Film Thailand menggebrak dunia. Kejutan itu datang sepekan silam dari Festival Film Cannes 2004. Tropical Malady karya sutradara Apichatpong Weerasethakul, oleh dewan juri yang diketuai Quentin Tarantino, ditabalkan sebagai film dengan anugerah special jury prize. Namun film ini bukanlah pionir film Thailand dalam soal tembus-menembus festival internasional. Sebelumnya, film-film Thailand sudah mulai malang-melintang di berbagai festival film dan hampir selalu mendapat penghargaan atau minimal pujian kritikus.
Pekan silam, Teater Utan Kayu menyelenggarakan pemutaran Pekan Film Thailand. Seiring dengan itu, bioskop komersial jaringan 21 sudah mulai memutar beberapa judul film Thailand. Apa yang menyebabkan film Thailand bisa segera naik ke panggung internasional dibandingkan dengan film Indonesia? Bagaimana infrastruktur dan studio film Thailand bisa jauh lebih maju? Ikuti liputan TEMPO dan wawancara dengan pengamat film Thailand.
Jumlah film seri Thailand yang diputar di stasiun televisi kita kalah jauh dibandingkan dengan telenovela atau serial Mandarin. Tapi alur ceritanya dekat dengan alam Indonesia.
Meski belum banyak yang menembus bioskop, film Thailand mulai membanjiri pasar Indonesia berbentuk cakram video. Ada yang disulihsuarakan ke dalam bahasa bencong.