TATO tribal itu meregang di punggung terbuka milik seorang perempuan. Tubuhnya menggeliat dalam pelukan seorang lelaki. Mereka bergulat, menyatu dalam jalinan yang menggumpal. Di balik rumpun bambu, tubuh mereka melantunkan keintiman prokreasi.
Dalam tempo lambat, dua tubuh itu menjadi bagian paling "kontemporer" dari karya yang berangkat dari sebuah tradisi Dayak di Kalimantan, tradisi yang tak hanya tampak dari gerak, tapi juga fisik. Sekitar 15 orang suku Dayak Kenyah, Benuag, dan Modang berbaur dengan puluhan penari dari Jakarta dan Solo dalam Rijog, Pasir yang Sunyi di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu dua pekan lalu. Sebagian menari, sisanya bermain musik bersama musisi dari Institut Kesenian Jakarta, dipimpin Anusirwan, pemusik dari Padang.
Pembauran itu ide Deddy Luthan, 53 tahun, koreografer asal Minangkabau yang sejak 1974 mondar-mandir Jakarta-Kutai Timur. Di sanalah muncul empati terhadap penderitaan masyarakat Dayak: kerusakan hutan tropis dan hancurnya tempat berladang mereka. Di sanalah ia diangkat anak oleh kepala suku Dayak Kenyah dan Modang.
Hutan di Kalimantan tinggal pasir, para lelaki terpaksa meninggalkan desa dan mencari tanah untuk bercocok tanam, dan para perempuan melantunkan rijog (tembang) yang tak lagi bernada gembira. "Kini rijog-rijog mereka bernada sedih," ujar koreografer yang aslinya bernama Hendrawanto Panji Akbar ini.
Di Kalimantan, rijog biasa dilantunkan para perempuan. Dan Deddy memperlihatkan bagaimana ia menyorot masalah lingkungan ini dari sudut pandang perempuan, pihak yang paling menderita. Mereka yang terbiasa bekerja di ladang kini menganggur, kehilangan suami dan anak lelaki yang merantau mencari lahan baru.
Mungkin karena perempuan kerap dipandang sebagai sosok melankolis, karya tari ini menyuguhkan ekspresi berlarat-larat. Mayoritas gerak tampil dalam tempo lambat dengan kecenderungan bentuk yang sangat bergantung pada gravitasi bumi. Hal ini terlihat sejak awal. Beberapa perempuan tampak diam duduk bersimpuh di lantai panggung. Beberapa instrumen gesek dimainkan dalam nada-nada panjang. Menguatkan kesan ratapan.
Dalam situasi pedih perih, tampak beberapa lelaki bercawat dan bermantel kulit kambing. Mereka melangkah berjingkat di sela-sela tubuh para perempuan. Berbekal perisai kayu dan tombak panjang, mereka memperagakan adegan perburuan. Tombak panjang sesekali ditiup ujungnya seolah sumpitan yang menembak mangsa.
Lalu adegan prokreasi di atas, gerakan yang menuntut kelenturan. Si lelaki menggendong pasangannya dalam berbagai posisi; mereka bergulingan, saling membelitkan kaki. Sayangnya, kedua penari terlihat canggung dan terlalu berhati-hati. Hasilnya, gerakan terlihat tersendat tak membentuk aliran yang luwes.
Klimaks muncul bersama Iga Mawarni, penyanyi yang melantunkan rijog dalam bahasa Dayak Kenyah. Ratapannya diiringi guyuran pasir dari atas panggung. Sayangnya, adegan ini berhenti pada drama. Tak terlihat keinginan mencapai kedalaman rasa melalui gerak.
Mereka tak menempatkan adegan klimaks di bagian akhir. Dan memang tak ada kewajiban untuk itu. Ratapan Iga dilanjutkan dengan kemunculan para penari. Ada ritual pengobatan oleh Arenon, 54 tahun, Kepala Dusun Engkuni Pasek di Kutai Timur. Ia menarikan Belian Sentiu, yang biasa dilakukan secara tertutup. "Tidak boleh ada orang lewat saat ada ritual ini," ujar Arenon, yang memiliki kemampuan supernatural dan penyembuhan.
Kemunculan para penari tradisi cukup menimbulkan ketegangan di balik panggung. Meski Deddy telah memberikan arahan alur adegan, tetap saja muncul improvisasi yang di luar dugaan. "Aduh, si Bapak kok malah sudah pakai topi di atas panggung. Sudah gitu, enggak menari lagi, malah duduk," gumam Elly Luthan, istri Deddy, yang juga koreografer tari yang ikut memberikan pengarahan gerak.
Keberpihakan pada nasib masyarakat Dayak memang menjadikan karya ini patut disimak. Namun Deddy Luthan terlihat terbebani keinginan mengajak penonton prihatin. Niat luhur ini membuat koreografinya kehilangan irama dan menyulap tari jadi drama ratapan. Penonton memang mudah menyimaknya. Tapi, untuk mengajak mereka terlibat, sebuah karya sebaiknya "subversif", mengejutkan dengan ide-ide tak biasa. Dan itu tak tercapai.
F. Dewi Ria Utari
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
