• Home
  • 27 September 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Perjalanan
    • Layar
  • Seni
    • Fotografi
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 27 September 2004

    Dia Tak Pernah Koma

    Sang suami yakin istrinya koma. Tetapi dokter menyatakan Agian terkena stroke. Dia masih bisa membuka mata, meski tatapannya kosong. Dia juga bisa merespons pertanyaan dan perintah, meski perlu waktu beberapa detik menunggu jawaban keluar dari mulutnya.

    Tempo melihat sendiri respons Agian, yang kini dirawat di kamar VIP Unit Stroke RSCM, pekan lalu. Ketika dokter mengajukan beberapa pertanyaan, ibu dua anak ini bisa menjawab. "Apakah Ibu lapar?" Jeda sesaat, lalu ia menjawab lirih, "Saya lapar." Agian juga bereaksi, meski lamban, ketika dokter memintanya menggerakkan kedua tangan dan kakinya.

    Prof. Dr. Yusuf Misbach, ahli saraf yang menangani Agian, memastikan ibu itu tidak koma. "Agian tidak pernah koma, tapi ia terkena stroke." Stroke terjadi akibat komplikasi hipertensi (tekanan darah tinggi) dan postpartum eclampsia (keracunan kehamilan). Pada Ibu Agian, keracunan kehamilan terjadi setelah ia melahirkan anak kedua melalui operasi caesar di Rumah Sakit Islam Bogor, Juli lalu.

    Agian sempat ditangani dokter dari Rumah Sakit PMI Bogor. Belakangan, ia dikirim ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dalam kondisi kaku dan tidak bisa bicara. Setelah melalui serangkaian tindakan medis dan pengobatan selama hampir satu bulan, kata Yusuf, masa akut stroke-nya sudah lewat. Kondisinya sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan saat pertama kali masuk.

    "Jadi, tidak benar Agian itu koma. Yang bilang koma kan suaminya," kata Yusuf. Panca Satrya Hasan, suami Agian, yakin istrinya koma ketika denyut nadinya lemah. Padahal, menurut Yusuf, koma adalah keadaan ketika pasien masih hidup tapi tidak bisa merespons dan tidak bisa bangun. Sedangkan Agian bisa membuka mata, menjerit, menjawab pertanyaan, bahkan dapat merespons perintah.

    Dalam dunia medis, koma terbagi dalam dua jenis, yaitu koma organik dan koma metabolik. Koma organik terjadi karena adanya gangguan kerusakan otak, baik pada kulit otak maupun batang otak. Misalnya seseorang terkena tumor otak, stroke, atau perdarahan otak akibat benturan atau kecelakaan lalu-lintas. Sedangkan koma metabolik disebabkan oleh gangguan metabolisme tubuh seperti demam, infeksi, penyakit lever, jantung, diabetes, dan sebagainya.

    Penderita koma metabolik punya kesempatan lebih besar untuk pulih dibandingkan dengan koma organik. Ini karena, pada koma metabolik, kerusakan metabolisme tubuh lebih mudah ditangani daripada kerusakan otak. Lamanya koma? "Tergantung penyebab koma," kata Salim. Di Jepang, pernah ada pasien koma sampai puluhan tahun setelah mengalami kecelakaan lalu-lintas. Seluruh kulit otaknya rusak, tapi batang otaknya masih jalan. Batang otak yang masih hidup dapat mempertahankan kesadaran seperti mengatur napas, detak jantung, dan bergerak. Karenanya, ia hidup seperti tumbuhan (vegetative state), bisa makan, menerima obat, tapi tidak bisa memberi respons dan tidak bisa bangun.

    Eni Saeni


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Evolusi Wajah Perempuan

Catatan Pinggir

Sosok

Album

PENGHARGAAN

Bung Hatta Award

Fotografi

Air Mata Sepotong Ikon

Layar

Dari Budakeling ke Akropolis

Kaki-Kaki Sutasoma

Durga di Museum Benaki

TEMPO|interaktif

Sebelum Tabrakan Cisarua, Penumpang Ingatkan Sopir

Izin Operasi Bus Maut di Cisarua Dicabut

Nasional

Faisal-Biem Merasa Dijegal Aturan KPU DKI

Nasional

Partai Demokrat Segera Pecat Kader Bermasalah

Olahraga

Kisah Perempuan Afganistan di Ring Tinju Olimpiade

Olahraga

Mali Juara Ketiga Piala Afrika 2012

Rentetan Kecelakaan di Jalan Raya Awal 2012

Nasional

Jokowi: Jangan Sampai Pemimpin Itu Melow

Olahraga

Barca Ditekuk Osasuna 3-2

Olahraga

Persib ke Papua Bukan untuk Mengalah

Olahraga

Wenger: Henry Seorang Legenda

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif