Mereka bekerja diam-diam. Mencatat, tanpa suara. Di belakangnya, bahasa yang terancam hapus dari muka bumi. Di hadapannya, keterbatasan modal dan sempitnya publikasi yang sekonyong-konyong bisa memadamkan semangat. Nun jauh di pulau-pulau terpencil, para penulis kamus itu mengais-ngais kata. Majalah ini mencoba merekam sebagian kecil kepahlawanan mereka. Tentu banyak yang tak tercatat. Tapi itulah dunia penting, teramat penting, yang jarang dikunjungi.
Kolonialisme Eropa dan nasionalisme negara baru adalah dua sosok yang punya andil besar melenyapkan bahasa-bahasa lokal. Satu kemungkinan lagi: Internet.