• Home
  • 27 September 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Perjalanan
    • Layar
  • Seni
    • Fotografi
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 27 September 2004

    Evolusi Wajah Perempuan

    Perempuan dalam Wacana Politik Orde Baru
    Editor: Liza Hadiz
    Penerbit: Pustaka LP3ES, Agustus 2004
    Jumlah halaman: xxxvi + 464 halaman

    Jika kita mau jujur sedikit saja dalam melihat wajah buruk "pembangunan" Orde Baru, kita akan melihat wajah "perempuan" di sana. Ada pertumbuhan ekonomi, naiknya investasi luar dan dalam negeri, munculnya gedung-gedung megah, dan sederet indikator prestasi ekonomi lainnya yang ternyata berbanding terbalik dengan kemiskinan, rendahnya lapangan kerja dan pendidikan, juga tidak banyak berperannya perempuan dalam proses perubahan yang terjadi. Dan posisi marginal dan subordinasi juga terjadi di bidang-bidang seperti media dan sastra serta pengaturan negara dalam seksualitas. Itu kira-kira isi kumpulan tulisan pilihan mengenai perempuan di era Orde Baru yang pernah dimuat dalam jurnal Prisma.

    Meskipun demikian, wajah suram "perempuan" ini bukannya tanpa titik-titik kecerahan sama sekali. Tulisan Mely G. Tan, misalnya, melihat ada kemajuan dalam soal persamaan laki-laki dan perempuan—meski masih jauh dari soal integrasi sepenuhnya perempuan dalam usaha pembangunan. Statistik memperlihatkan bahwa jumlah perempuan terdidik naik tiga kali lipat dibandingkan dengan laki-laki, yang hanya dua kali lipat. Demikian juga partisipasi perempuan dalam lapangan kerja, yang meningkat secara signifikan di perkotaan. Kenyataan di pedesaan berbeda. Astrid Susanto menunjukkan keterlibatan perempuan dalam dunia kerja lebih bersifat imperatif, ikut membantu ekonomi keluarga, dan bahkan dalam banyak kasus menjadi tulang punggung ekonomi dan pendidikan anak dalam keluarga. Sementara itu, seperti bisa diduga, representasi perempuan dalam dunia sastra, novel, majalah, dan film tersubordinasi dan termarginalkan.

    Yang sangat provokatif adalah tulisan Julia Suryakusuma yang bicara bagaimana negara Orde Baru mengatur dan bahkan mengontrol seksualitas warganya yang menjadi aparat birokrasi (pegawai negeri) melalui cara yang berlapis. Dimulai dari dasar falsafah negara, berbagai tatanan organisasi dan peraturan yang menyertainya, dan khususnya organisasi Dharma Wanita sebagai organisasi istri pegawai negeri. Sementara itu, sejarawan Onghokham dan wartawan Linda Cristanty menulis soal perempuan dalam langgam sejarah yang penuh paradoks. Menurut Linda, di satu sisi perempuan dilihat sebagai bagian dari konsep pemilikan seperti konsep Nyai, tapi di sisi yang lain, melalui institusi budaya seperti ini, perempuan bisa memperlihatkan kepiawaiannya dalam mengelola berbagai masalah, mulai dari keluarga hingga perusahaan suami. Sebaliknya, Onghokham melihat bagaimana seksualitas sangat berkaitan secara konkret dengan aspek kekuasaan yang menjadi landasan sebuah dinasti atau kerajaan.

    Tapi harus disadari bahwa sebagian besar tulisan ini hadir di tahun 1970-an dan 1980-an, ketika wacana atau pemikiran yang muncul mengenai perempuan masih dilandasi asumsi bahwa perempuan tertinggal dalam proses-proses pembangunan. Karenanya, solusinya pun masih parsial dengan mengintegrasikan, yakni men-ciptakan kegiatan-kegiatan yang khas perempuan dalam pembangunan. Padahal, pembangun-an itu sendiri yang sebetulnya harus menjadi bagian dari atau ramah terhadap perempuan dengan melibatkan perempuan dalam setiap pengambilan keputusan dan adanya restrukturisasi di setiap institusi. Ini sebagaimana yang diamanatkan dalam Konferensi Perempuan Sedunia Keempat di Beijing (1995).

    Tulisan yang belakangan, seperti yang ditulis Ruth Indiah Rahayu, misalnya, sudah bicara melangkah dengan menawari perempuan menjadi bagian dari gerakan sosial, dan ini terlihat dalam gerakan-gerakan LSM perempuan, yang tidak hanya kritis terhadap kebijakan pembangunan Orde Baru, tapi juga menawarkan solusi alternatif yang lebih ramah perempuan. Yang patut dipuji memang tulisan editor, Liza Hadiz, yang secara baik memberikan wajah makro dari pembangunan dan perjalanan gerakan perempuan di tingkat internasional maupun domestik, baik dalam kemajuan isu dan rekomendasi dari Konferensi Perempuan Sedunia maupun perdebatan teoretis feminis yang bicara mengenai perempuan dengan segala dinamikanya. Bukunya yang sangat komprehensif ini, sayangnya, tidak dilengkapi dengan epilog yang menggambarkan situasi dan kondisi perempuan dewasa ini, dalam era reformasi dan krisis ekonomi, yang tentu akan sangat menarik dengan membandingkannya dengan masa Orde Baru.

    Nur Iman Subono, staf pengajar Jurusan Politik FISIP UI


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Evolusi Wajah Perempuan

Catatan Pinggir

Sosok

Album

PENGHARGAAN

Bung Hatta Award

Fotografi

Air Mata Sepotong Ikon

Layar

Dari Budakeling ke Akropolis

Kaki-Kaki Sutasoma

Durga di Museum Benaki

TEMPO|interaktif

4 Cara Sehat Agar Pengeluaran Pasangan Terpisah

Nasional

Polisi Berhenti Cari Amunisi Teroris di Kampus UI

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif