Tubuh itu terlihat menyedihkan. Bersinglet putih bercelana kolor hitam. Sebuah gantungan baju berwarna hijau terselip di punggungnya. Perlahan, ia mengenakan celana hitam yang tergeletak di sebelahnya. Satu per satu, isi kantong celananya dikeluarkan. Bungkus permen karet, tas plastik, uang koin, dan lipstik yang lantas dioleskan sembarangan di bibirnya.
Di balik sosok konyol itu, ada konsep menarik yang ditawarkan: sebuah provokasi untuk memikirkan kembali definisi cantik. Provokasi ini berlangsung selama tujuh menit lewat gerak tubuh Joyce Lim, koreografer-penari asal Malaysia. Ia tampil di Taman Ismail Marzuki pekan lalu, mengakhiri tiga hari acara Solo Sans Frontiere.
Menggunakan materi Noh dan Butoh, Joyce menampilkan konsepnya lewat judul Stolen. "Dalam Noh, saya pernah baca ada karakter-karakter yang tidak boleh dimunculkan di atas panggung karena tidak cantik. Berbeda dengan Butoh, yang justru terlihat lebih gelap," ujar Joyce, yang sembilan bulan berada di Jepang menuntaskan Asian Public Intellectuals Fellowship dari Nippon Foundation.
Joyce tak berniat mengubah karakter Noh ataupun Butoh. Ia hanya ingin memperlihatkan bahwa sesuatu yang aneh, ganjil, dan gelap bisa terlihat cantik. Ia memakai singlet dan celana kolor lelaki, secara ganjil mengoleskan lipstik, dan bergerak gagap mengikuti lagu Oblivion dari Macy Gray.
Di luar konsep, karya ini berhasil secara bentuk. Setiap gerak muncul bermakna, mengisi setiap alur komposisinya. Meski tak sepekat Min Tanaka, gerak Butoh Joyce mampu menjadikan gerak pengulangannya terlihat intens.
Keberhasilan Joyce juga diperlihatkan di karya An Attitude of Waiting yang ditarikan Susi Mariah, penari berbakat dari Sanggar Balet Sumber Cipta. Susi menari di bidang segi tiga yang dihasilkan dari pembagian ruang bujur sangkar. Sekitar 30 kursi berjajar mengisi ruang segi tiga di luar bidang gerak Susi. Kursi itu ditempatkan membelakangi Susi dan penonton, melambangkan penantian tak berujung.
Terinspirasi puisi The Bow and the Lyre karya Octavio Paz, Joyce melihat bahwa puisi itu sangat menekankan ritme. Ia lantas menciptakan gerak mengalir dengan spirit gerak Tai Chi Chuan. Selama 22 menit, penonton melihat aliran penantian Susi yang mengisi ruang panggung dengan kegelisahan tak bertepi.
Kehadiran dua karya Joyce berhasil menyelamatkan acara yang digagas Persaudaraan Masyarakat Seni Pertunjukan Kontemporer Jakarta ini. Sejak awal, pertunjukan 11 seniman tari dan musik dari Indonesia dan luar negeri ini terlihat kurang persiapan. Konsepnya, acara ini mengundang para seniman untuk tampil solo, sesuai dengan judul Solo Sans Frontiere, yang diterjemahkan panitia menjadi "Sendiri tanpa Batas". Dari ranah musik, tampil Ben Pasaribu, Adelaide Simbolon, Tony Prabowo, Eugene Prochac (Slovakia), Stephanie Griffin (Kanada), dan Rene T.A Lysloff (Amerika). Tari diwakili Jefriandi Usman, Ery Mefri, Aidil Usman, Joyce, dan Susi.
Tiga koreografer Indonesia tampil dengan kemewahan artistik tapi miskin eksplorasi. Dari ketinggian 25 meter, Jefri turun dari atap dengan tali pengaman yang mengikat pinggangnya. Sekitar lima menit ia tergantung di atas kepala penonton. Ketika berpindah ke panggung, ia menari di antara empat stager besi dan semacam panggung mini berpermukaan miring. Di antara stager, Syahrialpemusik Minangduduk di ketinggian sana meniup sebuah trompet panjang.
Jefri, koreografer asal Padang, mengaku "kurang fit." Sedangkan Joyce merasa latihan siang-malam sepanjang dua minggu "masih terlalu singkat."
Karya Aidil Usman dan Ery Mefri bernasib sama. Keduanya lebih menonjolkan elemen artistik, meski Aidil mengaku itu bagian konsepnya. "Aku ingin memperlihatkan gerak kinetik di atas panggung yang tak semata berupa tubuh," kata Aidil, yang kebetulan kakak Jefriandi Usman. Berkaitan dengan tragedi Buyat, Aidil mengangkat karya Gerak Rupa Minamata. Ia memasang bola dunia yang meledak, kucuran beras melambangkan merkuri, dan tubuh telanjangnya yang dilaburi fosfor. Sama dengan Aidil, Ery Mefri bergerak pelan dalam karya Balega Nan Salai. Ia mengakhiri karya dengan menjatuhkan piring dari atas panggung.
Jika acara ini memang direncanakan sebagai acara rutin tahunan, mestinya ada keseriusan untuk melakukan kuratorial. Prosedur ini akan mendorong seniman mempersiapkan acara secara matangapalagi kegiatan ini menyandingkan seniman kita dengan seniman asing. Sebenarnya karya Joyce tak terlalu cemerlang. Namun kurangnya persiapan seniman kita membuat karya para tamu asing terlihat bersinar.
F. Dewi Ria Utari
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

