal tahu saja, sekali mengirim awak ke luar angkasa, dibutuhkan biaya minimal US$ 20 juta atau sekitar Rp 172 miliar per orang. Padahal Rusia sekarang masih terbelit krisis ekonomi. Bila mereka boleh terus di angkasa selama setahun, itu berarti bakal ada kursi kosong yang bisa dijual ke para konglomerat yang bermimpi piknik ke luar angkasa, seperti yang dilakukan miliuner asal California, AS, Dennis Tito, pada 2003. Lumayan, cukup untuk menutup ongkos penerbangan Soyuz. Apalagi saat ini sudah banyak miliuner lain yang antre. Salah satunya adalah Gregory Olsen, yang bakal menjadi turis ketiga dan berangkat tahun depan. Sayang, Amerika menolak usul perpanjangan di angkasa itu. "Kami khawatir ada efek medis bila seseorang terlalu lama di luar angkasa," kata Debra Rahn, juru bicara NASA. Untuk sementara, Rusia memang masih harus menyimpan impiannya. Meski begitu, astronaut-astronaut mereka tetap berambisi menyibak rahasia jagat raya. Sebuah perusahaan swasta kini sedang mematangkan rencana, bukan sekadar memperbarui Soyuz, tapi juga bisa mengirim orang ke Planet Mars. "Prototipenya akan diluncurkan sekitar 2013-2014," kata Georgy Upensky, Direktur Pusat Riset Mekanik di Moskow, pertengahan April lalu. Pesawat ini akan mengangkut enam astronaut dan dilengkapi kamera video yang bisa menyiarkan gambar ke bumi. Mereka kini sedang menjajaki kerja sama dengan Badan Antariksa Eropa. Kalau itu terjadi, si gaek Soyuz memang harus pensiun. Burhan Sholihin

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Prestasi

Mahasiswa UI Berjaya di Prancis

Buku

Kipandjikusmin dan Kesusastraan yang Asing

Catatan Pinggir

Ambon

TEMPO|interaktif

Olahraga

Gara-gara Kembang Api, Iqbal Dipastikan Absen

Sepuluh Persen Warga Taiwan Ternyata WNI

Olahraga

Milito Berharap Forlan Tak Tinggalkan Inter

Metro

Satpam IPB Korban Penembakan Langsung Dimakamkan

Nasional

Jusuf Kalla: Pemerintah Harus Stop Jadi Penghimbau!

Olahraga

Van der Vaart Sarankan Robben Bertahan di Muenchen

Olahraga

Pereli Subhan Aksa Sementara Masuk 3 Besar

Nasional

Corby Sudah Bisa Ajukan Bebas Bersyarat  

Ronaldo : Portugal Akan Kalahkan Jerman

Nasional

Pertamina Luncurkan SPBU Khusus di Bali

Nasional

KPK Tahan Bekas Wali Kota Cilegon  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif