• Home
  • 20 September 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Musik
    • Teater
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
    • Sosok
  • Arsip
  • 20 September 2004

    Sesak Napas Membawa Petaka

    WAJAH Sri Yati tampak lesu. Bocah berumur empat tahun ini tak selincah dulu. Berat badannya melorot seiring dengan gairah makannya yang menurun. Ia tak sanggup lagi bermain bersama kawan-kawannya. Sudah dua pekan anak pertama pasangan Rosminah dan Giman ini lebih sering terbaring di atas kasur tanpa ranjang di rumahnya. Suhu badannya tinggi disertai batuk dan demam.

    Orang tuanya sudah membawa ke Puskesmas Balaraja, Tangerang, Banten. Hasil diagnosis dokter menyatakan ia terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Penyakit ini menyerang satu atau lebih bagian saluran napas, mulai dari hidung hingga paru-paru.

    ISPA bukan penyakit baru. Penyakit ini timbul-tenggelam dari tahun ke tahun. Untuk tahun ini angkanya cukup besar. Di Tangerang saja tercatat 63.686 orang menderita ISPA. Sekitar 4.667 di antaranya adalah anak di bawah usia lima tahun (balita). Dalam enam bulan terakhir 56 orang meninggal akibat ISPA. Penyakit ini sekarang juga menyerang ribuan warga di Kabupaten Majalengka (Jawa Barat) dan di Provinsi Jambi.

    Derita yang dialami Sri Yati tergolong parah. Selain batuk dan demam, ia juga mulai mengalami sesak napas. Jangan heran jika ibunya, Rosminah, yang tinggal di rumah tipe 21 Perumahan Permata Balaraja, semakin cemas. "Kini ia tidak mau makan lagi," ujar buruh pabrik tekstil ini.

    Lingkungan tempat tinggal Rosminah dan keluarga sama sekali tidak mendukung penyembuhan si kecil. Mereka hidup di lingkungan padat penduduk dan udaranya kotor karena terpolusi asap pabrik dan kendaraan. Sebanyak 600 kepala keluarga hidup dalam satu RW. Setiap rumah hanya dibatasi satu tembok pembatas dari batako. Sirkulasi udara setiap rumah cuma lewat satu pintu. Begitu pula rumah Rosminah, kamarnya tak dilengkapi jendela sebagai ventilasi udara.

    Menurut dr. Tintin Martini dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang, udara yang tidak bersih akan menambah beban penderita ISPA. Dalam kondisi yang lemah, ia harus melawan virus baru yang mungkin terhirup lewat udara. Soalnya, penyakit ini memang menular lewat udara kotor. Ini biasa terjadi pada musim kemarau. Ludah dari seorang pengidap penyakit ISPA yang dibuang sembarangan cepat sekali kering lalu beterbangan di udara. "Karena lewat udara, penularannya cepat sekali," ujar Tintin, yang dikenal sebagai spesialis paru-paru.

    Penyakit ISPA bisa menyerang siapa saja, terutama para balita yang hidup di daerah padat penduduk dan memiliki polusi udara tinggi. Faktor kekurangan gizi juga mempermudah si anak terkena penyakit ini. Korban yang meninggal karena ISPA pun cukup tinggi. Dalam setahun mencapai 52 kematian pada setiap 1.000 kelahiran. "Angka ini bisa bertambah pada saat kemarau panjang," kata Dr. Bambang Supriyatno, dokter spesialis paru-paru di Jakarta. Pada musim seperti itu jumlah kematian bisa mencapai 10 persen dari angka kelahiran.

    Biasanya penyakit ini digolongkan menjadi dua: ISPA bagian atas (sekitar hidung) dan ISPA bagian bawah (paru-paru).

    Gejala awal yang mudah dikenali adalah badan panas. Pada ISPA bagian atas akan disertai batuk dan pilek. Jika tak segera ditangani ISPA bagian atas akan berubah menjadi ISPA bagian bawah. "Kondisi ini lebih berat," kata Bambang. Saat itu si penderita mulai mengalami sesak napas, bronkitis, sampai pneumonia (infeksi jaringan paru-paru). Hampir semua ISPA bagian bawah diawali dengan ISPA bagian atas.

    Jika tidak segera disembuhkan, penyakit ISPA amat berbahaya. Apalagi jika penyebabnya kuman ganas bernama streptokokus. Dalam waktu lima tahun kuman ini akan menyerang jantung dan ginjal. ISPA karena kuman ini bisa dikenali lewat gejalanya, yakni suhu tubuh panas mendadak dan kelenjar di sekitar daerah tenggorokan bengkak. Di daerah sekitar faring muncul bercak putih dan jumlah sel darah putih meningkat. Streptokokus hanya bisa dibasmi dengan antibiotik.

    ISPA bagian atas sebenarnya tak sulit disembuhkan. Bagi penderita yang memiliki daya tahan tubuh baik, penyakit ini akan hilang dengan sendirinya dalam waktu lima hari. Namun, jika kondisi tubuh tidak bagus, cukup dibantu dengan makanan bergizi, istirahat cukup, dan minum vitamin C dosis tinggi. "Jangan lupa banyak minum air putih," kata Bambang. Kalaupun diberi obat, sifatnya hanya pendukung. Jika gejalanya berupa batuk, yang diobati hanya batuknya.

    Selama ini penderita ISPA kurang menyadari dampak yang muncul karena dianggap remeh. Gejala ringan seperti demam sering dianggap penyakit biasa. Apalagi masa inkubasi ISPA tergolong lama, 14 hari. "Biasanya penderita mau berobat ketika sudah parah," kata Tintin. Padahal keterlambatan bisa menyebabkan penyakit ini berubah dari ISPA bagian atas menjadi ISPA bagian bawah. Bahkan tidak tertutup kemungkinan terjadi pneumonia jika melewati masa inkubasi selama dua pekan.

    Penderita pneumonia tidak bisa ditangani seperti penderita ISPA biasa, kendati gejalanya hampir sama. Gejala pneumonia berupa batuk disertai sesak napas karena terjadi penarikan dinding dada bawah ke bagian dalam. Hanya, infeksi akut sudah terjadi pada jaringan paru-paru (alveoli). Infeksi ini menyebabkan peradangan pada paru-paru yang berdampak pada napas menjadi pendek dan lebih cepat.

    Infeksi pada jaringan paru-paru juga menyebabkan dahak kuning dan hijau yang menyertai batuk. Dada penderita akan terasa nyeri ketika batuk karena terjadi penarikan dinding dada ke bagian bawah tadi. "Jika kondisi ini dibiarkan, bisa menyebabkan kematian," kata Tintin Martini, yang ahli paru-paru. Meski bisa disembuhkan, pneumonia maupun penyakit ISPA ringan bisa kambuh. "Ini terjadi kalau penderita tidak memiliki kekebalan tubuh untuk melawan virus dan bakteri yang datang lagi," katanya.

    Cara paling aman menghindari ISPA dan pneumonia adalah melakukan pencegahan dini melalui pola hidup sehat. Kebutuhan istirahat yang cukup harus dipenuhi agar daya tahan tubuh terjaga dengan baik. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh sebaiknya banyak mengkonsumsi vitamin C dalam bentuk buah segar. Kebersihan lingkungan tak kalah pentingnya. "Sebaiknya udara yang kita hirup bukan udara yang penuh polusi," ujar Tintin.

    Udara kotor pula yang diduga sebagai penyebab merebaknya penyakit ISPA dan pneumonia di Tangerang, terutama di kawasan Balaraja. Menurut Dede Widyawati dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, udara di sana telah terpolusi oleh asap kendaraan bermotor dan pabrik. Soalnya, "Balaraja memang daerah industri," katanya.

    Arif Firmansyah, Joniansyah (Tangerang)


    Cara Penularan:

    1. Bakteri bisa berasal dari ludah penderita ISPA yang mengering.
    2. Debu dan udara bisa menjadi media pembawa bakteri.
    3. Bakteri masuk ke tubuh manusia melalui udara.
    4. Bakteri pembawa kuman ISPA akan mudah berkembang dalam tubuh yang daya tahannya lemah.

    Gejala Penderita:

    1. Suhu badan naik disertai demam, batuk, dan pilek.
    2. Terjadi infeksi saluran pernapasan dari hidung sampai paru-paru.
    3. Sesak napas.
    4. Bila dibiarkan, ini bisa menyerang jantung dan ginjal.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Ulang Tahun

Agama Cinta Islam-Kristen

Ulang Tahun

Jenderal (Purn.) Widodo Budidarmo, 77 tahun

Buku

Simbiosis Kiai-Blater

Catatan Pinggir

Pengebom

Tari

Dari Sebuah Ritus yang Ramai

TEMPO|interaktif

Tak Boleh Lagi Ada Sekolah Tahan Ijazah

Metro

Kisah Heroik Karyawan Minimarket Melawan Rampok

Gurandil Malang Tertimpa Longsor, 8 Tewas

Internasional

Ketika Toko Palestina Jual Produk Israel

Internasional

Perancis Tarik Pasukan dari Afganistan

Internasional

Pemilu Mesir, Islamis vs Sekuler ke Putaran Kedua

Internasional

Ini Pelajaran 'Kenali Musuhmu' Siswa Palestina  

Olahraga

Turun Minum, Barcelona Unggul 3-0 Atas Bilbao

Metro

Kopaja S13 Pekan Depan Lintasi Jalur Busway?

Sepuluh Persen Warga Taiwan Ternyata WNI  

Hasil Rapat MUI Soal Lady Gaga, Tegas Menolak

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif