• Home
  • 18 Oktober 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Musik
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 18 Oktober 2004

    Lintas Internasional

    Irak Ladang Pembantaian di Sebuah Sungai

    Bukti kekejaman itu menyeruak dari sebuah sungai kering. Setelah berhari-hari melakukan penggalian, tim dari Mahkamah Khusus Irak menemukan kuburan massal di bawah sungai kering di Hatra, Irak Utara. Di lubang itulah tertimbun tulang-belulang wanita dan anak-anak, juga tulang pria dewasa. Di antara onggokan tulang, menyembul rangka seorang ibu dalam posisi masih memeluk anaknya saat dibantai. Ibu malang itu ditembak di wajah, sedangkan anaknya di bagian belakang kepala. "Ini adalah ladang pembantaian," kata Greg Kehoe, penyidik Amerika yang pernah ikut mengusut pembantaian etnis di Balkan dan sekarang be-kerja untuk Mahkamah Khu-sus Rakyat Irak.

    Mahkamah Khusus memastikan, ladang pembantaian ini akan menjadi salah satu bukti untuk menyeret Saddam Hussein dengan tuduhan melakukan pembantaian massal. Selama berkuasa sebagai presiden Irak, Saddam diduga telah membunuh sedikitnya 300 ribu orang, khususnya rakyat Kurdi.

    Zimbabwe Pemimpin Oposisi Lolos Hukuman Mati

    Kematian memilih untuk menjauhi pemimpin oposisi Morgan Tsvangirai. Dia adalah pemimpin Partai Gerakan untuk Perubahan Demokratis, yang dituduh berencana membunuh Presiden Zimbabwe Robert Mugabe. Tuduhan didasarkan atas sebuah rekaman film yang dibuat secara diam-diam oleh Ari Ben-Menashe, konsultan Tsvangirai saat itu. Dalam rekaman terungkap bahwa Ben-Menashe mengaku diminta menyiapkan pembunuhan. Untuk tuduhan berat ini, Tsvangirai diancam hukuman mati.

    Namun, Jumat pekan lalu, Pengadilan Tinggi Harare, membebaskan Tsvangirai. Menurut hakim Paddington Garwe, bukti rekaman tidak cukup kuat untuk mendasari tuduhan itu.

    Sebetulnya, sejak sidang dimulai 20 bulan lalu, Tsvangirai mati-matian menyangkal tuduhan. Ia juga menyebut Ben-Menashe sebagai antek pemerintahan Mugabe yang disusupkan untuk menjebaknya. Dunia sampai saat ini tidak mengakui pemerintahan Mugabe. Pemimpin berusia 80 tahun itu dinilai mencuri ke-menangan Tsvangirai—penantang paling serius selama dua dekade kekuasaannya—dalam pemilu 2002.

    Sudan Darfur Masih Neraka

    Presiden Sudan Omar al-Bashir sudah berkali-kali berjanji akan lebih serius menangani krisis di negerinya. Namun, janji ini tak kunjung terbukti. Sampai sekarang, kekerasan di Darfur, Sudan Selatan, terus terjadi. Gelombang perampokan dan pembantaian terus berlangsung hingga menambah deras arus pengungsi. Dalam sebulan terakhir, tercatat sedikitnya 220 ribu jiwa pengungsi tambahan yang berebut keluar dari neraka Darfur.

    Kekerasan di Darfur terjadi setelah pada Februari tahun lalu tiga suku asli Afrika bersatu membentuk Tentara Pembebasan Sudan. Mereka angkat senjata melawan pemerintahan Khartoum. Pemberontakan ini berbuntut pembersihan etnis oleh tentara pemerintah yang didukung milisi berkuda Arab, Janjawid. Sampai sekarang, tercatat 50 ribu warga tewas di Darfur, 1,45 juta orang menghuni kamp-kamp pengungsian, dan 200 ribu memilih menyingkir ke negara tetangga, Chad.

    Nigeria Produksi Minyak Terancam Berhenti

    Aksi mogok kerja di Nigeria menuntut dibatalkannya kenaikan harga bahan bakar merembet ke industri vital, minyak. Serikat pekerja minyak terbesar di Nigeria, NUPENG, mengancam akan menggabungkan diri dalam aksi yang mulai digelar Senin lalu itu. Aksi besar-besaran ini praktis membuat Nigeria lumpuh. Presiden NUPENG, Peter Akpatason, mengisyaratkan ekspor industri minyak juga akan ikut terhenti bila pemerintah terus menanggapi aksi dengan penangkapan. "Saat ini kami masih membiarkan beberapa aspek penting operasional produksi dan ekspor terus berjalan," kata Akpatason.

    Nigeria berada di urutan ketujuh negara pengekspor minyak terbesar di dunia dengan tingkat produksi lebih dari 2,5 juta barel per hari. Namun, rakyat Nigeria yang sebagian besar miskin memprotes kebijakan pemerintah menghentikan subsidi minyak dalam negeri setahun lalu. Sebagai negara kaya minyak, mereka merasa berhak atas harga bensin yang murah. Aksi kali ini adalah untuk yang ketiga kalinya.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Selamat Datang, Novel Grafis

Banyak Nama Menuju Komik

Catatan Pinggir

Sayu

Tari

Perbatasan Telanjang Kim Itoh

TEMPO|interaktif

Nasional

Menteri Nuh: Daripada Lady Gaga, Mending Bee Gees

Nasional

KPK Mulai Usut Duit Kongres Demokrat

Nasional

Rekor Buncit Kelulusan di NTT Akibat Jebloknya Nilai IPA

Teknologi

Mengapa Kopi Hangat Tidak Enak?

Nasional

Seluruh Siswa di Empat SMA Ini Tak Lulus UN

Nasional

Ini 10 Siswa SMA dan SMK Peraih Nilai UN Tertinggi

Metro

Waspada, Penjahat Bersenjata Api Merajalela

Olahraga

Barcelona Juara Copa del Rey

Tak Boleh Lagi Ada Sekolah Tahan Ijazah

Metro

Kisah Heroik Karyawan Minimarket Melawan Rampok

Gurandil Malang Tertimpa Longsor, 8 Tewas

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif