• Home
  • 21 Juni 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 21 Juni 2004

    Demi Target, Nilai Disunat

    HASIL Ujian Akhir Nasional (UAN) sempat melegakan pelaku pendidikan. Seperti yang diumumkan Departemen Pendidikan, jumlah siswa sekolah menengah umum yang tidak lulus tahun ini hanya 11,45 persen. Angka ini hampir sama dengan tahun sebelumnya, sekitar 10 persen. Padahal batas nilai kelulusan (untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika) dinaikkan dari 3,01 tahun lalu menjadi 4,01 tahun ini.

    Lalu makin pandaikah para siswa SMU dan sekolah menengah kejuruan itu? Ternyata tidak. Senin pekan lalu, sejumlah sekolah mengungkap akal-akalan Departemen Pendidikan agar tingkat kelulusan sesuai dengan target di bawah 15 persen. Utak-atik angka dengan memakai patokan tabel konversi membuat nilai yang jeblok dikatrol naik, sementara nilai yang tinggi malah dikerek turun.

    Sepertinya subsidi silang ini cukup adil. Namun sulap nilai itu jelas merugikan para siswa pandai, yang nilainya harus disunat. Misalnya enam siswa SMU Negeri 1 Malang, Jawa Timur, yang jadi korban. Mereka terancam gagal masuk seleksi AMN.

    Soalnya, Akademi Militer Nasional itu mensyaratkan rata-rata nilai UAN harus di atas tujuh, sementara keenam siswa tersebut hanya memperoleh nilai rata-rata enam. Padahal baik mereka maupun guru mereka sendiri yakin nilai yang diraih tidak kurang dari angka delapan. "Mereka korban konversi," kata Bambang Tri Bagyo, guru bahasa Inggris SMU Negeri 1 Malang.

    Nasib serupa dialami ratusan siswa lain yang berniat melanjutkan pendidikan ke sekolah kedinasan seperti Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Begitu pula siswa yang berniat mengajukan permohonan beasiswa kuliah di luar negeri, yang jadinya terpaksa membatalkan niatnya. Sebab, nilai minimal UAN yang disyaratkan pemberi beasiswa tidak dapat mereka lewati.

    "Konversi ini merugikan siswa yang pandai," kata Peter B. Sihombing, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAK Kolese Santo Yusup, Malang. Mengacu pada tabel konversi, menurut Peter, nilai siswa yang hanya bisa menjawab soal dengan benar di bawah separuh ditambah, sedangkan nilai siswa yang mampu menjawab lebih dari separuh dengan benar malah dikurangi.

    Peter mencontohkan ujian bahasa Inggris. Jika siswa hanya menjawab 10 dari 60 soal secara benar, nilainya sebelum konversi 1,67. Setelah dikonversi, nilainya bisa melompat menjadi 4,09. Sedangkan nilai siswa yang bisa menjawab 50 soal dengan benar, sebelum konversi, harusnya 8,33. Namun hasil keringat mereka ini dikorting menjadi 6,83.

    Departemen Pendidikan mengakui pihaknya memakai sistem konversi itu. Tujuan mereka adalah mengadaptasi keragaman kemampuan daerah serta mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebocoran. "Harus diakui, kepada siswa di Papua, misalnya, tidak adil jika diberikan soal yang sama dengan yang diujikan di Jakarta," kata Kepala Pusat Penilaian Pendidikan di Departemen Pendidikan, Bahrul Hayat.

    Departemen Pendidikan membuat 30 paket soal yang berbeda. Nah, tabel konversi dibuat untuk menyetarakan hasil ujian siswa dari paket soal yang berbeda tingkat kesulitannya. Bahrul mengakui sistem ini sudah dipakai selama sembilan tahun terakhir. "Proses konversi skor ini tidak untuk konsumsi publik," kata Bahrul.

    Soal terhambatnya siswa mendapat beasiswa ke luar negeri, Bahrul menjanjikan, pemerintah akan menghubungi kedutaan asing. Pihaknya juga akan mengirimkan hasil akhir UAN sebagai bahan penafsiran dan pertimbangan penerimaan murid Indonesia di institusi mereka. Informasi serupa akan diteruskan ke lembaga-lembaga pendidikan yang menggunakan nilai UAN sebagai bahan pertimbangan seleksi siswa baru, seperti Akademi Militer.

    Ujian akhir memang sangat penting untuk mengetahui standar pendidikan nasional. Dua tahun lalu, saat ujian nasional masih bernama Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas), kelulusan siswa ditentukan oleh sekolah masing-masing. Selain dari nilai, kelulusan itu diukur dari hasil prestasi selama tiga tahun. Nah, nilai Ebtanas tadi bisa menjadi pegangan pemerintah untuk menakar mutu pendidikan di suatu wilayah.

    Sejak awal, UAN memang telah memicu pertentangan. Sebab, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengakui adanya prinsip penyelenggaraan pendidikan yang demokratis dan berkeadilan dengan menjunjung tinggi nilai kultural dan kemajemukan. Belum lagi biaya UAN Rp 260 miliar dari pemerintah pusat dianggap sebagai pemborosan. Sementara itu, jika dihitung, uang yang keluar dari anggaran pusat, anggaran daerah, serta dana masyarakat diperkirakan mencapai Rp 1 triliun.

    Namun saat itu pemerintah ngotot melaksanakan UAN meski Komisi Pendidikan DPR sudah menyatakan keberatan. Benar saja, UAN kini menimbulkan masalah baru. Ketua Komisi Pendidikan DPR Taufiqurrahman Saleh melihat adanya orientasi proyek dalam UAN. Hal ini membuat DPR memutuskan menyetop anggaran UAN mulai tahun depan. Sebagai gantinya, kelulusan siswa harus diserahkan kepada guru dan sekolah.

    Menurut pengamat pendidikan Arief Rahman, konversi memang harus dilakukan karena kualitas pendidikan di negeri ini sangat beragam. Namun seharusnya tidak ada siswa yang dirugikan dengan cara mengurangi nilai yang diraih siswa tertentu. Baginya, nilai siswa harus dikembalikan ke nilai sebelum dikonversi. "Sebab, nilai itu harus mereka hadapi seumur hidup," kata Arief.

    Arief tetap melihat ujian akhir diperlukan sebagai diagnosis mutu pendidikan di setiap sekolah atau daerah. Namun dia menolak jika hasil UAN dijadikan satu-satunya instrumen kelulusan. Kelulusan harus diputuskan oleh sekolah melalui rapat kepala sekolah dan dewan guru, bukan oleh pemerintah pusat. "Akibatnya, semua sekolah di negeri ini hanya punya satu kepala sekolah (pemerintah)," kata Arief.

    Agung Rulianto, Rina Rachmawati, Indra Darmawan, Agus Rahardjo, Bibin Bintariadi (Malang)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Kerukunan di Sela Rumpun Bambu

Album

PENGHARGAAN

Ichramsjah A. Rachman, 59 Tahun

Buku

Kisah Sebuah Konsep

Catatan Pinggir

Tertawa

Seni Rupa

Suara Hati Para Perantau

TEMPO|interaktif

Nasional

Golkar Belum Tentukan Pendamping Ical

Teknologi

Dukungan Petisi Muaro Jambi Terus Mengalir

Nasional

Polisi: Lima Kasus Penembakan di Aceh Berkaitan

Dewan Pers:Standar Kompetensi Cegah Wartawan Nakal

Lokasi Tabrakan di Cisarua Jadi Ajang 'Rekreasi'  

Nasional

Adnan Buyung: Nasir Tak Berhak Kunjungi Nazar  

Olahraga

Jelang MU vs Liverpool: Cleverley Siap Turun  

Nasional

Golkar Tak Ambil Pusing JK Jadi Capres  

Nasional

Golkar Deklarasi Capres pada Oktober 2012  

Upah Buruh Minimal Rp 2 Juta di 2014  

Pemeriksaan Pelapor Zumi Zola Diundur

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif