• Home
  • 31 Mei 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
  • Selingan
    • Layar
  • Seni
    • Fotografi
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 31 Mei 2004

    Sebuah Opini Visual

    Robert Capa (1913-1954), seorang pewarta foto kelahiran Hongaria, pernah menjadi kontroversi. Setelah fotonya, Death of a Loyalist Soldier (1936), tersebar di media cetak, banyak pertanyaan datang. Sebab, pada hari foto itu diambil, tidak tercatat adanya pertempuran di front Cordoba yang menjadi lokasi foto. Karena itu, si tentara republiken dalam foto, yang terjengkang tewas tertembak sambil mencekal senapan, dianggap palsu dan hasil rekayasa Capa. Apakah Capa berbohong?

    Berpuluh tahun kemudian, orang berargumentasi bahwa terlepas dari hasil rekayasa atau bukan, foto itu adalah gambaran dari kenyataan terbunuhnya tentara republik dalam perjuangan melawan fasisme setiap hari. Terlepas dari faktual atau fiksi, tidak ada yang bisa membantah kekejaman fasisme Franco sebagaimana tampak dalam foto itu. Foto itu adalah opini Capa tentang kekejaman perang.

    Foto yang membawa kebenaran obyektif itulah yang dicoba dipermasalahkan dalam pameran Urban Horizon ini. Anak judul pameran, A Visual Opinion, adalah salah satu indikasinya. Tentu pameran yang digagas Galeri Foto Jurnalistik Antara yang bekerja sama dengan Erasmus Huis di Jakarta pada 11 Mei-12 Juni 2004 ini tidak sekontroversial contoh di atas. Namun saya kira gagasan pameran ini tidak kalah mendasar perkaranya dengan yang ada dalam kontroversi foto Capa di atas: obyektivitas macam apa yang dibawa foto sebagai representasi visual atas realitas? Apakah melulu sebagaimana tampak dalam bidang foto atau itu hanyalah pembuka atas realitas lebih besar yang diwakilinya?

    Kelima fotografer yang terlibat dalam pameran yang dikuratori Oscar Motulloh dari Galeri Foto Jurnalistik Antara ini diminta opininya secara visual tentang kota tempat tinggal mereka. Tentang kota tempat hal-hal yang terjadi di dalamnya selama ini mereka rekam dan mereka laporkan lewat berbagai media cetak tempat mereka bekerja sebagai fotografer lepas. Namun kali ini mereka diminta membuat laporan tentang Jakarta secara subyektif dan memperlakukan Jakarta sebagai bagian keseharian mereka. Sebagai pengalaman yang mereka lihat, alami, dan rasakan.

    Hasilnya seperti mozaik mazhab fotografi dan kota yang dihadirkan dengan display yang memuaskan. Dalam pameran ini, kita seperti disuguhi mulai bentuk dokumentasi berharga tentang arsitektur dan jalanan sunyi, snapshot kejahatan dan kehidupan malam, sampai rekaman kota sebagai tempat pengasingan manusia urban. Ekspresi keterasingan ini muncul dalam bentuk yang tak terbayangkan, berkembang menciptakan denyut hidupnya sendiri, dan kemudian kita kenal sebagai subkultur.

    Keterasingan dalam karya Timur Angin muncul dalam rekaman kilat lampu disko dengan kecepatan rendah yang menggores-gores bidang foto, dihadirkan dalam neon box, dengan imbuhan kata-kata bijak reflektif di bawahnya. Dunia seperti dirangkum dalam layar. Kerumunan figur-figur tidak jelas hanya tampak berkelebat serupa lampu. Identitas menghilang, menjadi tidak penting, karena memang tidak dibutuhkan. Siapa peduli siapa? Timur menghadirkan catatan harian keterasingannya sendiri, yang disadari ketika kesadaran itu sendiri pelan-pelan pudar, masuk ke level kesadaran berikutnya dalam bentuk kelebat-kelebat impresi. Dalam keadaan seperti ini, masih mungkinkah orang berpikir dan berkata-kata?

    Sedangkan identitas menjadi perkara sentral bagi M. Iqbal dan subyek foto-fotonya. Bertahun menggarap tema tentang waria, Iqbal larut dalam kelompok masyarakat urban yang mengatasi keterasingan dengan membangun subkulturnya sendiri. Iqbal menerobos lebih dalam, memupus batas antara subyek terpotret dan pemotret untuk menjadikannya sebagai pengalaman. Iqbal memasuki keseharian para waria itu, menyerahkan diri untuk menjadi apa yang dimaui mereka: tampil seperti mereka, menjadi mimpi mereka, bahkan menjadi imaji ideal pacar mereka. Iqbal masuk ke dalam frame, dan Anda boleh datang untuk melihat seberapa jauh sebenarnya dia mengidentifikasi diri dengan dan masuk ke "dalam" mereka, lewat apa lagi kalau bukan ekspresinya.

    Bentuk keterasingan lain yang lebih merata ditangkap Paul Kadarisman dalam bentuk kegilaan berbelanja, "konsumerisme", yang sudah mengarah pada masokisme urban. "Aku belanja, karena itu aku ada!" Yang mengejutkan adalah bagaimana Paul memilih metafor penggambaran situasi tersebut. Dengan judul Pain: sesosok perempuan montok berkostum ketat merah menyala "disiksa" oleh mainan plastik destruktif yang berkesan sakit. Bibirnya ditarik penjepit plastik, payudaranya disodok bola yang digenggam boneka pemain basket, moncong panser mengarah ke vagina, dan kaktus plastik siap diteroboskan ke lubang dubur. Kita mungkin jijik melihatnya, tapi mengutip Paul, "Ini[lah] rasa sakit ibukota terkini. Keras + empuk, kadang-kadang udah gak terasa enak gak enaknya. Dan rasa sakitnya adalah… takut untuk menjadi takut merasa sakit."

    Pada karya Arief Sunarya dan Kemal Jufri, keterasingan urban terasa begitu keras, baik pada apa yang dihadirkan maupun pada cara penghadirannya. Setelah menyusuri ketiga karya di atas yang penuh metafor dan kaya warna, dalam kedua karya yang berada di ujung itu, kita seperti kembali ditarik pada hitam-putih metropolitan. Dalam jejeran karya hitam-putih itu, kita seperti diingatkan bahwa bagi sebagian besar penghuni Jakarta ini, masalahnya sebenarnya sederhana saja: bekerja atau mati. Tidak lebih dan tidak juga kurang. Itulah keseharian seorang pencari kerang tradisional di Pantai Ancol yang dipresentasikan Arief, dan ironi hitam-putih Ibu Kota yang susah dipahami rasio sebagaimana ditangkap oleh Kemal.

    Penyajian karya kelima fotografer ini dalam display juga memperhitungkan benar perihal keterasingan itu. Pada malam pembukaan, ruang pamer Erasmus Huis yang biasanya steril disulap menjadi diskotek. Pemirsa yang hadir dipandu "penunjuk arah jalan" ke lokasi karya tiap-tiap fotografer, di tengah ingar musik dan kepul rokok. Pemirsa disambut oleh karya-karya Paul, Iqbal, dan Timur yang berpadu dengan suasana karena menghadirkan kesemuan yang adalah keseharian metropolitan. Sedangkan di pojok ujung ruang pamer, kita diseret ke keterasingan yang dibawa pada kedua karya Kemal dan Arief. Kita dipaksa merenung setelah sejenak berhasil melupakan kepenatan.

    Pameran ini mengajukan pertanyaan: "Apakah sebenarnya obyektivitas dari realitas?" Apakah kebenaran faktual dari imaji-imaji dua dimensional fotografis yang dihadirkan masih perlu dicari? Atau fotografi sebenarnya adalah medium identifikasi dan karena itu persoalan utamanya bukan terletak pada fungsinya sebagai pembawa obyektivitas, melainkan sebagai medium ekspresi, sarana berpendapat dan berbagi pengalaman.

    Alex Supartono, pengajar fotografi IKJ


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Guru Besar Perawat Pertama

Buku

Demi Satu Kata: Rakyat

Catatan Pinggir

Lisan

Fotografi

Sebuah Opini Visual

Layar

Film Thailand:

Gajah di Seberang Mata

Anchalee Chaiworaporn: "Tahun 2000-an Adalah Momentum Kelahiran Kembali Film Sinema Thailand"

Hantu Thailand dan Tangkur Buaya di Televisi Kita

Tari

Kisah Penari dan Orang Awam

TEMPO|interaktif

Olahraga

Gara-gara Kembang Api, Iqbal Dipastikan Absen

Sepuluh Persen Warga Taiwan Ternyata WNI

Olahraga

Milito Berharap Forlan Tak Tinggalkan Inter

Metro

Satpam IPB Korban Penembakan Langsung Dimakamkan

Nasional

Jusuf Kalla: Pemerintah Harus Stop Jadi Penghimbau!

Olahraga

Van der Vaart Sarankan Robben Bertahan di Muenchen

Olahraga

Pereli Subhan Aksa Sementara Masuk 3 Besar

Nasional

Corby Sudah Bisa Ajukan Bebas Bersyarat  

Ronaldo : Portugal Akan Kalahkan Jerman

Nasional

Pertamina Luncurkan SPBU Khusus di Bali

Nasional

KPK Tahan Bekas Wali Kota Cilegon  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif