• Home
  • 25 Oktober 2004
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
    • Etalase
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
    • Perjalanan
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 25 Oktober 2004

    Zarqawi: Teroris atau Dalih

    Kota Fallujah terlihat lengang. "Sebagian besar penduduk, 90 persen, meninggalkan kota," ujar Mustafa Shawket, pemilik pabrik aluminium yang meninggalkan kota menuju Bagdad. Selasa siang pekan lalu, terlihat antrean panjang di jalan raya yang menghubungkan Fallujah dengan ibu kota Irak itu.

    Eksodus itu berlangsung menyusul ancaman Perdana Menteri Iyad Allawi kepada pemimpin Kota Fallujah: menyerahkan orang yang paling dicari militer Amerika Serikat di Irak, Abu Musab al-Zarqawi, atau menghadapi serangan militer. Pemerintah Amerika dan Irak memang percaya, pemimpin kelompok Tawhid wal Jihad itu bersembunyi di kota itu.

    Tapi serangan militer sebenarnya sudah berlangsung lebih lama, sebelum adanya ultimatum tersebut. Sementara Allawi mengancam, Amerika sudah makin rajin mengirim pesawat pengebom ke kota itu. Tak mengherankan bila Mustafa dan rekan sekotanya merasa tak bisa tinggal lebih lama di situ.

    Saat Mustafa sampai di Bagdad, pesawat Amerika kembali menggelar serangan bom di Fallujah pada tengah malam. Bom menghantam sejumlah bangunan yang diduga tempat persembunyian gerilyawan yang berhubungan dengan kelompok Zarqawi. Namun, akibat pengeboman itu banyak penduduk sipil tewas, termasuk anak-anak. Tak satu pun ada korban militan yang ditemukan.

    Nyaris tiap malam selama dua bulan terakhir Amerika menggelar serangan udara di Fallujah dengan dalih menghancurkan jaringan Abu Musab al-Zarqawi. Dalam beberapa hari ini marinir Amerika bergerak semakin dekat ke kota untuk memaksa gerilyawan keluar dari persembunyian. Sekelompok kecil marinir melakukan patroli di jalan raya Fallujah-Bagdad. Mereka mendirikan pos penjagaan, menggeledah mobil, dan terus bergerak setelah 15 hingga 20 menit.

    Serangan makin gencar mulai Kamis dua pekan lalu, setelah ulama Fallujah berkeras menyatakan bahwa Zarqawi tak ada di kota itu dan menolak tuntutan menyerahkan Zarqawi. Tapi serangan terus-menerus Amerika membuat dewan ulama Fallujah mulai memilih bernegosiasi dengan Amerika. Kelompok ulama mengutus Syekh Khaled al-Jumeili berunding dengan Amerika dan pemerintah Irak. Tapi, anehnya, militer Amerika menangkap Syekh Khaled seusai salat di masjid di kawasan selatan Fallujah. Memang belakangan Khaled dilepas berkat campur tangan Perdana Menteri Iyad Allawi, tapi ulama Fallujah menangguhkan perundingan sebagai protes terhadap penangkapan itu.

    Penangkapan itu juga mengisyaratkan ketidakjelasan itikad Amerika: benarkah mereka ingin menangkap Zarqawi, atau Zarqawi hanya dalih agar mereka bisa sesuka hati menjatuhkan bom di kota itu, membunuh anak-anak dan penduduk sipil tak berdosa?

    Dengan atau tanpa Zarqawi, Fallujah merupakan tempat perlawanan paling sengit terhadap pasukan pendudukan Amerika. Sebagian besar kelompok militan Irak bermarkas di sana. Tapi tak ada satu pun milisi yang menguasai seluruh kota. Kekuasaan justru berada di tangan ulama radikal dan pasukan mereka, mujahidin, setelah marinir Amerika melepaskan pengepungan selama tiga pekan pada April lalu.

    Saat matahari terduduk di horizon, marinir Amerika tak menemukan senjata atau gerilyawan. Justru mereka menghadapi warga Fallujah yang tak bersahabat. "Kiamatnya Amerika ada di Fallujah," kata Ghazi Muhammad Ibrahim, warga kota itu.

    RFX (LA Times, NYT, BBC)


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Album

Buku

Di Bayang Surga yang Hilang

George Negus, Jembatan Dua Dunia

Catatan Pinggir

Pulung

Seni Rupa

Aktor 'Mime' di Panggung Seni Rupa

TEMPO|interaktif

Olahraga

Inter Milan Rintis Sekolah Bola di Jakarta

Nasional

Di Yogya Para Menteri Masuk Istana, Dahlan Pilih ke Pabrik Gula

Nasional

Menteri Nuh: Daripada Lady Gaga, Mending Bee Gees

Nasional

KPK Mulai Usut Duit Kongres Demokrat

Nasional

Rekor Buncit Kelulusan di NTT Akibat Jebloknya Nilai IPA

Teknologi

Mengapa Kopi Hangat Tidak Enak?

Nasional

Seluruh Siswa di Empat SMA Ini Tak Lulus UN

Nasional

Ini 10 Siswa SMA dan SMK Peraih Nilai UN Tertinggi

Metro

Waspada, Penjahat Bersenjata Api Merajalela

Olahraga

Barcelona Juara Copa del Rey

Tak Boleh Lagi Ada Sekolah Tahan Ijazah

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif