Perjuangan sebagian masyarakat Batak Toba seperti tak pernah berhenti atas makin gundulnya tanah leluhur, penyerobotan kepemilikan tanah, serta pencemaran lingkungan. Jatuhnya korban jiwa menambah catatan hitam di Porsea, Sumatera Utara. Izin operasi dari pemerintah untuk pabrik pulp PT Indorayon—kini Toba Pulp Lestari—dituding sebagai biang bencana.
Namun kini pendapat masyarakat mulai terbelah, sebagian mendukung kebijakan dan sebagian yang lain menolaknya, sehingga tiga pilar kehidupan masyarakat Batak, dalihan na tolu, pun retak, ibarat selembar ulos yang mulai sobek di sana-sini. Mengapa mereka begitu gigih berjuang? Dan apa saja harga yang harus dibayar untuk perlawanan itu? Wartawan TEMPO
I G.G. Maha Adi mengunjungi Porsea dan menuliskan laporannya.