• Home
  • 27 September 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Perjalanan
    • Layar
  • Seni
    • Fotografi
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 27 September 2004

    Kaki-Kaki Sutasoma

    Budakeling, desa adat di Kabupaten Karang Asem itu, tak memperlihatkan tanda-tanda keistimewaannya. Kawasannya berdebu, suasana malah terasa agak kering. Bayangan menemukan suasana purbawi, pepohonan asri, dan sawah-sawah berundak meleset.

    Kita baru merasakan sejuk ketika menapak Bukit Hyang Pinggan. Dari perempatan utama desa, kita belok kanan menuju pos pengamatan Gunung Agung. Tak jauh dari pos, terdapat Pura Puncak Sari. Panorama hijau terbentang di bawah. Siang hari pun begitu lengang. Salak anjing dari bawah terdengar seperti bergema.

    Betapapun dari luar tampak biasa, desa ini memiliki peran unik dalam kehidupan spiritual Bali. Inilah desa satu-satunya di Bali yang menjadi pusat pedanda Hindu aliran Buddha. Peran penting mereka tecermin pada upacara Eka Dasa Rudra, yang dilaksanakan 100 tahun sekali. Ini adalah upacara pengusiran bhutakala besar-besaran.

    Pedanda Hindu aliran Buddha dari Budakeling pada momen itu akan duduk di tengah-di antara pedanda Hindu aliran Siwa dan pedanda Hindu aliran Bhujanga. Semuanya mengucapkan mantra, menabur bunga, menyanyi puja. Tapi tugas khusus bagi pedanda Buddha adalah memimpin ritus Yamaraja, yang konon sangat sakral dan rumit karena Sang Hyang Yamaraja adalah simbol raja kematian. Pada upacara Tawur Eka Dasa Rudra tahun 1978 di Pura Besakih, yang mewakili pedanda Budakeling adalah paman Granoka, Ida Pedanda Gde Nyoman Jelantik.

    Asal-usul desa ini harus ditengok kembali pada abad ke-15. Penguasa Gelgel, Sri Waturenggong, meminta pandita dari Jawa Timur untuk memimpin upacara Homa di Puri Gelgel. Datanglah Danghyang Astapaka dari Desa Keling, yang merupakan cicit Mpu Tantular pengarang Sutasoma. Ia lalu tinggal di istana. Tapi, karena suatu sebab, Astapaka pergi berkelana.

    Ia berjalan ke arah utara dan sesampai di Bukit Penyu ia istirahat. Konon di kejauhan ada seberkas sinar yang memancar dari bumi. Serta-merta Astapaka melakukan samadhi, meminta petunjuk mencari lokasi itu untuk mendirikan pasraman, tempat suci. Begitu ketemu, ia langsung menancapkan tongkat kayu yang syahdan tumbuh terus menjadi pohon tanjung. "Ini adalah pohon tanjung itu," Dayu Ani menunjuk ketika kami sampai di Pura Taman Tanjung. Pelatarannya luas dan penuh kerikil.

    Dahulu kesenian marak di Budakeling. "Gambuh dari pintu ke pintu," Granoka mengenang. Namun, sekarang hilang. Itu yang membuatnya prihatin. Dan tekadnya adalah menggali seluruh elemen desanya untuk Bajra Sandhi. "Sering jam empat pagi kami jalan ke Pura Puncak Sari," tutur Dayu Ani. Bila kita saksikan penampilan Bajra yang selalu penuh simbol-simbol rajah, tak lain itu berasal dari penggalian tradisi rajah-Budakeling yang unik. Budakeling memiliki tradisi membuat rajah untuk upacara Ngaben, perkawinan, atau kurban. Desa memiliki koleksi kuno diagram rajah dan aksara yang disebut Kajang Sutasoma. Penuh simbol mistik: kura-kura, naga.

    Ketika konflik muncul di tanah air, Granoka menggagas "Tujuh Abad Sutasoma". Ia menganggap roh utama Sutasoma adalah toleransi. Sebuah ritual Homa Jambala samadhi, seperti yang pernah diadakan leluhur mereka, Astapaka, diadakan. Berduyun-duyun warga empat penjuru desa-Desa Komala, Tohpati, Saren, Ababi-datang. Bahkan komunitas Islam di Dusun Saren juga ikut. Mereka keturunan Kiai Jalil, sosok yang diutus penguasa Demak ke Puri Gelgel zaman Waturenggong.

    Di depan pura, para pandita membaca Sutasoma. Bajra Sandhi tampil dan Made Gentorang, anak bungsu Granoka, memainkan wayang. Bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa-kata-kata itu sudah menjadi jargon. Dan Granoka memilih "eksperimen" konkret menanamkan elemen harmoni Sutasoma bagi anak-anak sedari dini.

    Tak letih. Meski sudah di Denpasar, tiap minggu ia datang ke pendapa Saren, desa perbatasan. Ia melatih yoga, gamelan, kidung kepada anak-anak setempat. Jarak Denpasar-Budakeling cukup jauh. "Saya dan Bapak boncengan sepeda motor," kata Dayu Ani. Menancapkan kaki-kaki Sutasoma ke dalam kalbu anak-anak di tengah era MTV begini memang sebuah ikhtiar langka.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Evolusi Wajah Perempuan

Catatan Pinggir

Sosok

Album

PENGHARGAAN

Bung Hatta Award

Fotografi

Air Mata Sepotong Ikon

Layar

Dari Budakeling ke Akropolis

Kaki-Kaki Sutasoma

Durga di Museum Benaki

TEMPO|interaktif

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif