• Home
  • 21 Juni 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 21 Juni 2004

    Tertawa

    Ketika hasrat berkuasa jadi lumrah, kebutuhan akan tertawa jadi penting. Ambisi bukanlah suatu hal yang buruk, namun sempit. Kehendak untuk jadi pemenang pemilihan presiden pada dasarnya sama dengan tekad jadi pemegang Piala Eropa. Dalam motif itu, sebuah lapangan direduksikan jadi arena antara "kita" dan "mereka". Arah hanya satu.

    Humor bisa menghentikan penyempitan itu. Yang jenaka mengguncang konsentrasi, mengacau fokus, dan memperluas hidup dengan menampilkan yang ganjil dan terjungkir balik.

    Misalnya lelucon ini:

    Calon Presiden X datang ke sebuah daerah miskin di Pulau B. Di hadapan sekitar 700 penghuni, sang calon berpidato.

    "Saudara-saudara," katanya, "akan saya bangun instalasi air bersih untuk desa ini!"

    Penduduk mula-mula diam. Tiba-tiba seorang berteriak, "Hoya!"

    Segera, semua warga juga berseru, "Hoya! Hoya!"

    Pak Calon tak tahu apa arti kata yang diteriakkan dalam bahasa lokal itu, tapi ia lihat orang pada tersenyum. Ia pun kembali bergelora.

    "Kelak, jika saya menang," katanya lagi keras, "akan saya keluarkan keputusan bahwa rakyat Pulau B tak perlu bayar pajak!'

    "Hoya! Hoya!"

    "Meskipun begitu, Saudara-saudara, sekolah akan tetap dibangun!"

    "Hoya! Hoya!"

    Pidato kampanye pun selesai. Sang Calon berkeliling melihat-lihat rumah kumuh dan ladang kering di dusun yang miskin dan kotor itu. Di sebuah sudut ia nyaris terperosok. Seorang desa berkata, "Awas, Pak, jangan sampai menginjak hoya"—dan ditunjuknya seonggok tahi.

    Realitas seakan-akan ambyar dalam peristiwa itu. Citra umum seorang calon presiden tiba-tiba bukan lagi sesuatu yang sudah bulat. Umumnya ia dianggap pintar dan cerdik. Tapi di sana ia terkecoh oleh rakyat di dusun miskin yang galibnya dibayangkan sebagai "terkebelakang".

    Ada satu lelucon lain. Calon Presiden Z datang ke sebuah pertemuan di kawasan baru di luar Bogor. Penduduk berkumpul di sebuah gelanggang olahraga, dan Pak Calon berpidato tentang perlunya pembaruan akhlak. Setelah itu, ia mendatangi orang ramai untuk bersalaman.

    Tiba-tiba seorang perempuan mendekat. Ia tersenyum. Pak Z pun membalas senyum itu dengan ramah. Ia ulurkan tangannya: "Terima kasih, Bu. Ibu kelak akan memilih saya, kan?"

    "Lo, tentu, dong," sahut perempuan itu, "Kan, saya istrimu yang pertama!"

    Kisah ini diarahkan ke seseorang yang dikenal beristri banyak, tentu. Humor memang bisa seperti agresi. Thomas Hobbes, yang memandang manusia dengan muram, menyatakan bahwa kita menertawakan orang lain karena kita merasa hebat dan orang lain kita anggap cacat. Seseorang yang menyusun teori tentang humor juga mengatakan bahwa lelucon adalah hasil evolusi dari suara aum dalam duel rimba raya.

    Tapi ada lelucon yang tak menertawakan orang lain, melainkan diri sendiri. Dalam humor jenis ini hidup seakan-akan tak punya ketegangan. Ketika "agresi" diarahkan ke diri sendiri, konflik adalah sesuatu yang mubazir. Tapi bagaimana hidup berubah tanpa konflik? Maka ada yang mengatakan, humor bersifat konservatif.

    Ada benarnya. Dalam film Indonesia lama, sebagai kelanjutan dari tonil populer tahun 1920-an, adegan kocak yang lazim adalah ketika muncul jongos dan babu. Kedua anggota kelas bawah ini menampilkan diri begitu udik dan tolol. Mereka diadakan untuk sebuah kontras bagi sosok sang majikan yang serba ganteng, cantik, berhasil. Di sini tata sosial yang timpang, antara si juragan yang menang dan si abdi yang takluk, diperkuat.

    Tapi tak semua lelucon jongos-babu memperkukuh apa yang mapan, meskipun sepintas memang tampak begitu. Saya ingat "Srimulat".

    Sejarah kelompok ini adalah sejarah orang-orang yang menerobos tata sosial dan kategorinya. Jika kita ikuti buku Teguh Srimulat yang disusun Herry Gendut Janarto (terbit pada tahun 1990), sang pendiri kelompok lawak itu lahir dengan nama Raden Ajeng Srimulat. Ia putri Wedana Bekonang, Surakarta. Anak wedana ini tak cuma gemuk dan cantik; ia juga pintar menembang macapat, dan suaranya merdu. Di rumah orang tuanya, kesenian Jawa adalah bagian hidup sehari-hari.

    Tapi Srimulat melarikan diri. Kehidupan rumah orang tuanya menyesakkan dia setelah ibunya meninggal. Ia mendapatkan ibu tiri yang tak menyetujui gadis itu meneruskan sekolah. Ia dipingit. Ia minggat.

    Dalam pelarian ini ia bergerak terus. Rangkaian hidupnya layak untuk bahan novel yang bagus: ia bergabung dengan rombongan seorang dalang, lalu sebuah grup ketoprak yang main di alun-alun kota, lalu sebuah paguyuban wayang orang yang dipimpin seorang perempuan yang juga memimpin orkes yang memainkan lagu keroncong, dan akhirnya berkelana dari pasar malam ke pasar malam.

    Di panggung yang mengembara itu ia berjumpa dengan Teguh. Pemuda yang 18 tahun lebih muda ini kemudian jadi suaminya, dan kemudian mengabadikan nama Srimulat dalam sebuah kelompok komedi yang sukses.

    Teguh adalah anak Kho Swie Hien dari Kampung Bareng, Klaten, yang dibesarkan oleh Go Bok Kwie, seorang buruh percetakan, dan istrinya, Ginem. Dari latar yang miskin ini ternyata ia tumbuh jadi seorang pemain musik berbakat, antara lain berkat Pak Wiro, tetangganya, seorang pembuat gitar.

    Tapi lebih dari itu, seperti Srimulat, Teguh juga orang yang menerobos tata masyarakat kolonial. Sementara Srimulat tak terjerat dalam kategori kelas, Teguh tak terjebak dalam kategori ras. Bukan kebetulan mereka betah di dunia seni hiburan. Sudah lama, apalagi pada masa menjelang runtuhnya kolonialisme di awal 1940-an, dunia ini bebas dari desain kekuasaan Hindia-Belanda yang merumuskan identitas dengan dasar asal-usul.

    Itu mungkin sebabnya lelucon Srimulat dalam adegan abdi-majikan tak sama dengan klise dalam tonil tahun 1920-an. Si juragan bisa tampak bodoh dan sebaliknya si pembantu cerdik. Posisi berubah tak putus-putusnya. Martabat dan identitas berada dalam chaos. Semua bisa ditertawakan, semua bisa menertawakan—sebuah situasi carnavalesque yang meneruskan kerinduan demokrasi.

    Goenawan Mohamad


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Kerukunan di Sela Rumpun Bambu

Album

PENGHARGAAN

Ichramsjah A. Rachman, 59 Tahun

Buku

Kisah Sebuah Konsep

Catatan Pinggir

Tertawa

Seni Rupa

Suara Hati Para Perantau

TEMPO|interaktif

Internasional

Badai Bud Hampiri Meksiko

Olahraga

Barcelona vs Bilbao : Turunkan Skuad Terbaik

Artika Sari Devi Segera Tambah Momongan

Olahraga

Gara-gara Kembang Api, Iqbal Dipastikan Absen

Sepuluh Persen Warga Taiwan Ternyata WNI

Olahraga

Milito Berharap Forlan Tak Tinggalkan Inter

Metro

Satpam IPB Korban Penembakan Langsung Dimakamkan

Nasional

Jusuf Kalla: Pemerintah Harus Stop Jadi Penghimbau!

Olahraga

Van der Vaart Sarankan Robben Bertahan di Muenchen

Olahraga

Pereli Subhan Aksa Sementara Masuk 3 Besar

Nasional

Corby Sudah Bisa Ajukan Bebas Bersyarat  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif