• Home
  • 02 Agustus 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
    • Perjalanan
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 02 Agustus 2004

    Dikejar Piala Terkotor

    HADIAH selalu membuat senang orang yang menerimanya. Tapi sungguh lain piala bergilir yang diberikan oleh Bupati Madiun ini. Gara-gara mendapat trofi tersebut, Edy Purwanto, Kepala Bagian Tata Pemerintahan Kabupaten Madiun, justru menjadi murung. Ia juga menjadi bahan ejekan rekan-rekannya.

    "Musibah" terjadi pada peringatan hari jadi Kota Madiun yang ke-436, Senin dua pekan lalu. Puncak perhelatan dipusatkan di Pendapa Muda Graha, Kabupaten Madiun. Seperti tradisi tahunan sebelumnya, yang dilakukan sejak 2001, Bupati Djunaedi Mahendra membagikan hadiah bagi kecamatan atau instansi yang masuk kategori tebersih atau terkotor. Penilaian dilaksanakan pada 6-17 Juli, diikuti 61 kantor unit kerja dan 15 kantor kecamatan.

    Sungguh beruntung jika mendapat hadiah karena lingkungan kerja instansi yang dipimpinnya dinilai tebersih. Namun yang dialami Edy Purwanto sebaliknya. Dia mendapat piala bergilir karena kantornya, bagian tata pemerintahan, dianggap paling kotor alias jorok.

    Hadiahnya? Ini yang membuat Edy kian tersipu. Dia mendapat sebuah sulak (pembersih debu dari bulu ayam, kemoceng) yang panjangnya satu meter. Dengan wajah malu dan langkah berat, Edy menerima kemoceng raksasa itu dari Bupati Djunaedi di pendapa kabupaten.

    Edy menjadi bahan olok-olok kawan-kawannya karena sebelumnya pernah mendapat hadiah yang sama, saat ia masih menjadi Camat Dagangan. Ia tak habis pikir, juri sepertinya mengincar dia. "Jurinya mungkin bingung. Wong, semua ruang di kantor instansi saya bersih, kok," ujarnya bersungut-sungut.

    Toh, seusai lomba, ia langsung menginstruksikan agar semua anak buahnya melakukan penataan ulang dan memperketat aturan kebersihan kantor.

    Untuk tahun depan, usahanya mungkin baru kelihatan hasilnya. Selama menunggu, selama setahun Edy harus rela menjadi bahan ejekan. "Sulaknya cinta sama Pak Edy, ke mana-mana selalu ikut," celetuk salah satu pemimpin unit kerja.

    Edy hanya bisa nyengar-nyengir sambil memegang sulak yang dibencinya.

    Tergiur Sofa Empuk

    INI nasihat penting bagi setiap calon maling: jangan pernah mencuri bila mata sudah mengantuk! Bila "petuah" tersebut tak diindahkan, niscaya nasibnya akan sama dengan Yuliandi, 28 tahun, pria yang sehari-hari menjadi tukang ojek di Batam.

    Lelaki asal Sumatera Utara itu sebelumnya pusing memikirkan angsuran kredit motor ojeknya yang tiga bulan menunggak. Dia juga mesti memenuhi kebutuhan makanan tambahan untuk anak balitanya. Dari hasil mengojek, uang yang didapat belum cukup untuk menutup semua keperluan itu.

    Lalu datanglah sebuah tawaran menggiurkan. Seorang teman mengajaknya mencuri. Sasarannya sebuah rumah-toko berlantai tiga di kawasan Batam Center, Blok 2 Nomor 4. Tanpa pikir panjang, pria berkumis ini langsung mengiyakan.

    Pada Minggu dua pekan lalu, mereka beraksi. Melalui jendela kamar mandi lantai dua, Yuliandi bersama temannya—polisi merahasiakan namanya agar tak kabur dari Batam—masuk. Setelah mereka mengecek sana-sini, ternyata hanya ada satu unit komputer di lantai tiga yang mereka nilai berharga. Teman Yuliandi lantas berusaha memereteli komputer tersebut agar gampang dibawa.

    Saat itulah Yuliandi melihat sofa empuk. Dia pun rebahan di sana. "Saya baring-baring dulu, ya," kata Yuliandi kepada temannya. "Boleh, baring-baring saja dulu. Saya cari barang yang lain," sahut temannya menyetujui. Waktu sudah menjelang subuh.

    Tak dinyana, si pemilik rumah, Gemuk Sitepu, 28 tahun, yang tidur di lantai dua, terbangun. Gemuk merasa mendengar suara-suara aneh dari lantai di atasnya. Dia segera memeriksa. Teman Yuliandi, yang kepergok, berhasil lari sambil membawa komputer. Dia tak sempat membangunkan rekannya.

    Gemuk segera menghubungi satuan pengaman setempat tanpa membangunkan "si tamu" yang tidur di sofanya. Begitu bangun, Yuliandi sudah dikepung beberapa orang satpam dan tuan rumah.

    Maka dia pun diantar ke Kepolisian Sektor Batam Center. Tentu saja tidak untuk melanjutkan tidurnya. "Saya kecapekan, makanya saya tidur. Tapi, saya akui, ini perbuatan bodoh," katanya kepada TEMPO. Bodoh ketiduran atau menyesal mencuri, nih?

    Andy Marhaendra, Rohman Taufiq (Madiun), Rumbadi Dalle (Batam)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

SAKIT

H. Mohammad Noer

Buku

Dari Sebuah Arena Raksasa

Catatan Pinggir

Saksi

Indonesiana

Dikejar Piala Terkotor

Seni Rupa

Tafsir Hujan Ugo

Ni Kadek dalam Sepotong Konsep

TEMPO|interaktif

Internasional

Pemilu Mesir, Islamis vs Sekuler ke Putaran Kedua

Internasional

Ini Pelajaran 'Kenali Musuhmu' Siswa Palestina  

Olahraga

Turun Minum, Barcelona Unggul 3-0 Atas Bilbao

Metro

Kopaja S13 Pekan Depan Lintasi Jalur Busway?

Sepuluh Persen Warga Taiwan Ternyata WNI  

Hasil Rapat MUI Soal Lady Gaga, Tegas Menolak

Pengobatan Gratis Kucing dan Kuda di Gili Lombok

Internasional

Badai Bud Hampiri Meksiko

Olahraga

Barcelona vs Bilbao : Turunkan Skuad Terbaik

Artika Sari Devi Segera Tambah Momongan

Olahraga

Gara-gara Kembang Api, Iqbal Dipastikan Absen

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif