• Home
  • 21 Juni 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 21 Juni 2004

    Kerukunan di Sela Rumpun Bambu

    Bangunan beratap kerucut mirip joglo itu tak terlalu besar. Luasnya hanya 8 x 8 meter. Uniknya, dinding bangunan tidak saling bersambung. Celah di sudut sekaligus berfungsi sebagai pintu. Setiap dinding yang penuh ornamen berdiri sesuai dengan arah mata angin. Ada pepohonan dan dedaunan bambu dengan gradasi warna—semakin ke atas semakin memudar.

    "Warna daun bambu yang semakin pudar itu menggambarkan bahwa Tuhan itu satu; dan bahwa di atas sana tidak ada sekat-sekat agama. Semakin ke atas, semakin menyatu dengan alam. Sementara itu, di sini, kita beribadat dengan cara berbeda," kata Romo Isworo, Direktur Studio Audio-Visual Pusat Kateketik (Puskat).

    Tempat ibadat ini dibangun di tengah hutan bambu, berbaur dengan rumah penduduk di Sinduarjo, dekat kawasan wisata Kaliurang, Yogyakarta. Bangunan ini punya fungsi religius yang menakjubkan. Di sana, para pemeluk yang berbeda agama bisa beribadat menurut ajaran agama masing-masing tanpa terganggu oleh yang lain.

    Beberapa tokoh pernah beribadat atau menggelar lokakarya antaragama di sana. Antara lain Abdul Munir Mulkhan (Islam), mendiang Th. Sumartana (Kristen), mendiang Ibu Gedong Bagoes Oka (Hindu), Biksu Panyavaro dari Mendut (Buddha), dan beberapa uskup Katolik.

    Selain hiasan pohon bambu, setiap dinding diberi lukisan lambang pemujaan tiap-tiap agama. Dinding sebelah timur, untuk pemeluk Buddha, bertuliskan "Biarlah Setiap Makhluk Bersorak Sorai". Sisi selatan, untuk pemeluk Kristen dan Katolik, dihiasi gambar burung merpati yang di bawahnya tercantum tulisan "Pandanglah Burung-Burung di Langit". Sisi barat, untuk umat Islam, dindingnya berhiaskan kaligrafi yang terjemahannya "Dan Allah Tidak Menyukai Kebinasaan". Sedangkan sisi utara untuk umat Hindu, dengan simbol Hindu disertai tulisan "Aku Hidupi Semua Tumbuh-Tumbuhan".

    Rumah ibadat bersama itu dibangun 10 tahun lalu oleh Ruedi Hofmann S.J., seorang pastor Katolik dari Swiss. Ia tidak cuma penggagas, tapi sekaligus arsitek seluruh bangunan di lahan seluas 3,3 hektare itu. Di antara rumpun bambu di tepian Sungai Boyong itu terdapat pula bangunan lain dan rumah-rumah panggung yang biasa disewakan untuk pelatihan atau lokakarya.

    Romo Isworo mengaku hanya melanjutkan pekerjaan yang telah dirintis oleh Romo Ruedi. Sebagai rohaniwan Katolik, ia merasa diilhami oleh perintah Yesus untuk mengasihi sesama manusia. Sebab, menurut dia, Yesus selalu membuka diri terhadap semua orang. "Beliau bahkan sering memberi contoh mengenai orang beriman dari golongan lain," ujarnya. Dengan landasan teologis itu, Romo Isworo menganggap bergaul dengan penganut agama di luar Katolik itu penting.

    Tapi, upaya menjalin silaturahmi antarpemeluk agama itu tak selalu lancar. Berbagai protes sempat mewarnai kehadiran rumah ibadat bersama itu. "Waktu itu protes keras justru datang dari umat Katolik," tutur Romo Isworo. Mereka mempersoalkan, mengapa gambarnya burung merpati, bukan salib. Bahkan ada kelompok Katolik yang mempertanyakan pembangunan tempat ibadat untuk berbagai agama itu.

    Sementara itu, ada umat Islam yang keberatan dengan adanya gambar, hal yang tidak lazim di dalam masjid. Mereka lebih menyukai kaligrafi ayat-ayat Al-Quran. "Kami tidak memaksa. Tapi, setelah banyak orang bisa menerima, bahkan kemudian melakukan ibadat di sini, lama-kelamaan ya tidak apa-apa," ujar Romo Isworo.

    Rumah ibadat bersama di Yogyakarta itu tidak sendirian. Di Kampung Percik, Desa Turusan, Salatiga, Jawa Tengah, juga berdiri sebuah bangunan yang fungsinya sama: dapat digunakan untuk beribadat oleh penganut agama yang berbeda. Namun, tidak seperti di Yogyakarta, di rumah ibadat di Salatiga ini sama sekali tidak ada simbol-simbol agama. Di sana, umat Kristen atau Katolik yang mau melakukan misa bersama dipersilakan membawa salib sendiri. "Tapi, setelah misa selesai, salib harus dibawa pulang," kata Prajarka, Direktur Eksekutif Persemaian Cinta Kemanusiaan (Percik), yang mengelolanya.

    Amin Abdullah, Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, menilai pembangunan rumah ibadat seperti itu merupakan simbol ketulusan dalam berinteraksi positif untuk mendewasakan umat. "Itu upaya mendekatkan diri dalam arti komunikasi sosial," ujarnya. Dalam Islam, menurut Amin, ada anjuran untuk bersilaturahmi dan
    bersikap tasamuh alias saling menghargai atau toleran.

    Amin benar. Rumah ibadat bersama seperti itu niscaya merupakan salah satu upaya pendidikan untuk mendewasakan umat. Karena itu, seperti kata Uskup Semarang, Ignatius Suharyo, jangan sampai rumah ibadat bersama itu cuma artifisial, bahkan kemudian menimbulkan kebingungan umat. Ia menyadari, "Membangun kerukunan antar-umat beragama memang bukan pekerjaan sederhana."

    Nugroho Dewanto, L.N. Idayanie, Saiful Amin (Yogyakarta), Sohirin (Semarang)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Kerukunan di Sela Rumpun Bambu

Album

PENGHARGAAN

Ichramsjah A. Rachman, 59 Tahun

Buku

Kisah Sebuah Konsep

Catatan Pinggir

Tertawa

Seni Rupa

Suara Hati Para Perantau

TEMPO|interaktif

Internasional

Badai Bud Hampiri Meksiko

Olahraga

Barcelona vs Bilbao : Turunkan Skuad Terbaik

Artika Sari Devi Segera Tambah Momongan

Olahraga

Gara-gara Kembang Api, Iqbal Dipastikan Absen

Sepuluh Persen Warga Taiwan Ternyata WNI

Olahraga

Milito Berharap Forlan Tak Tinggalkan Inter

Metro

Satpam IPB Korban Penembakan Langsung Dimakamkan

Nasional

Jusuf Kalla: Pemerintah Harus Stop Jadi Penghimbau!

Olahraga

Van der Vaart Sarankan Robben Bertahan di Muenchen

Olahraga

Pereli Subhan Aksa Sementara Masuk 3 Besar

Nasional

Corby Sudah Bisa Ajukan Bebas Bersyarat  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif